Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Wujudkan Kemerdekaan Finansial di Masa Pandemi dengan Langkah Ini

17 Agustus 2021 | Allianz Indonesia
Bagaimana cara mewujudkan kemerdekaan finansial di hari kemerdekaan ini? Yuk simak dalam artikel ini!

Tahun ini, kita sampai juga pada peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke-76. Setiap kali memperingati kemerdekaan, itu berarti kita memperingati momen ketika bangsa Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan. Semangat kemerdekaan inilah yang selalu kita rayakan setiap tahunnya, agar setiap aspek kehidupan bisa terbebas dari belenggu. Salah satu kemerdekaan yang ingin dicapai oleh banyak orang ialah merdeka secara finansial.

Istilah financial freedom atau kemerdekaan finansial pertama kali dicetuskan oleh pakar keuangan Amerika Serikat, Robert T Kiyosaki. Menurut Kiyosaki, kemerdekaan finansial bukanlah kondisi di mana seseorang kaya raya atau punya harta berlimpah. Melainkan, kondisi di mana seseorang tak perlu lagi bekerja untuk menghasilkan uang, karena ia sudah memiliki tabungan dan penghasilan pasif yang bisa membiayai kebutuhan dan gaya hidupnya.

Mencapai kemerdekaan finansial memang tidak mudah, apalagi di masa pandemi yang memukul setiap sektor ekonomi seperti sekarang ini. Namun, hal itu bukan tidak mungkin terwujud. Dengan sejumlah langkah berikut, kita bisa mencapai kemerdekaan finansial meski di tengah pandemi sekalipun.

 

Baca juga: #YUKPAHAMI Pentingnya Mengingat Polis Asuransi Jiwa Unit Link yang Dimiliki

 

Ciri-ciri merdeka secara finansial

Budi Raharjo, co-founder dan direktur OneShildt Financial Planning mengatakan, kemerdekaan finansial tiap orang berbeda-beda, sesuai dengan siklus hidup (life cycle) yang sedang dijalani. Sebagai contoh, orang yang baru lulus kuliah dan pertama kali bekerja dikatakan merdeka finansial karena ia berpindah dari kondisi yang tadinya tergantung secara finansial, menjadi tidak tergantung lagi. “First jobber ini dikatakan sudah merdeka finansial level nol. Artinya, dia paling tidak dia bisa mencukupi kebutuhannya sendiri, tetapi belum punya ketahanan finansial,” ujar Budi kepada Allianz Life Indonesia.

Sementara bagi orang yang menjelang usia pensiun, ia dikatakan merdeka finansial jika ia punya tabungan, dana pensiun, atau penghasilan pasif yang cukup untuk mempertahankan gaya hidup selama masa pensiun hingga tutup usia.

Karena itu, Budi menjabarkan ciri-ciri orang yang merdeka secara finansial berdasarkan tahap kehidupannya. Ciri-ciri ini sejatinya tetap berlaku di setiap masa, termasuk dalam pandemi.

1. Memiliki dana darurat

Setelah mulai bekerja dan memiliki kemerdekaan finansial yang paling dasar, maka kamu perlu memikirkan strategi proteksi kekayaannya (wealth protection). Cara mengamankan aset dan kekayaan yang pertama ialah, kamu perlu memiliki dana darurat yang dapat dipakai jika tidak bekerja atau tidak memiliki pemasukan. “Bagi yang lajang, dana darurat yang perlu disiapkan ialah sebesar tiga kali hingga enam kali pengeluaran,” ujar Budi. Untuk membentuk dana darurat tersebut, kamu harus menyisihkan sebagian dari surplus penghasilannya.

Namun, seiring dengan bertambahnya usia dan tahapan kehidupan yang dilalui, dana darurat ini pun perlu disesuaikan. Ketika sudah menikah dan memiliki pasangan serta anak, maka kamu bisa dikatakan merdeka finansial jika ia punya dana darurat sebanyak enam kali hingga sembilan kali pengeluaran bulanan.

2. Memiliki asuransi

Setelah mengamankan dana darurat, kamu perlu mengamankan tabungan atau investasinya dari risiko pengeluaran yang besar jika jatuh sakit. Maka, produk yang bisa memberikan proteksi dari risiko keuangan tersebut ialah asuransi kesehatan.

Menurut Budi, asuransi kesehatan lebih prioritas untuk dimiliki orang yang baru bekerja karena ia masih muda, sehingga risiko tutup usia dengan cara alami relatif masih kecil.

Namun, jika orang yang lajang tersebut punya utang, memiliki tanggungan, atau menjadi pencari nafkah utama, maka ia juga perlu memiliki asuransi jiwa di samping asuransi kesehatan meskipun ia masih muda. “Asuransi jiwa diperlukan agar seseorang tidak meninggalkan utang kepada keluarga ketika ia tutup usia,” ujar Budi.

3. Memiliki dana pensiun

Setelah mengamankan proteksi, kamu siap melangkah menuju kemerdekaan finansial selanjutnya dengan membentuk dana pensiun. “Saat karier menanjak, surplus makin banyak, maka financial security pun makin baik. Ini saatnya langkah menuju financial freedom naik kelas lagi dengan menyiapkan dana pensiun,” jelas Budi.

Tujuan menyiapkan dana pensiun ialah agar kamu punya tabungan dan aset yang bisa menutup kebutuhan hidup dengan gaya hidup yang diinginkan, tanpa perlu bekerja lagi. Jika kamu berhasil mengamankan tabungan dan aset tersebut, sehingga ia memiliki kebebasan waktu dan uang, maka ia bisa dikatakan telah mencapai kemerdekaan finansial.

 

Baca juga: Generasi Corona Susah Dapat Kerja? Coba 6 Tip Cari Kerja untuk First Jobber di Masa Pandemi

Budi Raharjo, co-founder dan direktur OneShildt Financial Planning

 Strategi mencapai kemerdekaan finansial

Dengan memahami bahwa setiap tahapan kehidupan memiliki ciri-ciri kemerdekaan finansial masing-masing, maka jelaslah bahwa kemerdekaan finansial adalah suatu kondisi yang bisa dicapai. Tapi, untuk mencapai kemerdekaan finansial, kamu memang perlu melakukan strategi jangka panjang dengan konsisten. Tujuannya agar kamu punya financial security atau keamanan finansial, yang dapat menyelamatkannya di setiap kondisi perekonomian, termasuk saat ekonomi terpukul di masa pandemi.

1. Membangun kecerdasan finansial

Kemerdekaan finansial tidak akan terbangun jika tidak dibarengi dengan kecerdasan finansial. Kecerdasan finansial terdiri dari lima tahap, yakni:

  • Menghasilkan uang

Di tahap ini, kamu perlu memastikan ada penghasilan dengan memiliki pekerjaan atau usaha sebagai money generator. Kemudian, kecerdasan finansial diperlukan agar penghasilannya senantiasa meningkat melebihi kenaikan inflasi, karier meningkat, dan standar kualitas hidup juga meningkat. “Seseorang memerlukan bekal berupa pengetahuan dan keahlian agar penghasilan meningkat. Kedua hal inilah yang membuat kita dibayar mahal. Jadi, jangan ragu untuk berinvestasi pada diri sendiri sedari muda,” tutur Budi.

  • Menghasilkan surplus

Setelah mengamankan sumber penghasilan, kamu perlu memiliki kecerdasan penghasilan mengalokasikan penghasilan dengan bijak, agar tidak bisa menghasilkan surplus yang bisa ditabung, diinvestasikan, atau disimpan untuk kebutuhan dana masa depan, agar tidak harus bekerja untuk memperoleh uang di masa tua.

  • Mengembangkan uang dengan cara berinvestasi

Kamu perlu mengakumulasikan aset agar nilai uang dan asetnya dapat meningkat terus-menerus, dapat melawan tingkat inflasi, hingga suatu hari bisa mendatangkan penghasilan pasif. “Saat ini ada banyak cara mengembangkan uang dan instrumen investasi, baik aset riil maupun aset finansial, bahkan aset digital. Yang perlu diingat ketika ingin berinvestasi, seseorang perlu memiliki pengetahuan cara mengembangkan uang dan jangan investasi karena ikut-ikutan,” jelas Budi.

  • Melindungi uang

Kecerdasan finansial berikutnya yang diperlukan ialah kemampuan melindungi uang. Kemampuan ini penting agar jangan sampai tabungan dan investasi yang sudah dikumpulkan untuk tujuan keuangan di masa depan, harus terpakai untuk hal lain jika terjadi risiko. “Di sinilah peran asuransi untuk melindungi tabungan hasil kerja keras, agar tidak terpakai karena ada keluarga yang sakit,” terang Budi.

Ada empat macam risiko yang perlu dilindungi, yakni: risiko pribadi (sakit, cacat, wafat dini, wafat lama), risiko aset (rusak, bocor, kebakaran, hilang, depresiasi), risiko ekonomi (perubahan suku bunga, resesi), dan risiko tanggung jawab hukum (malpraktik, menabrak mobil orang lain).

  • Mengolah informasi

Kecerdasan finansial berikutnya yang dibutuhkan ialah kemampuan mengelola informasi. “Yang saya perhatikan, banyak orang kaya memang memiliki kepintaran mengolah informasi. Mereka tahu peluang apa yang mereka bisa ambil. Kemampuan ini diperlukan sampai kapanpun, siapapun, baik oleh keluarga muda maupun saat menjelang pensiun,” ujar Budi.

Kemampuan mengolah informasi memampukan seseorang menganalisa, misalnya saat pasar saham sedang bergejolak, maka investasi sebaiknya ditempatkan di obligasi. Atau, ketika harga properti naik, investor sebaiknya memperkuat likuiditas. Sehingga, pada saat harga properti turun atau resesi, mereka justru menambah aset.

2. Perencanaan keuangan

Perencanaan keuangan diperlukan sebagai peta jalan menuju kemerdekaan finansial. Ada enam aspek yang dikelola dalam perencanaan keuangan, yakni arus kas, risiko, investasi, pensiun, distribusi aset, dan pajak.

Dalam perencanaan arus kas, pastikan kamu memiliki rasio-rasio keuangan yang sehat. Contohnya, kamu sah-sah saja berutang, asal cicilan utang tidak lebih dari 35% penghasilan bulanan. Karena, jika cicilan utangmu lebih dari itu, kamu akan kesulitan untuk menabung atau mengalokasikan dana untuk pos yang lain. Kemudian, pastikan kamu mengambil utang untuk tujuan yang jelas.

 

Baca juga: Apa Hubungan Antara Emosi dan Keputusan Keuangan Anda?

 

Kreatif dalam menghadapi pandemi

Boleh jadi, kamu sudah merintis jalan menuju kemerdekaan finansial sejak jauh-jauh hari. Namun, pandemi cukup memberikan dampak yang besar terhadap perekonomianmu. Ya, kehidupan memang kerap menghadirkan pasang surut yang tak terduga. Sehingga, financial security yang sudah dibangun sejak lama, akhirnya menipis juga. Menghadapi situasi ini, Budi berpesan agar seseorang tidak berputus asa, dan memanfaatkan anugerah terbesar dari Tuhan, yakni akal dan kreativitas agar bisa menyambung kehidupan. “Apapun profesi kita, kita tidak boleh kehilangan jiwa kewirausahaan agar bertahan menghadapi benturan krisis keuangan, dan berbalik,” kata Budi.

Dengan strategi di atas, semoga kamu semakin semangat meniti kemerdekaan finansial, di masa pandemi sekalipun. Tetap semangat.

 

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan