Apa Itu Penyakit Parkinson

Apa Itu Penyakit Parkinson? Ini Gejala dan Penyebabnya

2 Juni 2026 | Allianz Indonesia
Penyakit Parkinson adalah gangguan sistem saraf yang memengaruhi kemampuan tubuh dalam bergerak. Kondisi ini umumnya berkembang secara bertahap sehingga gejalanya sering kali tidak disadari di awal.

Banyak orang mengenal Parkinson sebagai penyakit yang menyebabkan tremor atau tangan gemetar. Padahal, dampaknya bisa lebih luas, mulai dari gerakan tubuh yang melambat, hingga gangguan keseimbangan yang bisa semakin memburuk seiring waktu.

Meski lebih sering dialami oleh lansia, Parkinson juga dapat terjadi pada kamu yang berusia lebih muda. Karena risikonya meningkat seiring bertambahnya usia, penting untuk memahami berbagai gejala dan faktor risikonya sejak dini, agar kamu bisa lebih waspada dan melakukan langkah pencegahan yang tepat.

Penyakit Parkinson adalah gangguan degeneratif pada sistem saraf pusat yang memengaruhi gerakan tubuh. Kondisi ini terjadi karena sel saraf di otak yang memproduksi dopamin mengalami kerusakan atau menurun fungsinya.

Melansir dari Mayo Clinic, dopamin sendiri berperan penting dalam mengatur gerakan tubuh agar tetap terkendali dan terkoordinasi dengan baik. Ketika jumlah dopamin berkurang, tubuh mulai mengalami gangguan dalam mengontrol gerakan. Inilah yang menyebabkan munculnya gejala seperti tremor, tubuh terasa kaku, atau gerakan menjadi lebih lambat.

Parkinson berkembang secara perlahan, sehingga gejalanya sering kali tidak langsung disadari dan bahkan bisa berbeda pada setiap orang. Pada tahap awal, tanda-tandanya bisa sangat ringan dan sering dianggap sebagai kelelahan biasa.

Untuk itu, penting untuk mengenali gejala dan cara penanganan penyakit Parkinson sejak dini agar kualitas hidup tetap terjaga.

Gejala Parkinson bisa berbeda pada setiap orang, tetapi ada beberapa tanda umum yang sering muncul.

Tremor menjadi salah satu gejala Parkinson yang paling sering dikenali. Gemetar biasanya terjadi pada tangan, jari, atau bahkan kaki saat tubuh sedang beristirahat. Pada banyak kasus, gejala ini dimulai dari salah satu sisi tubuh terlebih dahulu.

Penderita Parkinson sering mengalami bradikinesia atau gerakan yang melambat. Aktivitas sederhana seperti berjalan, bangun dari duduk, atau memakai pakaian bisa terasa lebih sulit dan memerlukan waktu lebih lama. Tentunya, hal ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kekakuan otot bisa terjadi di bagian tubuh mana pun, seperti tangan, kaki, ataupun leher. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa nyeri dan membatasi pergerakan. Bahkan aktivitas ringan bisa terasa tidak nyaman.

Parkinson juga dapat memengaruhi keseimbangan tubuh. Penderitanya menjadi lebih mudah kehilangan keseimbangan atau mengalami perubahan postur tubuh menjadi lebih membungkuk. Kondisi ini meningkatkan risiko jatuh, terutama pada usia lanjut.

Beberapa penderita terlihat memiliki ekspresi wajah yang lebih datar atau kurang ekspresif. Selain itu, Parkinson juga dapat memengaruhi suara menjadi lebih pelan dan monoton tanpa disadari.

Tidak sedikit penderita Parkinson mengalami masalah tidur seperti insomnia atau tidur yang tidak nyenyak. Beberapa juga mengalami gerakan tidak terkontrol saat tidur. Kondisi ini dapat membuat kualitas istirahat menjadi terganggu, sehingga tubuh terasa lebih lelah saat siang hari.

Hingga saat ini, penyebab pasti Parkinson belum diketahui sepenuhnya. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini.

Risiko Parkinson meningkat seiring bertambahnya usia. Sebagian besar kasus ditemukan pada orang berusia di atas 60 tahun. Namun, ada juga kasus yang muncul lebih awal, seperti yang dijelaskan oleh situs resmi Parkinson.org.

Riwayat keluarga dengan Parkinson dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kondisi yang sama. Meski demikian, faktor genetik bukan satu-satunya penyebab.

Paparan pestisida atau bahan kimia tertentu dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko Parkinson. Risiko ini lebih sering terjadi pada lingkungan kerja tertentu.

Pria diketahui memiliki risiko sedikit lebih tinggi mengalami Parkinson dibanding wanita. Meski begitu, penyakit ini tetap bisa dialami siapa saja.

Cedera kepala berulang atau trauma pada otak dapat meningkatkan risiko Parkinson di kemudian hari. Kondisi ini dapat memengaruhi fungsi saraf secara jangka panjang.

Tidur yang cukup membantu mengembalikan keseimbangan hormon dalam tubuh, termasuk hormon yang mengatur rasa lapar.

Parkinson memang belum bisa dicegah sepenuhnya. Namun, beberapa kebiasaan sehat dipercaya dapat membantu menjaga kesehatan otak dan menurunkan risikonya.

Aktivitas fisik membantu menjaga fungsi saraf dan kesehatan otak. Olahraga juga baik untuk menjaga koordinasi, keseimbangan, dan kekuatan tubuh.

Mengonsumsi makanan bergizi seperti buah, sayur, dan sumber antioksidan dapat membantu melindungi sel saraf dari kerusakan.

Jika bekerja di lingkungan dengan paparan bahan kimia, gunakan perlindungan yang sesuai untuk membantu mengurangi risiko jangka panjang.

Stres kronis dapat memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Karena itu, mengelola stres dengan baik dapat membantu menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran.

Penyakit Parkinson adalah kondisi yang dapat memengaruhi kualitas hidup secara jangka panjang. Karena berkembang perlahan, banyak orang baru menyadari gejalanya ketika kondisi sudah cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dengan memahami gejala, faktor risiko, dan cara penanganannya, kamu bisa lebih waspada dan segera melakukan pemeriksaan jika muncul tanda-tanda yang mencurigakan. Penanganan sejak dini dapat membantu memperlambat perkembangan gejala dan menjaga kualitas hidup tetap optimal.

Selain menjaga pola hidup sehat, memiliki perlindungan kesehatan juga penting untuk membantu menghadapi risiko medis di masa depan. Salah satu pilihan yang dapat kamu pertimbangkan adalah Allianz Preferred Medical atau AlliSya Preferred Medical.

Produk asuransi kesehatan ini memberikan beragam manfaat, mulai dari biaya rawat inap dan pembedahan, baik akibat penyakit tertentu, kecelakaan, insiden maupun keadaan kahar, penggantian biaya untuk penyakit major, perawatan darurat di rumah sakit, hingga perawatan rawat jalan untuk penyakit demam berdarah dan tifus. 

Dengan perlindungan yang tepat, kamu dan keluarga bisa merasa lebih tenang dalam menghadapi risiko kesehatan yang tidak terduga di masa depan.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan

Jan 07, 2026

Jan 20, 2026