Selain berdampak pada kesehatan, erupsi gunung berapi dan penyebaran abu vulkanik juga dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, termasuk rencana perjalanan. Penerbangan dapat mengalami penundaan, perubahan jadwal, bahkan pembatalan ketika kondisi dinilai tidak aman.
Karena itu, penting untuk memahami dampak abu vulkanik bagi kesehatan, cara mengurangi paparannya, serta hal-hal yang perlu diperhatikan jika erupsi terjadi saat kamu sedang bepergian.
Apa Itu Abu Vulkanik?
Abu vulkanik adalah campuran partikel batuan, mineral, dan kaca yang dikeluarkan gunung berapi saat terjadi letusan. Partikel-partikel ini berukuran sangat kecil dengan diameter kurang dari dua milimeter, melansir National Geographic.
Partikel tersebut cenderung memiliki permukaan yang tidak rata dan berpori, sehingga massa jenisnya rendah. Bersama dengan uap air dan gas panas lainnya, abu vulkanik merupakan bagian dari abu pekat yang dikeluarkan oleh gunung berapi saat meletus.
Partikel tersebut kemudian dapat terbawa angin dan menyebar ke wilayah yang cukup jauh dari lokasi gunung berapi. Meski sekilas terlihat seperti debu biasa, abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dari debu rumah atau debu jalanan.
Partikelnya dapat masuk ke mata, hidung, dan saluran pernapasan ketika terhirup atau mengenai tubuh secara langsung. Karena ukurannya yang kecil dan dapat terbawa udara, abu vulkanik juga dapat memengaruhi kualitas udara di wilayah terdampak.
Dampak Abu Vulkanik bagi Kesehatan
Dampak abu vulkanik tidak selalu sama pada setiap orang. Tingkat paparan, durasi berada di area terdampak, kondisi lingkungan, hingga kondisi kesehatan seseorang dapat memengaruhi respons tubuh.
Beberapa gangguan kesehatan yang dapat terjadi antara lain:
Mengganggu Saluran Pernapasan
Partikel abu yang terhirup dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Beberapa gejala umum yang mungkin muncul berupa:
- batuk
- tenggorokan terasa gatal atau teriritasi
- hidung berair atau tersumbat
- sesak atau kesulitan bernapas pada kondisi tertentu
Semakin tinggi paparan abu, semakin besar pula kemungkinan munculnya gangguan pernapasan. Jika keluhan pernapasan terasa berat, tidak membaik, atau disertai kesulitan bernapas, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
Menyebabkan Iritasi Mata
Mata menjadi salah satu bagian tubuh yang mudah terpapar abu karena bersentuhan langsung dengan udara. Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:
- mata merah
- terasa perih
- mata berair
- sensasi seperti terdapat pasir atau benda asing di dalam mata
Hindari menggosok mata ketika terkena abu karena gesekan dapat memperparah iritasi. Bila memungkinkan, bilas mata menggunakan air bersih dan segera mencari bantuan medis apabila keluhan berlanjut atau penglihatan terganggu.
Mengiritasi Kulit
Kontak dengan abu vulkanik juga dapat membuat kulit terasa kering, gatal, atau tidak nyaman.
Setelah beraktivitas di daerah yang terdampak abu, segera membersihkan bagian tubuh yang terkena paparan. Mandi dan mengganti pakaian dapat membantu mengurangi sisa partikel abu yang masih menempel pada tubuh.
Pakaian yang digunakan ketika berada di luar juga sebaiknya dibersihkan sebelum digunakan kembali agar abu tidak ikut tersebar ke dalam rumah.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
Siapa pun sebaiknya mengurangi paparan abu vulkanik. Namun, menurut CDC ada beberapa kelompok yang membutuhkan perhatian lebih, yaitu:
- anak-anak dan bayi
- lansia
- orang dengan kondisi pernapasan tertentu
- orang dengan penyakit kardiovaskular kronis
- orang yang harus banyak beraktivitas di luar ruangan
Kelompok tersebut sebaiknya mengikuti informasi dan rekomendasi dari otoritas kesehatan maupun pemerintah setempat, terutama ketika konsentrasi abu di udara meningkat.
Bagaimana Cara Melindungi Diri dari Abu Vulkanik?
Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik, yaitu:
1. Gunakan Masker saat Keluar Rumah
Ketika abu sedang menyebar atau kualitas udara memburuk, gunakan masker apabila harus berada di luar rumah.
Masker membantu mengurangi jumlah partikel yang terhirup secara langsung. Pastikan masker digunakan dengan benar dan menutupi hidung serta mulut dengan baik.
2. Batasi Aktivitas di Luar Ruangan
Jika tidak ada kebutuhan mendesak, kurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi abu masih cukup tebal.
Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi paparan langsung terhadap partikel abu yang beredar di udara.
3. Lindungi Mata
Jika harus beraktivitas di luar, perlindungan terhadap mata juga penting. Sebaiknya gunakan kacamata atau pelindung mata yang sesuai, terutama ketika konsentrasi abu cukup tinggi.
Selain itu, bagi kamu yang terbiasa menggunakan lensa kontak, sebaiknya lepaskan sementara ketika berada di area dengan banyak abu dan gunakan kacamata untuk membantu mengurangi risiko iritasi.
Perlindungan ini membantu mengurangi kemungkinan partikel masuk dan mengiritasi mata.
4. Bersihkan Tubuh Setelah dari Luar
Jangan membiarkan abu menempel terlalu lama pada tubuh maupun pakaian. Setelah kembali dari luar rumah, lakukan beberapa langkah berikut:
- cuci wajah
- mandi menggunakan air bersih
- ganti pakaian
- bersihkan tangan dan bagian tubuh lain yang terkena abu
- pisahkan pakaian yang terkena banyak abu sebelum dicuci
Hal ini membantu mencegah abu ikut terbawa dan tersebar di dalam rumah.
5. Perhatikan Kondisi Udara dan Informasi Resmi
Kondisi penyebaran abu dapat berubah mengikuti arah angin dan aktivitas gunung berapi. Karena itu, pantau informasi dari pemerintah dan otoritas terkait mengenai:
- status aktivitas gunung berapi
- area yang terdampak abu
- kondisi kualitas udara
- rekomendasi aktivitas masyarakat
- informasi transportasi dan perjalanan
Jangan memaksakan aktivitas outdoor apabila otoritas menyarankan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Bagaimana Cara Membersihkan Abu Vulkanik di Rumah?
Membersihkan abu vulkanik juga perlu dilakukan dengan hati-hati. Cara membersihkan yang kurang tepat justru dapat membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup.
Karena itu, perhatikan beberapa hal berikut ini ketika akan membersihkan abu vulkanik di rumah:
- gunakan masker dan pelindung yang sesuai ketika membersihkan abu
- hindari menyapu abu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel abu kembali berterbangan
- basahi abu secara ringan sebelum dibersihkan
- bersihkan permukaan dan barang yang terkena abu secara perlahan dan bertahap
- ikuti petunjuk pemerintah atau otoritas setempat jika jumlah abu cukup banyak
Bila memungkinkan, atur ventilasi dan akses ke bagian rumah yang sedang dibersihkan agar abu tidak menyebar ke ruangan lainnya.
Abu Vulkanik juga Bisa Mengganggu Rencana Perjalanan
Dampak erupsi tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di dekat gunung berapi. Abu vulkanik yang menyebar ke jalur penerbangan juga dapat memengaruhi operasional transportasi udara. Dalam kondisi tertentu, penerbangan dapat mengalami penundaan, perubahan jadwal, pengalihan rute, hingga pembatalan apabila kondisi penerbangan dinilai tidak aman.
Melansir CNN Indonesia, sampai Senin (7/9/2026) terdapat 8 bandara di Indonesia yang ditutup akibat terdampak erupsi Anak Krakatau, yaitu:
1. Bandara Soekarno-Hatta Tangerang
2. Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta
3. Bandara Radin Inten II Lampung
4. Bandara Husein Sastranegara Bandung
5. Bandara Budiarto Curug Tangerang
6. Bandara Pondok Cabe Tangerang Selatan
7. Bandara Taufik Kiemas di Pesisir Barat Lampung
8. Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam Sumsel
Situasi tersebut tentunya dapat memengaruhi rencana perjalanan, termasuk biaya tiket pesawat, akomodasi, maupun kebutuhan untuk menjawalkan ulang perjalanan.
Jika kamu akan bepergian ke wilayah yang berpotensi terdampak aktivitas vulkanik, biasakan memantau informasi terbaru dari maskapai, bandara, dan otoritas resmi sebelum maupun selama perjalanan.
Selain melakukan persiapan perjalanan, perlindungan asuransi perjalanan juga dapat dipertimbangkan untuk membantu menghadapi risiko perjalanan yang tidak terduga.
Bagi nasabah Asuransi Perjalanan dari Allianz Utama dan jika perjalananmu pulang ke Indonesia terdampak, Allianz TravelPro menyediakan beberapa manfaat yang dapat dipilih salah satunya sesuai dengan kondisi perjalanan dan ketentuan polis.
A. Sebelum Perjalanan (dari Indonesia)
Pilihan manfaat klaim yang dapat kamu pilih salah satu:
Penerbangan Tertunda
Mendapat santunan tunai dengan minimal 4 jam keterlambatan.
*Pembatalan Perjalanan
Biaya tiket, akomodasi, tur, dan visa yang sudah dibayar.
*Mengubah Jadwal Perjalanan
Biaya tambahan untuk reschedule penerbangan.
*Akibat dari penutupan bandara.
B. Selama Perjalanan
Pilihan manfaat klaim yang dapat kamu pilih salah satu:
Penerbangan Tertunda
Mendapat santunan tunai dengan minimal 4 jam keterlambatan.
Perjalanan Terganggu Lebih dari 24 Jam
Biaya tambahan transportasi, akomodasi, dan biaya tertentu.
Tertinggal Penerbangan Sambungan dengan Gap Minimal 6 Jam
Biaya transportasi umum alternatif agar tetap sampai tujuan
Bila kamu terdampak akibat kondisi tak terduga seperti ini, jangan tunggu terlalu lama untuk mengajukan klaim. Kamu bisa mengikuti langkah-langkah berikut dengan ketentuan dan proses klaim mengikuti ketentuan polis yang kamu miliki:
- Kirim pengajuan klaim lewat bit.ly/klaimtravelpro atau email ke travelclaim@allianz.co.id
- Isi formulir pengajuan klaim perjalanan, serta lampirkan dokumen utama seperti tiket, boarding pass, serta dokumen lain yang dibutuhkan
- Laporkan sesegera mungkin, maksimal 90 hari sejak kejadian
- Jika butuh bantuan, kamu juga bisa menghubungi Allianz Care 1500136 ext. 4
Dengan demikian, adanya perlindungan Asuransi Perjalanan setidaknya dapat membantu meringankan kerugian finansial yang mungkin timbul atau terjadi ketika jadwal perjalanan yang sudah direncanakan harus berubah karena kondisi yang tidak terduga.
Namun, penting untuk selalu memeriksa penyebab kejadian yang dijamin, pengecualian, periode pertanggungan, dan batas manfaat pada polis sebelum membeli maupun mengajukan klaim.