Untuk membantu meredakannya, orang tua dapat menggunakan tetes hidung saline khusus bayi, membersihkan lendir secara perlahan dengan alat penyedot hidung yang sesuai secara lembut, serta menjaga kelembapan udara. Namun, jika bayi mengalami kesulitan bernapas, sulit menyusu, atau mengalami demam saat berusia di bawah tiga bulan, sebaiknya segera cari bantuan medis.
Ketahui juga apa saja penyebab-penyebab lain tersumbatnya hidung pada bayi dan cara mengatasinya yang bisa dilakukan di rumah. Simak penjelasan selengkapnya di artikel ini!
Apa Saja Penyebab Hidung Tersumbat pada Bayi?
Hidung tersumbat terjadi ketika jaringan di dalam hidung membengkak atau lendir menumpuk sehingga aliran udara menjadi terbatas. Menurut Mayo Clinic, hidung tersumbat dan berair merupakan gejala utama pilek pada bayi. Meski sering terjadi dan dapat membaik dengan perawatan sederhana, orang tua tetap perlu mengenali penyebab dan gejala yang menyertainya.
1. Pilek Akibat Infeksi Virus
Pilek merupakan salah satu penyebab hidung tersumbat yang paling umum pada bayi. Infeksi virus dapat memicu pembengkakan di dalam hidung dan meningkatkan produksi lendir. Selain hidung tersumbat, bayi mungkin mengalami bersin, batuk, demam, lebih rewel, atau kesulitan menyusu karena harus mengatur napas sambil mengisap ASI atau susu dari botol.
Bayi lebih mudah terkena infeksi karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang. Penularan dapat terjadi melalui percikan pernapasan atau kontak dengan tangan dan permukaan yang terkontaminasi.
Jika penyebabnya pilek biasa, gejala umumnya bisa membaik secara bertahap. Namun, bayi yang masih berusia sangat muda perlu mendapat perhatian lebih karena gejala awal infeksi terkadang mirip dengan kondisi medis yang lebih serius.
2. Penumpukan Lendir di Hidung
Saluran hidung bayi masih kecil sehingga lendir yang menumpuk meski dalam jumlah sedikit pun dapat mengganggu aliran udara, sehingga membuat napasnya terdengar berbunyi atau terasa tersumbat. Lendir bisa menumpuk saat bayi pilek, berada di lingkungan yang kering, atau mengalami iritasi pada hidung.
Kondisi ini dapat membuat bayi sulit menyusu karena mereka harus mengatur napas sambil mengisap ASI atau susu dari botol. Akibatnya, bayi mungkin sering berhenti menyusu, melepas puting, atau terlihat tidak nyaman.
Jika lendir mengganggu proses menyusu atau membuat bayi kesulitan bernapas melalui hidung, orang tua dapat menggunakan tetes saline khusus bayi dan alat penyedot lendir sesuai petunjuk. Hindari memasukkan jari, kapas, atau benda lain terlalu dalam ke lubang hidung karena dapat melukai jaringan hidung yang sensitif.
3. Udara Kering dan Paparan Iritan
Udara yang terlalu kering dapat membuat bagian dalam hidung terasa lebih kering dan iritasi. Selain itu, asap rokok, debu, parfum yang menyengat, dan polusi juga dapat mengganggu saluran pernapasan bayi.
Paparan iritan bisa menyebabkan bayi bersin, mengalami hidung berair, atau merasa tersumbat meskipun tidak sedang pilek.
Untuk membantu mencegahnya, pastikan ruangan memiliki sirkulasi udara yang baik dan hindari merokok di sekitar bayi. Sebaiknya, jauhkan juga bayi dari asap, pewangi ruangan yang menyengat, dan debu berlebihan.
4. Alergi
Pada sebagian bayi, paparan alergen tertentu dapat memicu reaksi alergi yang membuat hidung berair, bersin, atau tersumbat. Namun, hidung tersumbat pada bayi tidak selalu disebabkan oleh alergi.
Jika keluhan berulang atau muncul setelah bayi terpapar sesuatu di lingkungannya, perhatikan pola gejalanya dan konsultasikan dengan dokter. Jangan langsung memberikan obat alergi tanpa arahan tenaga kesehatan karena pilihan pengobatan perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi bayi.
5. Infeksi Saluran Pernapasan Lainnya
Selain pilek biasa, hidung tersumbat dapat muncul bersama infeksi saluran pernapasan lainnya. Beberapa infeksi dapat menimbulkan batuk, napas cepat, demam, atau kesulitan menyusu.
Jika bayi tampak semakin lemas, bernapas dengan susah payah, atau menunjukkan perubahan perilaku yang tidak biasa, jangan hanya menganggapnya sebagai hidung tersumbat biasa. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan perawatan yang sesuai.
Cara Mengatasi Hidung Tersumbat pada Bayi di Rumah
Perawatan di rumah bertujuan membantu mengeluarkan lendir, menjaga bayi tetap mendapatkan ASI atau susu yang cukup, dan membuatnya lebih nyaman. Karena saluran hidung bayi masih kecil dan sensitif, setiap tindakan untuk mengatasi hidung tersumbat perlu dilakukan secara hati-hati dan lembut.
Berikut langkah yang dapat dilakukan orang tua di rumah:
1. Gunakan Tetes Hidung Saline Khusus Bayi
Tetes hidung saline merupakan larutan garam steril yang dapat membantu melembapkan bagian dalam hidung dan mengencerkan lendir agar lebih mudah dikeluarkan. Pilih produk saline yang memang ditujukan untuk bayi dan gunakan sesuai petunjuk pada kemasan atau arahan dokter.
Umumnya, saline diteteskan ke lubang hidung sesuai petunjuk produk, lalu dibiarkan sebentar agar lendir lebih mudah dibersihkan. Setelah itu, lendir yang mengganggu dapat disedot perlahan menggunakan alat penyedot hidung khusus bayi.
Hindari penggunaan obat tetes hidung yang mengandung dekongestan tanpa resep atau arahan dokter. Untuk bayi, saline tanpa obat merupakan pilihan yang lebih aman untuk membantu meredakan hidung tersumbat.
2. Bersihkan Lendir dengan Alat Penyedot Hidung
Jika lendir mengganggu pernapasan melalui hidung atau membuat bayi kesulitan menyusu, orang tua dapat menggunakan bulb syringe atau alat penyedot lendir khusus bayi dengan lembut agar tidak melukai bagian dalam hidung.
Berikut langkah umum yang bisa diikuti sesuai petunjuk alat:
- Cuci tangan sebelum memulai.
- Jika diperlukan, gunakan tetes saline khusus bayi untuk membantu mengencerkan lendir.
- Ikuti petunjuk alat. Untuk bulb syringe, tekan bagian bulb sebelum mendekatkannya ke lubang hidung.
- Masukkan ujungnya hanya sedikit ke bagian depan lubang hidung.
- Sedot lendir dengan lembut tanpa memberikan tekanan berlebihan.
- Bersihkan alat setelah digunakan sesuai petunjuk produsen.
Jangan terlalu sering menyedot hidung bayi karena tindakan ini dapat menyebabkan iritasi atau membuat hidung terluka. Jika kamu belum yakin cara menggunakannya, mintalah dokter atau tenaga kesehatan menunjukkan langkah yang benar.
3. Jaga Kelembapan Udara di Ruangan
Udara yang cukup lembap dapat membantu mengurangi kekeringan pada saluran hidung dan membuat lendir lebih mudah dikeluarkan. Jika udara di rumah terasa kering, orang tua dapat mempertimbangkan penggunaan humidifier dengan uap dingin.
Pastikan alat dibersihkan secara rutin dan airnya diganti sesuai petunjuk produsen agar tidak menjadi tempat berkembangnya jamur atau bakteri. Hindari humidifier dengan uap panas karena berisiko menyebabkan luka bakar jika tersentuh atau tumpah di dekat bayi, serta bukan pilihan yang aman untuk meredakan hidung tersumbat.
4. Pastikan Posisi Tidur Bayi Tetap Aman
Ketika hidung tersumbat, bayi mungkin tampak lebih nyaman saat digendong dalam posisi tegak ketika terjaga dan diawasi. Namun, saat tidur, bayi tetap perlu dibaringkan telentang di permukaan yang rata dan kokoh.
Jangan mengganjal kepala bayi dengan bantal, meninggikan kasur, atau menggunakan penyangga tidur untuk mengatasi hidung tersumbat. Posisi tidur yang miring atau tidak rata dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan membuat bayi berada dalam posisi yang tidak aman.
Jika bayi tampak kesulitan bernapas meskipun sudah dibantu membersihkan lendir, jangan mengandalkan perubahan posisi sebagai satu-satunya solusi. Sebaiknya, kamu bisa segera cari bantuan medis.
5. Hindari Pemberian Obat Tanpa Arahan Dokter
Obat flu dan obat dekongestan yang dijual bebas tidak boleh diberikan sembarangan kepada bayi. Sebagian obat tersebut tidak aman untuk anak kecil dan dapat menimbulkan efek samping serius.
Hindari pula memberikan antibiotik tanpa resep dokter karena pilek umumnya disebabkan oleh virus, sedangkan antibiotik digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri tertentu. Jangan mengoleskan minyak esensial atau bahan beraroma kuat di dekat hidung bayi tanpa memastikan keamanannya.
Jika kamu ingin menggunakan obat apa pun, termasuk obat tradisional, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter agar sesuai dengan usia dan kondisi bayi.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Tidak semua hidung tersumbat membutuhkan penanganan darurat. Namun, orang tua perlu memperhatikan usia bayi, tingkat keparahan gejala, perubahan pada pola napas, kemampuan menyusu, serta perubahan perilakunya.
Segera bawa bayi ke fasilitas kesehatan atau cari pertolongan darurat jika muncul tanda berikut:
- Bayi kesulitan bernapas, bernapas sangat cepat, atau terlihat bagian bawah tulang rusuk tertarik ke dalam saat menarik napas.
- Bibir atau wajah tampak kebiruan atau keabu-abuan.
- Bayi sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak merespons seperti biasanya.
- Bayi tidak mampu menyusu karena kesulitan bernapas.
- Bayi menunjukkan tanda kekurangan cairan yang berat.
Selain itu, bayi berusia di bawah tiga bulan yang mengalami suhu tubuh 38°C atau lebih perlu segera dinilai oleh tenaga kesehatan. Pada usia ini, demam dapat menjadi tanda infeksi serius meskipun gejala lainnya belum terlihat jelas.
NHS juga merekomendasikan untuk segera menghubungi dokter jika gejala semakin memburuk, demam muncul, bayi menyusu lebih sedikit, atau popok basah lebih sedikit daripada biasanya. Jangan menunggu sampai gejalanya semakin berat untuk meminta pertolongan.
Jadi, penyebab hidung tersumbat pada bayi bisa beragam, mulai dari pilek dan penumpukan lendir hingga paparan iritan. Orang tua dapat membantu meredakannya dengan saline khusus bayi, penyedotan lendir yang lembut, hingga menjaga udara tetap nyaman. Namun, jika muncul tanda kesulitan bernapas, demam pada bayi yang masih sangat muda, atau kesulitan menyusu, segera konsultasikan dengan dokter.
Selain memperhatikan kesehatan bayi sehari-hari, orang tua juga dapat merencanakan perlindungan kesehatan keluarga sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial. Untuk membantu mempersiapkan kebutuhan kesehatan keluarga, kamu dapat mempertimbangkan Allianz Preferred Medical yang menawarkan manfaat medis yang komprehensif.
Jika mencari pilihan perlindungan kesehatan berbasis syariah, AlliSya Preferred Medical juga dapat menjadi pilihan untuk dipelajari. Pastikan kamu memahami manfaat, ketentuan, dan pengecualian polis sebelum memilih perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.