Melansir detikHealth, berdasarkan data hingga 15 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB, lima provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi adalah:
- Jawa Barat: 1.858.779 kasus
- Jawa Tengah: 1.819.793 kasus
- DKI Jakarta: 1.241.791 kasus
- Jawa Timur: 1.007.305 kasus
- Banten: 637.542 kasus
Selain peningkatan kasus secara nasional, Kemenkes juga melaporkan adanya lonjakan kasus lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten atau kota yang terpapar langsung kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sementara di Kalimantan Tengah kasus ISPA meningkat dari 402 menjadi 716 kasus dalam satu minggu.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan pernapasan bukan hanya soal menerapkan pola hidup sehat, tetapi juga mempersiapkan kondisi finansial jika sewaktu-waktu membutuhkan layanan medis.
Sebab, penyakit ISPA bisa memiliki tingkat keparahan yang berbeda. Sebagian kasus dapat membaik dengan perawatan di rumah, sementara kondisi tertentu mungkin membutuhkan konsultasi dokter, pemeriksaan lanjutan, obat-obatan, bahkan perawatan di rumah sakit.
Baca juga: Kenali Napas Cepat, Gejala Awal Pneumonia
Faktor yang Bisa Meningkatkan Risiko ISPA
ISPA merupakan kelompok infeksi yang dapat menyerang saluran pernapasan dan menimbulkan gejala seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, hingga sesak napas pada kondisi tertentu. Penyebabnya dapat berupa virus maupun bakteri.
Peningkatan kasus tidak selalu disebabkan oleh satu faktor. Kondisi lingkungan dan perubahan musim juga dapat berperan dalam meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko ISPA antara lain:
1. Kualitas Udara yang Buruk
Polusi udara yang tercemar dapat mengandung partikel dan zat yang mengiritasi saluran pernapasan. Paparan terhadap udara dengan kualitas yang buruk dalam waktu tertentu dapat membuat tenggorokan atau saluran pernapasan terasa tidak nyaman, terutama pada kelompok yang rentan.
2. Polusi Kendaraan
3. Kabut Asap
Asap akibat kebakaran hutan dan lahan dapat memperburuk kualitas udara secara signifikan. Partikel asap yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan.
4. Perubahan Cuaca dan Musim
Perubahan suhu dan kelembapan dapat memengaruhi kondisi lingkungan serta pola penyebaran sejumlah infeksi saluran pernapasan. Karena itu, perubahan cuaca dan musim berisiko menjadi salah satu penyebab peningkatan kasus ISPA.
5. Paparan Lingkungan
Debu, asap rokok, bahan kimia, atau ventilasi ruangan yang buruk dapat menjadi faktor yang membuat saluran pernapasan lebih mudah terganggu.
Meski begitu, penting dipahami bahwa paparan polusi atau kabut asap tidak berarti seseorang pasti mengalami ISPA. Pada dasarnya, ISPA merupakan infeksi, sementara kualitas udara yang buruk dapat menjadi faktor yang memperburuk iritasi atau kondisi pernapasan.
Siapa yang Lebih Rentan Mengalami ISPA?
Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak gangguan pernapasan. Pekerja yang banyak beraktivitas di luar rungan juga berisiko mengalami ISPA karena lebih sering terpapar polusi, debu, dan kondisi udara lingkungan.
Sementara itu, orang yang memiliki asma atau penyakit pernapasan lainnya, paparan udara yang buruk juga dapat memicu atau memperburuk keluhan. Karena itu, langkah pencegahan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Cara Mengurangi Risiko ISPA
Ketika kualitas udara sedang buruk, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan dan menjaga kesehatan pernapasan, yaitu:
1. Pantau Kualitas Udara
Sebelum beraktivitas di luar rumah, cek terlebih dahulu kondisi kualitas udara di wilayahmu. Jika kualitas udara sedang buruk atau masuk kategori tidak sehat, sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga dengan intensitas tinggi.
2. Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Jika polusi udara atau kabut asap sedang tinggi, pertimbangkan untuk menunda aktivitas outdoor yang tidak mendesak. Misalnya, kamu bisa mengganti aktivitas jogging di luar dengan olahraga ringan di dalam ruangan.
3. Gunakan Masker saat Beraktivitas di Luar
Masker dapat membantu mengurangi paparan terhadap partikel di udara ketika kamu harus berada di luar rumah. Gunakan masker dengan benar, terutama saat berada di area dengan polusi, debu, atau kabut asap.
4. Perhatikan Sirkulasi Udara di Rumah
Pastikan rumah memiliki ventilasi yang baik agar udara dapat bersirkulasi. Namun, ketika kondisi udara di luar sedang sangat buruk atau terdapat kabut asap, hindari membuka jendela secara berlebihan agar polutan dari luar tidak mudah masuk ke dalam rumah.
5. Kenali Gejala yang Muncul
Beberapa gejala penyakit ISPA dapat berupa batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, hingga keluhan pernapasan. Jika gejala terasa ringan, berikan tubuh waktu untuk beristirahat dan pantau perkembangannya.
Namun, jika muncul sesak napas, demam tinggi, kondisi semakin memburuk, atau gejala tidak kunjung membaik, segera konsultasikan dengan dokter.
Lindungi Kesehatan dan Kondisi Finansial Keluarga
Menjaga kesehatan sebaiknya berjalan beriringan dengan mempersiapkan kondisi finansial. Jangan hanya menunggu sampai sakit untuk memikirkan bagaimana biaya pengobatan akan ditanggung.
Selain menyiapkan dana darurat, evaluasi kembali perlindungan kesehatan yang kamu miliki. Pahami manfaat, batasan, serta ketentuan perlindungan agar kamu tidak salah memperkirakan kebutuhan ketika risiko kesehatan muncul.
Dengan persiapan yang lebih matang, kamu tidak hanya berusaha menjaga kesehatan keluarga, tetapi juga mengurangi kemungkinan kebutuhan medis mengganggu rencana finansial yang sudah disusun.
Untuk membantu mengantisipasi kebutuhan medis yang tidak terduga, Allianz Preferred Medical dapat menjadi salah satu pilihan perlindungan kesehatan dengan manfaat medis sesuai ketentuan polis.
Jika kamu mencari pilihan perlindungan kesehatan berbasis syariah, Allisya Preferred Medical juga dapat dipertimbangkan untuk membantu memberikan rasa tenang bagi kamu dan keluarga.