Sebenarnya, frekuensi BAB setiap orang bisa berbeda. Ada yang BAB setiap hari, sementara yang lain mungkin hanya beberapa kali dalam seminggu. Karena itu, tidak BAB setiap hari belum tentu berarti mengalami sembelit.
Namun, jika frekuensi BAB menjadi jauh lebih jarang dari biasanya, tinja terasa keras atau kering, perlu mengejan, terasa sakit saat BAB, atau masih merasa seperti belum tuntas setelah dari toilet, kondisi tersebut bisa mengarah pada konstipasi, menurut NIDDK.
Jika susah BAB tergolong ringan dan tidak disertai tanda bahaya, perubahan kebiasaan dapat dicoba terlebih dahulu. Namun, konstipasi yang berlangsung lama atau disertai gejala tertentu perlu dikonsultasikan untuk mengetahui penyebabnya.
Karena itu, ketahui bagaimana cara mengatasi susah BAB serta penyebab nya agar kejadian serupa dapat kamu hindari atau setidaknya risiko yang dialami bisa berkurang.
7 Cara Mengatasi Susah BAB yang Aman
Jika konstipasi masih tergolong ringan dan tidak disertai tanda bahaya, beberapa perubahan kebiasaan berikut dapat dicoba untuk membantu membuat BAB lebih teratur.
1. Tambahkan Makanan Berserat secara Bertahap
Mulailah dengan menambahkan sumber serat ke dalam menu sehari-hari. Beberapa pilihan yang bisa dikonsumsi antara lain sayuran, buah, kacang-kacangan, oatmeal, roti gandum, dan jenis biji-bijian utuh.
Tidak perlu langsung menambah serat dalam jumlah besar. Peningkatan yang terlalu cepat justru dapat menyebabkan perut kembung atau banyak gas. Tambahkan serat secara bertahap sambil memastikan asupan cairan tetap cukup.
2. Pastikan Kebutuhan Cairan Terpenuhi
Minum air secara rutin sepanjang hari dapat membantu menjaga tinja tetap lebih lunak. Hal ini menjadi semakin penting ketika kamu meningkatkan konsumsi serat karena cairan membantu serat bekerja dengan baik.
Namun, kebutuhan cairan setiap orang berbeda. Jika memiliki kondisi kesehatan tertentu yang mengharuskan pembatasan cairan, konsultasikan kebutuhan minum dengan dokter.
3. Lebih Aktif Bergerak
Cobalah memasukkan aktivitas fisik ke dalam rutinitas harian. Jalan kaki, bersepeda santai, olahraga ringan, atau aktivitas fisik lain yang sesuai kondisi tubuh dapat membantu menjaga pergerakan usus.
Jika selama ini lebih banyak duduk, kamu bisa memulainya secara sederhana. Misalnya, berjalan sebentar setelah makan atau menyempatkan diri berdiri dan bergerak di sela pekerjaan.
4. Buat Jadwal BAB yang Lebih Teratur
Kamu dapat mencoba menyediakan waktu khusus untuk BAB setiap hari, misalnya setelah sarapan. Setelah makan, aktivitas saluran pencernaan dapat meningkat sehingga waktu tersebut bisa menjadi kesempatan yang baik untuk membangun kebiasaan BAB.
Saat berada di toilet, jangan terburu-buru. Menggunakan pijakan kecil untuk kaki juga dapat membantu membuat posisi saat BAB lebih nyaman bagi sebagian orang.
5. Jangan Menahan Keinginan untuk BAB
Ketika sudah muncul dorongan untuk BAB, usahakan segera menggunakan toilet. Terlalu sering mengabaikan sinyal tersebut dapat membuat kebiasaan BAB menjadi semakin tidak teratur.
6. Perhatikan Obat dan Suplemen yang Dikonsumsi
Jika susah BAB muncul setelah mulai mengonsumsi obat atau suplemen tertentu, catat kapan keluhan dimulai dan konsultasikan kepada dokter atau apoteker.
Jangan menghentikan obat yang diresepkan hanya karena mengalami konstipasi tanpa berkonsultasi terlebih dahulu. Dokter dapat membantu menentukan apakah obat tersebut menjadi penyebab dan apakah ada alternatif yang lebih sesuai.
7. Gunakan Obat Pencahar dengan Bijak
Obat pencahar memang dapat digunakan pada kondisi tertentu, tetapi sebaiknya tidak menjadi solusi utama setiap kali mengalami susah BAB. Jenis obat pencahar juga berbeda-beda dan tidak semuanya cocok untuk setiap orang.
Jika perubahan pola makan dan kebiasaan belum membantu, dokter atau apoteker dapat membantu menentukan apakah obat pencahar diperlukan dan jenis yang sesuai.
Namun, apabila sudah sering membutuhkan pencahar agar bisa BAB, sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter.
Apa Penyebab Susah BAB?
Susah BAB dapat dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari maupun kondisi kesehatan tertentu. Bahkan, seseorang bisa mengalami beberapa faktor sekaligus. Berikut ini beberapa penyebab umumnya:
1. Kurang Mengonsumsi Serat
Serat membantu menambah volume tinja dan membuatnya lebih mudah bergerak melalui saluran pencernaan. Jika makanan sehari-hari lebih banyak terdiri dari makanan rendah serat, seperti makanan olahan, sementara konsumsi sayur masih sedikit, hal tersebut dapat meningkatkan risiko konstipasi.
Meski kebutuhan setiap orang dapat berbeda, namun umumnya, orang dewasa membutuhkan sekitar 22–34 gram asupan serat per hari. Jika ingin meningkatkan asupan serat, lakukan secara bertahap agar tubuh dapat menyesuaikan diri.
2. Kurang Minum
Kekurangan cairan dapat membuat tinja menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. Kondisi ini bisa semakin terasa jika asupan serat sudah meningkat tetapi kebutuhan cairan tidak ikut terpenuhi.
Karena itu, selain memperbanyak makanan berserat, pastikan tubuh mendapatkan cukup cairan sepanjang hari. Kebutuhan air minum dapat berbeda-beda tergantung aktivitas, kondisi tubuh, cuaca, dan faktor lainnya.
3. Jarang Bergerak
Kebiasaan terlalu banyak duduk dan kurang melakukan aktivitas fisik juga dapat berkontribusi terhadap susah BAB. Aktivitas fisik secara rutin dapat membantu menjaga pergerakan usus sehingga BAB menjadi lebih teratur.
Hal ini tidak berarti harus melakukan olahraga berat. Berjalan kaki, melakukan peregangan, atau lebih sering berdiri setelah duduk cukup lama dapat menjadi bagian dari kebiasaan yang lebih aktif.
4. Sering Menahan Keinginan untuk BAB
Pernah merasa ingin BAB tetapi memilih menundanya karena sedang bekerja, berada di perjalanan, atau tidak nyaman menggunakan toilet umum? Jika sering dilakukan, kebiasaan tersebut dapat membuat pola BAB menjadi semakin tidak teratur.
Ketika tubuh memberikan sinyal ingin BAB, sebisa mungkin jangan menundanya terlalu lama. Merespons dorongan BAB dapat membantu membangun kebiasaan buang air besar yang lebih teratur.
5. Perubahan Rutinitas atau Sedang Bepergian
Susah BAB juga bisa muncul ketika rutinitas berubah, misalnya saat traveling. Perubahan pola makan, jam tidur, aktivitas, dan kebiasaan menggunakan toilet dapat memengaruhi pola BAB.
Karena itu, orang yang biasanya BAB dengan lancar di rumah bisa saja mengalami konstipasi ketika sedang bepergian. Kondisi ini umumnya perlu dilihat bersama faktor lain, seperti kurang minum, kurang bergerak, atau perubahan pola makan.
6. Efek Samping Obat atau Suplemen
Beberapa obat dan suplemen dapat menyebabkan atau memperburuk konstipasi. Contohnya termasuk obat pereda nyeri tertentu, beberapa obat untuk tekanan darah, obat tertentu untuk gangguan saraf, antasida yang mengandung kalsium atau aluminium, serta suplemen zat besi.
Jika susah BAB mulai muncul setelah menggunakan obat atau suplemen tertentu, jangan langsung menghentikan penggunaannya sendiri. Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui apakah obat tersebut memang berpengaruh dan apakah diperlukan perubahan dosis atau pilihan obat lain.
Kapan Susah BAB Perlu Diperiksakan ke Dokter?
Namun, susah BAB yang berlangsung terus-menerus atau disertai tanda bahaya membutuhkan pemeriksaan dokter untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang sesuai.
Mayo Clinic menyarankan berkonsultasi ke dokter jika susah BAB disertai tanda-tanda berikut ini:
- Gejala berlangsung lebih dari 3 minggu
- Menyebabkan kesulitan beraktivitas
- Darah pada tinja atau perdarahan dari anus
- Nyeri perut yang terus-menerus atau cukup berat
- Tidak bisa buang angin
- Berat badan turun tanpa sengaja
- Perubahan pola BAB yang menetap dan tidak biasa
- Tinja berwarna hitam atau perubahan bentuk dan warna tinja yang tidak biasa
Cara mengatasi susah BAB dapat dimulai dengan langkah sederhana, seperti meningkatkan konsumsi serat secara bertahap, mencukupi kebutuhan cairan, lebih aktif bergerak, tidak menahan keinginan untuk BAB, dan membangun jadwal BAB yang teratur. Namun, susah BAB yang berlangsung terus-menerus atau disertai tanda bahaya membutuhkan pemeriksaan dokter untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang sesuai.