Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Lebih Jauh mengenai Utang Produktif, Utang yang Tidak Selalu Buruk

04 Januari 2021 | Allianz Indonesia
Utang selalu diasosiasikan sebagai sesuatu yang buruk, sebagai sumber masalah, atau sesuatu yang negatif. Namun ada yang dinamakan utang produktif yang sebenarnya bermanfaat. Kenali lebih jauh mengenai utang produktif dan perbedaannya dengan utang konsumtif.

Saat ini akses untuk mendapatkan pinjaman uang telah semakin mudah. Selain melalui kartu kredit, banyak lembaga keuangan yang mengucurkan dana segar lewat proses yang cepat dan syarat yang tidak rumit. Kemudian ini membuat sebagian orang yang tidak pikir panjang untuk mengambil pinjaman.

Berutang sebenarnya tidak selalu buruk. Ada yang dinamakan utang produktif yang justru menguntungkan.

Apa Itu Utang?

Utang adalah sejumlah uang yang dipinjam oleh satu pihak dari pihak lain. Utang digunakan oleh individu maupun perusahaan sebagai metode untuk melakukan pembelian dalam jumlah besar yang tidak mampu dibeli dalam keadaan normal.

Pemberi utang memberikan sejumlah kepada pihak peminjam dengan syarat uang tersebut harus dibayar kembali di kemudian hari. Baik itu dengan cara mencicil atau tunai, dengan bunga atau tanpa bunga.

Apa yang Membedakan Utang Produktif dan Utang Konsumtif?

Perbedaan utang produktif dan utang konsumtif bukan terletak pada jenis produk yang dibeli, melainkan pada fungsi atau peruntukkan utang tersebut.

Utang produktif adalah utang yang menciptakan nilai tambah di masa depan. Meskipun cicilan utang sudah lunas, namun aset atau pembelian dari utang tersebut terus meningkatkan nilainya atau menambah pemasukan.

Beberapa contoh utang produktif di antaranya KPR untuk membeli properti, KTA untuk mengembangkan bisnis, kredit kendaraan bermotor untuk taksi online, atau cicilan laptop untuk bekerja sebagai desainer grafis.

Sementara itu utang konsumtif adalah utang untuk membeli benda atau membiayai hal-hal yang habis dalam sekali waktu, ataupun mengalami penurunan nilai seiring waktu. Misalnya adalah membeli ponsel model terbaru, belanja baju model teranyar, atau membeli jam tangan mahal untuk koleksi.

Sudah Yakin Utangmu Produktif?

Kamu harus berhati-hati membedakan utang produktif dan konsumtif. Pasalnya, banyak orang yang beranggapan sedang sedang mengambil utang produktif, padahal faktanya tidak demikian.

Contohnya Bono membeli sepeda motor dengan alasan untuk menambah penghasilan sebagai pengemudi online di akhir pekan. Bono pun menjatuhkan pilihannya pada Kawasaki Ninja 250SL seharga Rp45 juta.

Setiap bulan, Bono harus membayar cicilan Rp2 juta selama 3 tahun. Namun pada faktanya, Bono lebih sering menghabiskan waktu untuk nongkrong di cafe saat akhir pekan.

Penghasilannya bukannya bertambah, melainkan Bono justru harus merogoh kocek dari gaji bulanannya untuk melunasi cicilan tersebut dan akhirnya menambah beban finansialnya. Padahal, Bono sebenarnya bisa saja memilih motor baru di kisaran harga Rp20 juta atau bahkan motor bekas sekalipun, sehingga tidak terbebani cicilan.

 

Baca juga: Kenali dan Batasi Latte Faktor, Pengeluaran Receh yang Bisa Menguras Dompet

 

Tips agar Tidak Terjerat Utang Konsumtif

Baik itu utang produktif maupun utang konsumtif, hal paling penting yang harus kamu lakukan adalah mampu membayarnya. Untuk itu, kamu perlu memikirkan baik-baik sebelum berutang.

Renungkan apakah pembelian tersebut merupakan keinginan atau kebutuhan. Jika memang kebutuhan, apakah benar-benar mendesak? Apakah bisa diganti dengan alternatif lain yang harganya lebih terjangkau?

Selain itu, pertimbangan juga hal-hal berikut:

1. Rasio utang

Rasio utang yang sehat adalah tidak melebihi 30 persen penghasilan. Jika kamu akan mengajukan KPR atau KTA, biasanya bank akan mengecek rasio utangmu untuk menilai apakah kamu keuanganmu sehat.

2. Cicilan dan bunga

Besaran cicilan bisa diketahui dari tenor (jangka waktu pelunasan) dan bunga yang ditawarkan. Semakin panjang tenor, biasanya cicilan akan semakin kecil, namun dengan bunga yang terus berjalan, total biaya yang kamu bayarkan akan semakin besar.

Jika menggunakan kartu kredit, pilihlah cicilan 0% dan bayarlah sebelum jatuh tempo agar tidak dikenai bunga.

3. Opsi lain selain berutang

Berutang bukanlah jalan satu-satunya, terutama jika rasio keuanganmu tidak sehat atau merasa tidak yakin bisa melunasinya. Jika kamu memiliki dana darurat, ini bisa digunakan terutama untuk kebutuhan mendesak seperti biaya pengobatan.

Kamu juga bisa menjual asetmu seperti emas atau kendaraan, sambil berupaya untuk mencari pemasukan lain.

Berutang pada keluarga atau teman? Boleh saja sih, asal kamu membuat komitmen yang jelas untuk melunasinya. Sayang kan, kalau sampai hubungan kekeluargaan jadi rusak gara-gara utang. Ketika ditagih utang, jangan sampai jadi lebih galak dari yang menagih ya!

 

Baca juga: 5 Bekal Pelajaran Finansial Penting untuk Tahun Baru 2021

 

Berbagai promo, diskon, dan gimmick, terutama menjelang akhir tahun memang menggoda. Sepintas, kamu mungkin berpikir kalau pembelianmu bisa menambah aset. Namun coba pikirkan lagi, apakah benda tersebut akan lebih tinggi nilainya jika dijual di kemudian hari atau justru malah merosot?

Yuk, lebih bijak lagi mengelola uangmu.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan