penyebab mata merah

Apa Saja Penyebab Mata Merah? Pahami Cara Mencegahnya

24 Agustus 2026 | Allianz Indonesia
Penyebab mata merah sangat beragam, mulai dari iritasi ringan akibat debu atau kurang tidur hingga infeksi, alergi, mata kering, penggunaan lensa kontak yang tidak tepat, maupun kondisi medis yang lebih serius. Untuk mencegahnya, kamu dapat menjaga kebersihan tangan, menghindari kebiasaan mengucek mata, menggunakan lensa kontak sesuai aturan, membatasi waktu screen time, dan melindungi mata dari paparan debu maupun asap.

Mata merupakan salah satu organ tubuh yang sangat sensitif terhadap berbagai faktor dari lingkungan. Paparan debu, polusi, asap, penggunaan gawai dalam waktu lama, hingga kebiasaan mengucek mata dapat memicu pembuluh darah di permukaan mata melebar sehingga mata tampak kemerahan.

Selain membuat penampilan kurang nyaman, mata merah juga dapat disertai gejala lain seperti gatal, perih, berair, sensasi mengganjal, atau penglihatan yang terganggu. 

Meski sebagian besar kasus mata merah tergolong ringan dan dapat membaik dengan sendirinya, ada kalanya kondisi ini menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan medis. 

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui apa saja penyebab mata merah, cara mencegahnya, serta kapan perlu memeriksakan diri ke dokter.

Melansir Cleveland Clinic, mata merah adalah istilah umum untuk menggambarkan kondisi bagian putih mata yang tampak kemerahan, atau bahkan disertai dengan berair. Hal itu terjadi ketika pembuluh darah kecil pada permukaan mata melebar akibat iritasi, peradangan, atau infeksi. 

Kondisi ini bisa menyerang salah satu mata maupun keduanya sekaligus. Karena itu, penting untuk mengetahui beberapa penyebab mata merah yang paling umum berikut ini:

Konjungtivitis adalah salah satu penyebab mata merah yang paling sering ditemukan. Konjungtiva adalah selaput tipis yang melapisi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata. Ketika mengalami peradangan akibat virus, bakteri, atau alergi, mata akan tampak merah dan terasa tidak nyaman.

Gejala yang biasanya menyertai antara lain:

  • Mata merah
  • Mata berair
  • Gatal
  • Keluar kotoran mata
  • Kelopak mata lengket saat bangun tidur

Jika penyebabnya adalah infeksi virus atau bakteri, kondisi ini dapat menular melalui kontak langsung.

Mata membutuhkan lapisan air mata agar permukaannya tetap lembap dan terlindungi. Ketika produksi air mata berkurang atau kualitas air mata menurun, mata menjadi lebih mudah mengalami iritasi.

Gejala mata kering meliputi:

  • Mata merah
  • Mata terasa perih
  • Sensasi seperti ada pasir
  • Mudah lelah saat melihat layar
  • Penglihatan sesekali menjadi kabur

Kondisi ini sering dipicu oleh berbagai faktor yang mengurangi produksi air mata atau mempercepat penguapannya, seperti:

  • Terlalu lama di ruangan ber-AC atau lingkungan dengan kelembapan rendah.
  • Kebiasaan menatap layar komputer, laptop, atau gadget dalam waktu lama sehingga frekuensi berkedip berkurang.
  • Usia, terutama pada mereka yang berusia di atas 50 tahun, karena produksi air mata cenderung menurun. 
  • Penggunaan lensa kontak, terutama jika dipakai terlalu lama atau tanpa menggunakan tetes mata pelumas sesuai anjuran.
  • Perubahan hormon, misalnya saat sedang hamil atau telah menopause, yang dapat memengaruhi produksi air mata. 
  • Konsumsi obat-obatan tertentu yang dapat menyebabkan mata menjadi lebih kering.

Paparan alergen seperti debu, serbuk sari, bulu hewan, atau asap dapat menyebabkan reaksi alergi pada mata. Saat alergi terjadi, tubuh melepaskan histamin yang menyebabkan pembuluh darah melebar sehingga mata tampak merah.

Selain mata merah, penderita biasanya juga mengalami:

  • Mata gatal
  • Mata berair
  • Bersin
  • Hidung tersumbat

Debu, polusi udara, asap rokok, maupun bahan kimia tertentu dapat mengiritasi permukaan mata.

Iritasi ringan biasanya akan membaik setelah mata dibersihkan dan paparan terhadap penyebabnya dihentikan.

Menggunakan lensa kontak terlalu lama atau tidak menjaga kebersihannya dapat menyebabkan iritasi bahkan infeksi pada mata.

Risiko akan meningkat apabila seseorang:

  • Tidur menggunakan lensa kontak
  • Tidak mencuci tangan sebelum memasang lensa
  • Menggunakan lensa melebihi masa pakainya

Kurang tidur dapat menyebabkan mata menjadi lebih mudah lelah dan tampak merah. Selain itu, pembuluh darah pada mata menjadi lebih terlihat akibat kurangnya waktu istirahat.

Penggunaan komputer, laptop, tablet, atau ponsel dalam waktu lama membuat frekuensi berkedip berkurang hampir setengahnya. Akibatnya, air mata lebih cepat menguap dan mata menjadi kering, serta lebih mudah mengalami iritasi. Kondisi ini dikenal sebagai digital eye strain atau kelelahan mata digital.

Kadang-kadang mata tampak merah karena pecahnya pembuluh darah kecil di bawah konjungtiva (perdarahan subkonjungtiva). Kondisi ini sering terlihat cukup mencolok, tetapi umumnya tidak berbahaya dan dapat sembuh sendiri dalam beberapa minggu.

Pecahnya pembuluh darah pada mata dapat dipicu oleh peningkatan tekanan secara tiba-tiba, misalnya karena: 

  • Batuk atau bersin yang sangat kuat 
  • Mengangkat beban berat
  • Mengejan, misalnya saat buang air besar
  • Cedera ringan pada mata yang tidak sengaja, misalnya terbentur
  • Mengucek mata terlalu keras
  • Penggunaan obat pengencer darah atau kondisi tertentu yang membuat pembuluh darah lebih mudah pecah, seperti tekanan darah tinggi atau diabates

Benturan atau benda asing yang masuk ke mata dapat menyebabkan iritasi maupun luka pada permukaan mata. Jika disertai nyeri hebat atau gangguan penglihatan, kondisi ini memerlukan pemeriksaan medis segera.

Meski lebih jarang terjadi, mata merah juga bisa menjadi tanda glaukoma akut. Kondisi ini merupakan keadaan darurat medis yang biasanya disertai:

  • Nyeri mata hebat
  • Penglihatan kabur
  • Mual
  • Sakit kepala
  • Melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu

Apabila mengalami gejala tersebut, segera cari pertolongan medis.

Selain bagian putih mata tampak kemerahan, setiap penyebab mata merah dapat menimbulkan gejala yang berbeda. Beberapa gejala yang sering menyertai mata merah, antara lain: 

  • Mata terasa gatal
  • Mata berair
  • Sensasi terbakar
  • Mata terasa mengganjal seperti ada benda asing
  • Nyeri pada mata
  • Kelopak mata lengket akibat kotoran mata, terutama setelah bangun tidur
  • Keluarnya kotoran mata dalam frekuensi yang lebih sering 
  • Sensitif terhadap cahaya (fotofobia)
  • Penglihatan kabur atau berkurang
  • Kelopak mata bengkak

Tidak semua gejala menunjukkan kondisi yang serius. Namun, jika keluhan berlangsung lama atau semakin berat, pemeriksaan ke dokter mata sangat dianjurkan.

Sebagian besar penyebab mata merah sebenarnya dapat dicegah melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari. Berikut ini beberapa di antaranya:

Mengucek mata memang terasa melegakan saat mata gatal. Namun, kebiasaan ini justru dapat memperparah iritasi dan meningkatkan risiko masuknya bakteri atau virus ke mata. Jika mata terasa gatal, gunakan air bersih atau obat tetes mata sesuai anjuran dokter.

Tangan sering menjadi media perpindahan kuman. Karena itu, biasakan mencuci tangan sebelum menyentuh area mata atau memasang lensa kontak.

Bagi yang sering bekerja di depan layar komputer, cobalah menerapkan aturan 20-20-20. Artinya, setiap 20 menit melihat layar, alihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik. Cara ini membantu mengurangi kelelahan mata. Selain menerapkan aturan ini, pastikan pencahayaan ruangan cukup agar mata tidak bekerja terlalu keras.

Pastikan selalu:

  • Mencuci tangan sebelum memasang lensa
  • Membersihkan lensa sesuai petunjuk
  • Mengganti lensa sesuai jadwal
  • Tidak tidur menggunakan lensa kontak
  • Menggunakan tetes mata pelumas yang aman untuk lensa kontak bila mata mulai terasa kering, sesuai petunjuk penggunaan

Lindungi mata sesuai dengan aktivitas yang dilakukan. Jika bekerja di lingkungan yang banyak debu, bahan kimia, atau melakukan aktivitas olahraga tertentu, gunakan pelindung mata (safety glasses atau goggles) untuk mengurangi risiko cedera maupun iritasi. 

Sementara itu, saat berada diluar ruangan pada siang hari, gunakan kacamata hitam yang memiliki perlindungan terhadap sinar UV untuk membantu mengurangi paparan sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan iritasi mata.

Tidur selama 7–9 jam setiap malam membantu menjaga kesehatan mata sekaligus mengurangi risiko mata merah akibat kelelahan.

Asap rokok mengandung berbagai zat yang dapat mengiritasi mata. Mengurangi paparan asap rokok membantu menjaga kesehatan mata sekaligus kesehatan saluran pernapasan.

Jika penyebab mata merah karena konjungtivitis, hindari menggunakan handuk, tisu, atau kosmetik mata secara bergantian dengan orang lain. Hal ini untuk mengurangi risiko penularan infeksi mata.

Bagi yang sering mengalami mata kering, dokter biasanya akan menyarankan penggunaan tetes mata pelumas atau air mata buatan. Produk ini membantu menjaga kelembapan permukaan mata.

Walaupun sebagian besar kasus mata merah tidak berbahaya, ada beberapa kondisi yang memerlukan pemeriksaan medis segera. Segera konsultasikan ke dokter apabila kamu mengalami:

  • Mata merah disertai nyeri hebat
  • Penglihatan kabur atau menurun
  • Mata sangat sensitif terhadap cahaya
  • Keluar nanah dalam jumlah banyak
  • Cedera pada mata
  • Mata merah tidak membaik setelah beberapa hari
  • Mengalami demam bersamaan dengan mata merah
  • Mata merah pada pengguna lensa kontak perlu lebih diwaspadai karena dapat menjadi tanda infeksi kornea yang membutuhkan penanganan medis segera

Mata merah memang disebabkan oleh iritas ringan dan dapat membaik dengan sendirinya. Namun, kondisi ini juga bisa menjadi tanda infeksi atau gangguan mata yang lebih serius, terutama jika disertai nyeri hebat, atau gangguan penglihatan. Menjaga kebersihan mata, membatasi paparan iritan, dan segera memeriksakan diri saat muncul gejala yang mengkhawatirkan merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mata dan mencegah komplikasi yang lebih serius.

Untuk memberikan perlindungan terhadap berbagai risiko kesehatan yang tidak terduga, kamu dapat mempertimbangkan Allianz Preferred Medical yang memberikan manfaat perlindungan medis yang lengkap.

Selain itu, ada juga  Allisya Preferred Medical yang berbasis syariah sebagai pilihan untuk membantu memberikan ketenangan dalam menghadapi berbagai kebutuhan layanan kesehatan bagi kamu dan keluarga.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan

Jan 07, 2026

Jan 20, 2026