apa itu revenge saving

Apa Itu Revenge Saving? Pahami Manfaat dan Risikonya

1 Oktober 2026 | Allianz Indonesia
Apakah kamu pernah mendengar tren mengenai apa itu revenge saving? Sebenarnya, revenge saving adalah kebiasaan menabung secara agresif setelah mengalami periode boros, ketidakpastian finansial, atau merasa kurang siap menghadapi kondisi ekonomi. Tujuannya biasanya untuk kembali merasa punya kendali atas keuangan dengan memangkas pengeluaran dan meningkatkan jumlah uang yang disimpan.

Istilah ini menjadi perhatian setelah sebelumnya muncul tren revenge spending, yaitu kebiasaan mengeluarkan uang lebih banyak untuk perjalanan, hiburan, dan mencari pengalaman baru setelah periode pembatasan akibat pandemi. 

Jika revenge spending mendorong seseorang untuk membelanjakan lebih banyak, revenge saving justru mendorong seseorang untuk menahan pengeluaran dan memperbesar tabungan. Meski dapat membantu memperkuat kondisi keuangan, kebiasaan menabung secara berlebihan juga perlu dihindari agar kebutuhan saat ini dan tujuan finansial lainnya tetap terpenuhi.

Revenge saving adalah pola menabung dengan intensitas tinggi, biasanya didorong oleh keinginan untuk memperbaiki kebiasaan finansial sebelumnya. Seseorang mungkin mulai mengurangi berbagai pengeluaran yang dianggap tidak penting dan mengalokasikan lebih banyak pendapatan ke tabungan, seperti dikutip dari  Yahoo Finance.

Berbeda dari menabung secara rutin, revenge saving sering kali dipicu oleh emosi seperti rasa bersalah setelah terlalu banyak berbelanja atau kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi. Karena itu, keputusan finansial yang diambil tidak selalu berawal dari rencana keuangan jangka panjang.

Contohnya, kamu yang sebelumnya sering berbelanja secara impulsif, mungkin tiba-tiba memangkas banyak pengeluaran dan mengalihkan uangnya ke tabungan. Meski begitu, financial planning tetap perlu seimbang dengan membagi pendapatan untuk kebutuhan saat ini, dana darurat, investasi, dan proteksi yang tepat.

Ada beberapa alasan mengapa seseorang akan melakukan revenge saving. Berikut ini beberapa di antaranya:

Pengeluaran yang tidak terkendali dapat membuat seseorang merasa belum memiliki kendali atas kondisi keuangannya. Revenge saving kemudian menjadi cara untuk mengubah kebiasaan tersebut dengan meningkatkan disiplin dalam mengelola uang.

Inflasi, biaya hidup yang meningkat, kabar pemutusan hubungan kerja, atau ketidakpastian ekonomi dapat membuat seseorang lebih berhati-hati menggunakan uang. 

Menambah simpanan bisa memberikan rasa aman karena ada dana yang dapat digunakan ketika kondisi tidak berjalan sesuai rencana.

Revenge saving juga bisa muncul ketika seseorang ingin mengejar target finansial setelah merasa tertinggal. 

Misalnya, membangun dana darurat, menyiapkan uang muka rumah, melunasi utang, atau mengumpulkan dana untuk kebutuhan besar.

Salah satu sisi positif revenge saving adalah membantu meningkatkan kesadaran terhadap pola pengeluaran. Ketika kamu mulai mengevaluasi kembali setiap transaksi, kamu dapat menemukan pengeluaran yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Kebiasaan ini juga dapat mempercepat pembentukan tabungan dan/atau dana darurat, terutama jika sebelumnya kamu belum memiliki dana yang cukup untuk menghadapi pengeluaran tidak terduga. Memiliki simpanan yang lebih kuat dapat memberikan ruang finansial ketika muncul kebutuhan di luar anggaran bulanan.

Selain itu, menetapkan target tabungan tertentu dapat membuat proses menabung terasa lebih terarah. NerdWallet juga menyarankan agar kebiasaan menabung agresif ini memiliki tujuan yang jelas, bukan hanya dilakukan karena rasa cemas terhadap kondisi keuangan.

Menabung lebih banyak tidak selalu berarti kondisi keuangan otomatis menjadi lebih sehat. Risiko revenge saving dapat muncul ketika kamu memangkas pengeluaran secara berlebihan hingga kebutuhan penting atau tujuan finansial lain ikut terabaikan.

Mengurangi pengeluaran yang tidak penting berbeda dengan menghilangkan hampir semua pengeluaran untuk bersantai atau memenuhi kebutuhan pribadi. Jika anggaran terlalu ketat, kamu bisa kesulitan mempertahankan kebiasaan tersebut dalam jangka panjang dan justru mengalami kelelahan dalam mengelola keuangan.

Memusatkan seluruh dana tambahan ke tabungan juga perlu dipertimbangkan kembali jika kamu sudah memiliki dana darurat yang memadai. Untuk tujuan jangka panjang, sebagian dana dapat dipertimbangkan untuk investasi sesuai profil risiko, tujuan, dan jangka waktu yang dimiliki.

Menabung dan investasi memiliki fungsi yang berbeda. Tabungan lebih sesuai untuk kebutuhan yang membutuhkan akses dana relatif cepat, sedangkan investasi umumnya digunakan untuk tujuan jangka panjang dengan risiko yang berbeda.

Keuangan yang sehat bukan hanya tentang berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan. Perlindungan terhadap risiko kesehatan dan jiwa juga perlu diperhitungkan karena kejadian tidak terduga dapat memengaruhi kondisi finansial yang sudah dibangun.

Alih-alih menjadikan revenge saving sebagai perlombaan untuk menghemat sebanyak mungkin, gunakan dorongan menabung tersebut untuk mengevaluasi kembali rencana keuanganmu. Mulai dengan menentukan tujuan, melihat kemampuan menyimpan uang setiap bulan, lalu membagi pendapatan sesuai kebutuhan dan prioritas.

Pastikan kebutuhan rutin tetap terpenuhi dan dana darurat dibangun sesuai kondisi finansialmu. Setelah itu, pertimbangkan alokasi untuk investasi dan proteksi agar rencana keuangan tidak hanya berfokus pada tabungan. 

Kamu juga dapat mengotomatiskan sebagian transfer ke rekening tabungan atau investasi setelah menerima penghasilan. Cara ini membantu membangun kebiasaan secara konsisten tanpa harus mengambil keputusan menabung setiap kali menerima pemasukan.

Yang tidak kalah penting, tentukan kapan kamu akan mengevaluasi kembali strategi tersebut. Jika pendapatan, kebutuhan, utang, atau tujuan finansial berubah, jumlah tabungan dan alokasi dana juga sebaiknya disesuaikan.

Pada akhirnya, revenge saving dapat menjadi dorongan untuk memperbaiki kebiasaan finansial, tetapi bukan berarti semakin banyak uang yang ditabung selalu semakin baik. Perencanaan keuangan yang sehat sebaiknya tidak hanya mengejar jumlah tabungan sebesar-besarnya. Kebutuhan saat ini, dana darurat, investasi, dan proteksi perlu ditempatkan dalam satu rencana agar kondisi keuangan tetap memiliki keseimbangan antara kebutuhan jangka pendek dan tujuan masa depan.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan

Jan 07, 2026

Jan 20, 2026