Melansir Jed Foundation, seseorang dengan eating disorder bisa sangat membatasi makanan, makan dalam jumlah berlebihan dalam waktu singkat, atau melakukan perilaku tertentu untuk mengimbangi makanan yang sudah dikonsumsi.
Tanda-tanda eating disorder tidak selalu disertai perubahan berat badan yang terlihat, melainkan dapat terlihat dari perubahan pola makan yang ekstrem, kekhwatiran berlebih terhadap berat badan atau bentuk tubuh, rasa bersalah atau malu setelah makan, hingga perilaku seperti makan secara sembunyi-sembunyi atau berolahraga secara berlebih untuk “menebus” makanan yang dikonsumsi.
Kondisi ini bisa dialami siapa saja, terlepas dari usia, jenis kelamin, bentuk tubuh, atau berat badan. Bahkan, seseorang tidak harus terlihat kurus untuk mengalami eating disorder.
Apakah Eating Disorder Berkaitan dengan Kesehatan Mental?
Ya, eating disorder berkaitan erat dengan kesehatan mental. Seseorang dengan gangguan makan dapat memiliki kekhawatiran berlebih mengenai berat badan, bentuk tubuh, makanan, atau cara mengontrol pola makan.
Kondisi ini juga dapat muncul bersamaan dengan gangguan mental lain, seperti kecemasan dan depresi. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan mengubah pola makan, tetapi perlu memperhatikan kondisi fisik dan psikologis secara menyeluruh.
Yang perlu dipahami, eating disorder bukanlah pilihan seseorang. Dengan penanganan yang tepat, kondisi ini dapat ditangani dan pemulihan tetap memungkinkan.
Apa Saja Tanda-Tanda Eating Disorder?
Tanda eating disorder dapat berbeda pada setiap orang dan tidak selalu terlihat dari perubahan berat badan. Beberapa perubahan pola makan, pikiran, dan perilaku yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Perubahan pola makan ekstrem
Perubahan seperti melewatkan banyak waktu makan, membatasi jenis makanan secara berlebihan, atau memiliki aturan makan yang sangat kaku perlu diperhatikan.
Kebiasaan tersebut menjadi lebih mengkhawatirkan ketika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau kesehatan.
2. Terlalu khawatir dengan berat badan
Memikirkan berat badan atau bentuk tubuh secara berlebihan dapat menjadi salah satu tanda.
Kekhawatiran ini bisa membuat seseorang terus melakukan diet ketat atau merasa sangat takut mengalami kenaikan berat badan.
3. Merasa bersalah setelah makan
Rasa bersalah atau malu yang intens setelah makan juga patut diperhatikan, terutama jika sering terjadi.
Pada beberapa kasus, perasaan tersebut dapat diikuti dengan usaha untuk mengompensasi makanan yang dikonsumsi.
4. Makan secara sembunyi-sembunyi
Seseorang dengan gangguan makan mungkin sengaja makan sendirian atau menyembunyikan kebiasaan makannya karena merasa malu, bersalah, atau takut dinilai orang lain.
5. Berolahraga secara berlebihan
Olahraga menjadi tidak sehat ketika dilakukan secara berlebihan, terutama jika tujuannya untuk “menebus” makanan yang telah dikonsumsi.
Perilaku ini dapat menjadi salah satu tanda adanya hubungan yang tidak sehat dengan makanan dan berat badan.
Apa Penyebab Eating Disorder?
Tidak ada satu penyebab spesifik yang dapat menjelaskan semua kasus eating disorder. Penelitian NIMH menunjukkan bahwa kondisi ini dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, psikologis, perilaku, sosial, dan lingkungan.
Faktor psikologis
Rasa tidak puas terhadap tubuh, perfeksionisme, kecemasan, dan depresi dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan makan.
Tekanan untuk memenuhi standar tertentu mengenai bentuk tubuh juga dapat membuat hubungan seseorang dengan makanan menjadi semakin tidak sehat.
Faktor lingkungan
Lingkungan keluarga dan pengalaman pribadi dapat memengaruhi cara seseorang memandang makanan dan tubuh.
Komentar negatif mengenai berat badan, pengalaman ditertawakan karena bentuk tubuh, atau tekanan dari orang terdekat dapat menjadi salah satu faktor risiko.
Faktor sosial
Media sosial, iklan, artis/influencer/KOL, dan tren diet dapat memperkuat anggapan bahwa seseorang harus memiliki bentuk tubuh tertentu untuk dianggap ideal.
Paparan terhadap konten yang terus menekankan penurunan berat badan juga dapat memengaruhi citra tubuh pada sebagian orang.
Faktor biologis
Faktor genetik dan biologis juga dapat berperan dalam meningkatkan risiko eating disorder. Namun, tidak ada satu gen yang secara langsung menentukan apakah seseorang akan mengalami gangguan makan.
Dengan kata lain, eating disorder umumnya tidak muncul karena satu faktor saja. Berbagai faktor dapat saling berinteraksi dan memengaruhi risiko seseorang mengalami gangguan makan.
Apa Saja Jenis-Jenis Eating Disorder?
Ada beberapa jenis gangguan makan dengan pola dan gejala yang berbeda. Mengutip NIMH, tiga jenis yang umum dikenal adalah anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan binge-eating disorder.
Anoreksia nervosa
Anoreksia nervosa ditandai dengan pembatasan asupan makanan secara ekstrem dan rasa takut yang kuat terhadap kenaikan berat badan.
Seseorang juga dapat memiliki pandangan yang tidak sesuai terhadap bentuk atau berat tubuhnya, bahkan ketika berat badannya sudah berada pada tingkat yang berbahaya.
Bulimia nervosa
Bulimia nervosa ditandai dengan episode makan dalam jumlah banyak disertai perilaku untuk mengimbangi atau mencegah kenaikan berat badan.
Perilaku tersebut dapat berupa memaksakan muntah, berpuasa, berolahraga secara berlebihan, atau menggunakan obat pencahar secara tidak tepat.
Binge-eating disorder
Binge-eating disorder membuat seseorang berulang kali makan dalam jumlah besar dalam waktu singkat dan merasa kehilangan kendali terhadap perilaku makannya.
Episode tersebut sering diikuti rasa malu, bersalah, atau tertekan, tetapi orang tersebut tetap kesulitan menghentikan siklusnya.
Kapan Perlu Mencari Bantuan?
Ketika pola makan, pikiran tentang tubuh, atau perilaku terkait makanan mulai mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Penanganan dapat melibatkan psikoterapi, pemantauan kondisi medis, konseling nutrisi, dan obat-obatan tertentu sesuai jenis gangguan serta kondisi pasien. Pada kasus yang berat, seseorang mungkin membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Dukungan dari keluarga atau orang terdekat juga dapat membantu proses pemulihan. Yang terpenting, hindari menghakimi atau menyederhanakan kondisi dengan menyebutnya hanya sebagai masalah kemauan untuk makan lebih banyak atau berdiet lebih sehat.
Jika kamu atau orang terdekat mulai menunjukkan tanda yang mengarah pada eating disorder, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan mental. Semakin cepat mendapatkan bantuan yang sesuai, semakin besar kesempatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.