Belakangan ini, cuaca panas ekstrem dan gelombang panas melanda berbagai negara. Kondisi ini membuat risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas menjadi semakin tinggi.
Tidak sedikit orang menganggap heat stroke, heat exhaustion, dan dehidrasi sebagai kondisi yang sama karena ketiganya dapat menyebabkan tubuh terasa lemas, pusing, atau tidak nyaman. Padahal, ketiganya memiliki penyebab, gejala, tingkat keparahan, hingga penanganan yang berbeda.
Dehidrasi umumnya masih dapat diatasi dengan mencukupi kebutuhan cairan. Sementara itu, heat exhaustion perlu segera ditangani agar tidak berkembang menjadi heat stroke. Berbeda dengan kedua kondisi tersebut, heat stroke merupakan kondisi darurat medis dan membutuhkan pertolongan secepat mungkin karena dapat mengancam nyawa.
Oleh karena itu, penting untuk memahami perbedaan heat stroke, heat exhaustion, dan dehidrasi agar kamu dapat mengenali gejalanya sejak dini sekaligus mengambil tindakan yang tepat ketika kondisi tersebut terjadi.
Perbedaan Heat Stroke, Heat Exhaustion, dan Dehidrasi
Meski sama-sama berkaitan dengan panas dan kekurangan cairan, proses yang terjadi di dalam tubuh pada masing-masing kondisi berbeda.
Heat stroke
Melansir dari Mayo Clinic, heat stroke adalah kondisi ketika suhu tubuh meningkat hingga sekitar 40°C atau lebih karena mekanisme pendinginan tubuh tidak lagi mampu bekerja secara efektif sehingga panas tidak dapat dilepaskan dengan baik. Akibatnya, panas terus menumpuk di dalam tubuh dan mulai mengganggu fungsi otak dan organ penting, yang bisa membuat penderitanya mengalami kebingungan, kejang, bahkan kehilangan kesadaran.
Heat stroke termasuk keadaan darurat medis yang memerlukan penanganan segera karena dapat mengakibatkan kerusakan organ permanen hingga mengancam nyawa.
Heat exhaustion
Emory Healthcare menjelaskan, heat exhaustion atau kelelahan akibat panas terjadi ketika tubuh kehilangan terlalu banyak cairan dan elektrolit karena berkeringat berlebihan selama berada di lingkungan yang panas atau melakukan aktivitas fisik berat.
Kondisi ini belum separah heat stroke, tetapi jangan dianggap sepele. Jika tidak segera ditangani dengan tepat, heat exhaustion bisa berkembang menjadi heat stroke.
Dehidrasi
Masih melansir dari Emory Healthcare, dehidrasi terjadi saat tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang diterima. Penyebabnya bukan hanya cuaca panas, tetapi juga kurang minum, muntah, diare, atau olahraga dengan intensitas tinggi.
Dehidrasi ringan umumnya bisa diatasi dengan mencukupi kebutuhan cairan. Namun, dehidrasi berat tetap membutuhkan penanganan medis agar tidak menimbulkan komplikasi.
Gejala Heat Stroke, Heat Exhaustion, dan Dehidrasi
Karena gejalanya bisa terlihat mirip, penting untuk mengenali tanda khas dari masing-masing kondisi.
Swipe to view more
|
Heat Stroke |
Heat Exhaustion |
Dehidrasi |
|
Suhu tubuh sekitar 40°C atau lebih |
Suhu tubuh meningkat tetapi biasanya belum mencapai 40°C |
Suhu tubuh umumnya normal |
|
Kulit terasa sangat panas, bisa kering atau tetap berkeringat |
Berkeringat sangat banyak. Kulit juga terasa dingin dan lembap |
Mulut dan bibir terasa kering, bahkan mudah lelah, dan sakit kepala atau pusing |
|
Sulit berbicara atau tampak bingung |
Pusing dan sakit kepala |
Rasa haus yang berlebihan |
|
Detak jantung dan napas menjadi lebih cepat |
Denyut nadi lebih cepat |
Warna urine menjadi lebih pekat |
|
Pusing hebat, kejang, pingsan, atau penurunan kesadaran |
Mual, muntah, dan kram otot |
Frekuensi buang air kecil berkurang |
Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan
Jika mengalami heat stroke
Heat stroke merupakan kondisi darurat medis. Segera hubungi layanan gawat darurat atau bawa penderita ke rumah sakit terdekat.
Sambil menunggu bantuan datang:
- Pindahkan penderita ke tempat yang teduh atau ruangan ber-AC
- Lepaskan atau longgarkan pakaian
- Kompres tubuh menggunakan handuk basah atau kompres dingin, terutama pada bagian leher, ketiak, dan lipatan paha
- Gunakan kipas angin sambil terus mengompres tubuh untuk membantu menurunkan suhu tubuh
Jika penderita tidak sadar atau sulit menelan, jangan memaksanya untuk minum karena dapat meningkatkan risiko tersedak.
Jika mengalami heat exhaustion
Hentikan aktivitas dan segera beristirahat di tempat yang sejuk. Minumlah air putih atau minuman yang mengandung elektrolit sedikit demi sedikit. Longgarkan pakaian dan gunakan kompres dingin di leher, ketiak, atau lipatan paha untuk membantu menurunkan suhu tubuh.
Apabila keluhan tidak membaik dalam waktu sekitar satu jam atau justru semakin berat, segera periksakan diri ke dokter.
Jika mengalami dehidrasi
Segera gantikan cairan yang hilang dengan minum air putih secara bertahap. Jika dehidrasi disebabkan oleh diare atau muntah, larutan oralit dapat membantu menggantikan cairan sekaligus elektrolit yang hilang.
Apabila muncul tanda dehidrasi berat seperti kebingungan, muntah terus-menerus, tidak bisa minum, produksi urine sangat sedikit, bahkan pingsan, segera cari pertolongan medis.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Kondisi Ini?
Beberapa kelompok berikut memiliki risiko lebih tinggi mengalami heat stroke, heat exhaustion, maupun dehidrasi, di antaranya adalah:
- Atlet atau peserta marathon, hyrox, atau trail run.
- Pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan
- Lansia
- Bayi dan anak-anak
- Ibu hamil
- Orang dengan penyakit jantung, diabetes, atau obesitas
- Orang yang mengonsumsi obat-obatan tertentu
Cara Mencegah Heat Stroke, Heat Exhaustion, dan Dehidrasi
Mencegah gangguan akibat panas jauh lebih mudah dibandingkan mengobatinya. Berikut beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risikonya.
1. Minum air secara teratur
Jangan menunggu haus baru minum. Saat cuaca panas, tubuh bisa kehilangan cairan lebih cepat melalui keringat.
2. Kurangi aktivitas saat matahari sedang terik
Jika memungkinkan, batasi aktivitas di luar ruangan pada pukul 10.00 hingga 16.00 ketika suhu udara biasanya mencapai puncaknya.
3. Pilih pakaian yang nyaman
Gunakan pakaian yang longgar, berbahan ringan, dan berwarna terang agar panas lebih mudah dilepaskan dari tubuh.
4. Manfaatkan tempat yang teduh
Jika harus berada di luar ruangan dalam waktu lama, sempatkan beristirahat di area yang teduh atau memiliki pendingin udara.
5. Batasi konsumsi kafein dan alkohol
Kedua minuman tersebut dapat meningkatkan kehilangan cairan sehingga tubuh lebih mudah mengalami dehidrasi, terutama saat cuaca panas.
6. Jangan abaikan sinyal tubuh
Rasa pusing, haus berlebihan, atau kram otot bisa menjadi tanda awal tubuh mulai kesulitan menghadapi panas. Jika mengalami gejala tersebut, segera hentikan aktivitas dan cari tempat yang lebih sejuk.
Baca juga: Vertigo: Gejala, Tipe, Hingga Pengobatannya
Memahami perbedaan heat stroke, heat exhaustion, dan dehidrasi dapat membantu kamu dalam mencegah dan mengambil tindakan yang tepat ketika gejala mulai muncul. Saat cuaca panas atau banyak beraktivitas di luar ruangan, biasakan memenuhi kebutuhan cairan, beristirahat secara berkala, dan mengenali tanda-tanda ketika tubuh mulai kewalahan.
Jika kamu rutin beraktivitas di luar ruangan, pastikan kebutuhan cairan terpenuhi dan jangan memaksakan diri apabila mulai muncul gejala seperti pusing, kram, atau lemas. Mengenali sinyal tubuh sejak dini merupakan langkah penting untuk membantu mencegah heat exhaustion berkembang menjadi heat stroke.
Selain menerapkan pola hidup sehat untuk mengurangi risiko gangguan akibat cuaca panas, memiliki perlindungan kesehatan juga penting sebagai antisipasi apabila terjadi kondisi medis yang tidak terduga.
Allianz Preferred Medical merupakan produk asuransi kesehatan individu yang memberikan manfaat yang komprehensif dan sesuai kebutuhan perlindungan kamu, mulai dari manfaat rawat inap dan pembedahan, manfaat penyakit major, manfaat perawatan darurat, manfaat tambahan, serta manfaat meninggal dunia.
Bagi yang menginginkan solusi berbasis syariah, tersedia juga pilihan AlliSya Preferred Medical dengan manfaat perlindungan yang komprehensif.