eating disorder adalah

Apa Itu Eating Disorder? Kenali Penyebab dan Tandanya

27 Agustus 2026 | Allianz Indonesia
Eating disorder adalah gangguan kesehatan yang memengaruhi hubungan seseorang dengan makanan, pola makan, berat badan, dan citra tubuh, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan. Kondisi ini dapat ditandai dengan perubahan pola makan, kekhawatiran terhadap berat badan, hingga perilaku tertentu untuk mengimbangi makanan yang dikonsumsi.

Melansir Jed Foundation, seseorang dengan eating disorder bisa sangat membatasi makanan, makan dalam jumlah berlebihan dalam waktu singkat, atau melakukan perilaku tertentu untuk mengimbangi makanan yang sudah dikonsumsi.

Tanda-tanda eating disorder tidak selalu disertai perubahan berat badan yang terlihat, melainkan dapat terlihat dari perubahan pola makan yang ekstrem, kekhwatiran berlebih terhadap berat badan atau bentuk tubuh, rasa bersalah atau malu setelah makan, hingga perilaku seperti makan secara sembunyi-sembunyi atau berolahraga secara berlebih untuk “menebus” makanan yang dikonsumsi. 

Kondisi ini bisa dialami siapa saja, terlepas dari usia, jenis kelamin, bentuk tubuh, atau berat badan. Bahkan, seseorang tidak harus terlihat kurus untuk mengalami eating disorder.

Ya, eating disorder berkaitan erat dengan kesehatan mental. Seseorang dengan gangguan makan dapat memiliki kekhawatiran berlebih mengenai berat badan, bentuk tubuh, makanan, atau cara mengontrol pola makan.

Kondisi ini juga dapat muncul bersamaan dengan gangguan mental lain, seperti kecemasan dan depresi. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan mengubah pola makan, tetapi perlu memperhatikan kondisi fisik dan psikologis secara menyeluruh.

Yang perlu dipahami, eating disorder bukanlah pilihan seseorang. Dengan penanganan yang tepat, kondisi ini dapat ditangani dan pemulihan tetap memungkinkan.

Tanda eating disorder dapat berbeda pada setiap orang dan tidak selalu terlihat dari perubahan berat badan. Beberapa perubahan pola makan, pikiran, dan perilaku yang perlu diperhatikan antara lain:

Perubahan seperti melewatkan banyak waktu makan, membatasi jenis makanan secara berlebihan, atau memiliki aturan makan yang sangat kaku perlu diperhatikan.

Kebiasaan tersebut menjadi lebih mengkhawatirkan ketika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau kesehatan.

Memikirkan berat badan atau bentuk tubuh secara berlebihan dapat menjadi salah satu tanda.

Kekhawatiran ini bisa membuat seseorang terus melakukan diet ketat atau merasa sangat takut mengalami kenaikan berat badan.

Rasa bersalah atau malu yang intens setelah makan juga patut diperhatikan, terutama jika sering terjadi.

Pada beberapa kasus, perasaan tersebut dapat diikuti dengan usaha untuk mengompensasi makanan yang dikonsumsi.

Seseorang dengan gangguan makan mungkin sengaja makan sendirian atau menyembunyikan kebiasaan makannya karena merasa malu, bersalah, atau takut dinilai orang lain.

Olahraga menjadi tidak sehat ketika dilakukan secara berlebihan, terutama jika tujuannya untuk “menebus” makanan yang telah dikonsumsi.

Perilaku ini dapat menjadi salah satu tanda adanya hubungan yang tidak sehat dengan makanan dan berat badan.

Tidak ada satu penyebab spesifik yang dapat menjelaskan semua kasus eating disorder. Penelitian NIMH menunjukkan bahwa kondisi ini dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, psikologis, perilaku, sosial, dan lingkungan.

Rasa tidak puas terhadap tubuh, perfeksionisme, kecemasan, dan depresi dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan makan.

Tekanan untuk memenuhi standar tertentu mengenai bentuk tubuh juga dapat membuat hubungan seseorang dengan makanan menjadi semakin tidak sehat.

Lingkungan keluarga dan pengalaman pribadi dapat memengaruhi cara seseorang memandang makanan dan tubuh.

Komentar negatif mengenai berat badan, pengalaman ditertawakan karena bentuk tubuh, atau tekanan dari orang terdekat dapat menjadi salah satu faktor risiko.

Media sosial, iklan, artis/influencer/KOL, dan tren diet dapat memperkuat anggapan bahwa seseorang harus memiliki bentuk tubuh tertentu untuk dianggap ideal.

Paparan terhadap konten yang terus menekankan penurunan berat badan juga dapat memengaruhi citra tubuh pada sebagian orang.

Faktor genetik dan biologis juga dapat berperan dalam meningkatkan risiko eating disorder. Namun, tidak ada satu gen yang secara langsung menentukan apakah seseorang akan mengalami gangguan makan.

Dengan kata lain, eating disorder umumnya tidak muncul karena satu faktor saja. Berbagai faktor dapat saling berinteraksi dan memengaruhi risiko seseorang mengalami gangguan makan.

Ada beberapa jenis gangguan makan dengan pola dan gejala yang berbeda. Mengutip NIMH, tiga jenis yang umum dikenal adalah anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan binge-eating disorder.

Anoreksia nervosa ditandai dengan pembatasan asupan makanan secara ekstrem dan rasa takut yang kuat terhadap kenaikan berat badan.

Seseorang juga dapat memiliki pandangan yang tidak sesuai terhadap bentuk atau berat tubuhnya, bahkan ketika berat badannya sudah berada pada tingkat yang berbahaya.

Bulimia nervosa ditandai dengan episode makan dalam jumlah banyak disertai perilaku untuk mengimbangi atau mencegah kenaikan berat badan.

Perilaku tersebut dapat berupa memaksakan muntah, berpuasa, berolahraga secara berlebihan, atau menggunakan obat pencahar secara tidak tepat.

Binge-eating disorder membuat seseorang berulang kali makan dalam jumlah besar dalam waktu singkat dan merasa kehilangan kendali terhadap perilaku makannya.

Episode tersebut sering diikuti rasa malu, bersalah, atau tertekan, tetapi orang tersebut tetap kesulitan menghentikan siklusnya.

Ketika pola makan, pikiran tentang tubuh, atau perilaku terkait makanan mulai mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Penanganan dapat melibatkan psikoterapi, pemantauan kondisi medis, konseling nutrisi, dan obat-obatan tertentu sesuai jenis gangguan serta kondisi pasien. Pada kasus yang berat, seseorang mungkin membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Dukungan dari keluarga atau orang terdekat juga dapat membantu proses pemulihan. Yang terpenting, hindari menghakimi atau menyederhanakan kondisi dengan menyebutnya hanya sebagai masalah kemauan untuk makan lebih banyak atau berdiet lebih sehat.

Jika kamu atau orang terdekat mulai menunjukkan tanda yang mengarah pada eating disorder, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan mental. Semakin cepat mendapatkan bantuan yang sesuai, semakin besar kesempatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan

Jan 07, 2026

Jan 20, 2026