Meski sering kali bersifat sementara, susah BAB saat traveling bisa membuat perut terasa penuh, kembung, dan liburan menjadi kurang nyaman. Untuk mengatasinya, kamu bisa menjaga asupan serat dan cairan serta tidak menunda keinginan untuk buang air besar.
Supaya liburan kamu tetap nyaman tanpa ada gejala gangguan pencernaan, ketahui dulu penyebab susah BAB dan cara mengatasinya di bawah ini!
Apa Saja Penyebab Susah BAB saat Traveling?
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), sembelit dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk perubahan pola makan dan rutinitas sehari-hari. Berikut beberapa penyebab susah BAB yang perlu kamu ketahui saat bepergian.
1. Perubahan Rutinitas Harian
Pada dasarnya, tubuh memiliki ritme alami yang membantu mengatur berbagai proses, termasuk pencernaan. Ketika traveling, jadwal harian biasanya ikut berubah. Kamu mungkin harus bangun lebih pagi untuk mengejar pesawat, makan pada waktu yang berbeda, atau tidur lebih larut karena mengikuti agenda perjalanan. Perubahan ini dapat memengaruhi kebiasaan BAB yang biasanya sudah teratur.
Maka, saat jadwal makan dan tidur berubah secara mendadak, kebiasaan BAB bisa ikut terganggu. Akibatnya, kamu mungkin tidak merasa ingin BAB pada waktu yang biasanya atau justru mengalami sembelit selama beberapa hari.
2. Kurang Minum Air Putih
Saat sibuk berpindah dari satu tempat wisata ke tempat lain, minum air putih terkadang menjadi hal yang terlupakan. Kamu juga mungkin sengaja mengurangi minum karena khawatir sulit menemukan toilet selama perjalanan.
Padahal, cairan membantu menjaga tinja tetap lunak sehingga lebih mudah dikeluarkan. Ketika tubuh kekurangan cairan, usus besar akan menyerap lebih banyak air dari sisa makanan. Akibatnya, tinja menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.
Menurut Cleveland Clinic, dehidrasi merupakan salah satu faktor yang dapat memicu sembelit saat traveling. Risiko ini bisa meningkat ketika kamu melakukan perjalanan panjang, berada di tempat bercuaca panas, atau lebih banyak beraktivitas daripada biasanya.
3. Asupan Serat Berkurang
Menjelajahi kuliner lokal sering menjadi tujuan utama saat liburan. Namun, terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji, camilan kemasan, roti olahan, atau hidangan yang minim sayur dan buah dapat membuat asupan serat berkurang.
Jika kebutuhan serat tidak terpenuhi, tinja bisa bergerak lebih lambat melalui usus dan menjadi lebih sulit dikeluarkan. Hal ini karena serat berfungsi untuk membantu menambah volume tinja dan mendukung kelancaran proses BAB.
Meski begitu, kamu tidak harus menghindari makanan khas di tempat tujuan. Cobalah menyeimbangkan pilihan makanan dengan buah, sayuran, kacang-kacangan, atau biji-bijian utuh agar asupan serat tetap terjaga.
4. Terlalu Lama Duduk Selama Perjalanan
Perjalanan menggunakan mobil, bus, kereta, atau pesawat sering membuat kamu duduk selama berjam-jam. Belum lagi waktu tunggu di bandara atau stasiun yang bisa membuat aktivitas fisik berkurang.
Padahal, bergerak secara teratur membantu mendukung pergerakan usus. Ketika kamu terlalu lama duduk dan jarang berjalan, proses pengeluaran tinja bisa menjadi kurang lancar, terutama jika disertai kurang minum dan perubahan pola makan.
Kondisi ini tidak berarti kamu harus terus berdiri selama perjalanan. Jika memungkinkan, sempatkan berjalan sebentar saat berhenti di rest area atau ketika sudah tiba di tujuan. Gerakan ringan dan peregangan juga bisa menjadi pilihan selama situasinya aman.
5. Menahan Keinginan untuk BAB
Tidak semua toilet umum terasa nyaman digunakan. Terkadang kita bisa merasa kurang leluasa menggunakan toilet di rest area, bandara, atau tempat wisata yang ramai. Akhirnya, keinginan untuk BAB ditunda sampai menemukan toilet yang dirasa lebih nyaman.
Kebiasaan menahan BAB dapat membuat tinja semakin lama berada di usus besar. Semakin lama tinja berada di sana, semakin banyak air yang diserap sehingga tinja bisa menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.
Jika sudah merasa ingin BAB, usahakan mencari toilet yang layak dan tidak menundanya terlalu lama. Kamu juga bisa menyisihkan waktu untuk ke toilet sebelum memulai perjalanan panjang atau sebelum mengikuti agenda wisata yang padat.
6. Stres dan Perubahan Lingkungan
Meski tujuannya untuk bersantai, traveling juga bisa menimbulkan stres. Misalnya, kamu khawatir terlambat mengejar transportasi, harus menyesuaikan diri dengan tempat baru, atau merasa tidak nyaman menggunakan toilet di luar rumah.
Stres dan kecemasan dapat memengaruhi kerja sistem pencernaan. Selain itu, perubahan lingkungan dan jadwal yang padat dapat membuat kamu kurang memperhatikan sinyal tubuh, termasuk saat ingin BAB.
Cobalah menyusun jadwal perjalanan yang tidak terlalu padat dan menyediakan waktu istirahat. Jika memungkinkan, pertahankan kebiasaan pagi yang biasa dilakukan di rumah, seperti sarapan dan meluangkan waktu ke toilet sebelum memulai aktivitas.
Cara Mengatasi Susah BAB saat Traveling
Berikut beberapa cara yang dapat kamu coba untuk membantu melancarkan BAB selama perjalanan.
1. Cukupi Kebutuhan Cairan
Pastikan kamu membawa botol minum dan mengisi ulang air putih secara berkala. Minumlah secara teratur sepanjang hari, terutama ketika melakukan perjalanan panjang atau beraktivitas di tempat yang panas.
Kebutuhan cairan setiap orang berbeda, bergantung pada kondisi tubuh, tingkat aktivitas, dan cuaca. Karena itu, jangan hanya mengandalkan rasa haus sebagai pengingat untuk minum.
2. Tetap Konsumsi Makanan Berserat
Jika selama perjalanan kamu jarang makan sayur dan buah, tingkatkan asupan serat secara bertahap agar tubuh dapat menyesuaikan diri. Kamu bisa memilih buah seperti pepaya, pir, jeruk, atau apel, serta sayuran, oatmeal, kacang-kacangan, dan roti gandum utuh. Jangan lupa minum cukup air karena serat membutuhkan cairan untuk membantu melunakkan tinja.
Kamu tetap bisa menikmati makanan khas setempat. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan menu, bukan membatasi semua makanan yang ingin dicoba.
3. Sempatkan Bergerak Secara Teratur
Tidak perlu melakukan olahraga berat untuk tetap aktif selama traveling. Berjalan kaki saat mengunjungi tempat wisata, melakukan peregangan ringan setelah duduk lama, atau berjalan sebentar saat berhenti di rest area bisa membantu mengurangi waktu duduk yang terlalu panjang.
Jika perjalanan menggunakan pesawat atau kereta berlangsung lama, bergeraklah ketika situasi memungkinkan dan aman. Setelah tiba di tempat tujuan, kamu juga bisa memilih berjalan kaki untuk jarak yang dekat jika kondisi lingkungan mendukung.
4. Jangan Menunda Keinginan untuk BAB
Berikan waktu yang cukup untuk menggunakan toilet tanpa terburu-buru. Jika biasanya kamu BAB pada pagi hari, cobalah mempertahankan kebiasaan tersebut dengan bangun sedikit lebih awal, sarapan, lalu meluangkan waktu ke toilet sebelum memulai agenda.
Setelah makan, usus secara alami dapat menjadi lebih aktif. Karena itu, mencoba ke toilet setelah sarapan bisa membantu sebagian orang membangun rutinitas BAB. Namun, hindari mengejan terlalu keras atau duduk terlalu lama jika tinja belum keluar.
5. Siapkan Kebutuhan Pribadi agar Lebih Nyaman
Jika kamu merasa tidak nyaman menggunakan toilet umum, sebaiknya coba untuk menyiapkan perlengkapan kebersihan pribadi yang dapat membantu membuat pengalaman ke toilet terasa lebih nyaman.
Cari tahu juga lokasi toilet saat akan mengunjungi tempat yang jauh dari fasilitas umum. Persiapan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa membantu kamu lebih tenang dan tidak menahan BAB hanya karena khawatir kesulitan menemukan toilet.
6. Kenali Kapan Harus Mencari Bantuan Medis
Susah BAB saat traveling sering kali bersifat sementara dan dapat membaik setelah rutinitas kembali normal. Namun, jangan menganggap semua keluhan sembelit bisa diatasi sendiri.
Segera cari bantuan medis jika sembelit disertai nyeri perut yang berat atau terus-menerus, muntah, perut membengkak, tidak bisa buang angin, atau terdapat darah pada tinja. Kamu juga perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika keluhan tidak membaik dengan perawatan mandiri, sering berulang, atau disertai penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Beberapa penyebab susah BAB saat traveling bisa berasal dari banyak hal, mulai dari perubahan rutinitas, kurang minum, asupan serat yang rendah, hingga kebiasaan menahan BAB. Dengan menjaga pola makan hingga mencukupi cairan, tentunya kamu dapat membantu menjaga kenyamanan pencernaan selama liburan.
Selain menjaga kesehatan selama perjalanan, mempersiapkan perlindungan perjalanan juga dapat menjadi bagian dari rencana liburan dan kehidupan sehari-hari. Salah satu yang bisa kamu pertimbangkan adalah Allianz TravelPro, solusi asuransi perjalanan yang komprehensif dan fleksibel, yang kini juga bisa kamu beli secara online melalui OptimAll.
Perlindungan perjalanan ini memberikan manfaat mulai dari perlindungan medis, evakuasi dan repatriasi medis darurat, penundaan penerbangan, kehilangan bagasi, hingga berbagai ketidaknyamanan lainnya yang dapat terjadi selama perjalanan ke dan dari destinasi tujuan.
Pelajari manfaat, ketentuan, dan pengecualian polis masing-masing agar kamu dapat memilih perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan.