Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Apa Hubungan Antara Emosi dan Keputusan Keuangan Anda?

27 Juli 2021 | Allianz Indonesia
Ada hubungan psikologis antara emosi, sifat, pengetahuan, dan prefrensi seseorang terhadap keputusan keuangan. Seperti apa?

Mungkin Anda pernah berpikir bahwa ilmu perilaku manusia (psikologi) tidak beririsan dengan ilmu keuangan yang banyak berhubungan dengan perhitungan dan statistika. Keduanya tampak seperti bumi dan langit. Namun, tahukah Anda bahwa keduanya memiliki keterkaitan?

Ya, penggabungan kedua ilmu tersebut disebut dengan behavioral finance atau perilaku keuangan. Kajian ini mulai mendapat pengakuan internasional sejak Daniel Kahneman dan Vernon Smith memperoleh hadiah nobel ekonomi pada tahun 2002 atas dedikasinya bertahun-tahun mengembangkan ilmu ini.

Lalu, apa itu behavioral finance?

Dirangkum dari berbagai sumber, behavioral finance adalah studi tentang pengaruh psikologi seseorang terhadap perilakunya menganalisis dan mengambil keputusan dalam keuangan, salah satunya dalam berinvestasi. Kajian ini mengatakan, sering kali emosi, karakter, ilmu, preferensi, dan hal-hal lain yang melekat pada diri manusia memengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan keuangan.

Keputusan-keputusan tersebut tentu memberi efek terhadap keputusan keuangan seseorang. Lebih jauh lagi, tindakan yang dipilih bisa memberi efek pada pasar secara keseluruhan.

Misalnya, saat saham tertentu ramai dibicarakan, seorang investor yang panik bisa over confident atau justru pesimistis. Sama halnya ketika investor berbondong-bondong membeli saham hanya karena promosi influencer. Pada saat seperti ini investor sering kali ‘terbawa emosi’ karena mencari kesempatan untung dan ogah rugi.

Contoh lain, saat harga saham anjlok, investor bisa buru-buru menjualnya, baik karena tren atau keputusannya sendiri. Tindakan itu memang memberi efek tenang karena artinya ia keluar dari risiko rugi saat harga saham jatuh lebih dalam.

Namun, andai saja investor mau menunggu, harga saham mungkin akan naik lagi. Bisa jadi pula dalam jangka panjang potensi imbal hasil saham yang sama menjadi berlipat-lipat ketimbang penjualan yang dilakukan saat panik.

Begitu juga dengan aktivitas pembelian saham yang terburu-buru karena tidak mau ketinggalan untung. Dalam kondisi emosional, investor tidak bisa melihat kemungkinan harga saham yang dibelinya bisa merosot lagi karena sudah overvalued. Membuat keputusan terlalu cepat, belum tentu membuahkan hasil yang sesuai harapan.

Hal-hal tersebut cukup menjelaskan bahwa investor tidak selalu rasional dalam mengambil keputusan. Sering kali keputusan yang emosional menciptakan anomali pergerakan pasar. Hal tersebut juga membuktikan bahwa faktor psikologi dapat menimbulkan kekeliruan yang amat mahal harganya.

Agar terhindar dari kekeliruan yang tidak perlu, ada baiknya Anda mengetahui faktor penyebabnya. Dengan mengetahui alasan di balik setiap keputusan, maka Anda bisa lebih sadar saat mengambil suatu tindakan.

Michael Pompian dalam bukunya Behavioral Finance and Wealth Management mengatakan, ada dua hal yang memengaruhi investor dalam mengambil keputusan, yaitu aspek kognitif dan emosi.

 

Baca Juga: Tips Mudah Menyusun Catatan Keuangan Pribadi ala Perencana Keuangan

 

Kognisi berkaitan dengan proses pemahaman, pengolahan, pengambilan kesimpulan atas suatu informasi atau fakta. Dalam bias jenis ini, ada penyimpangan atau berat sebelah karena informasi yang dimiliki. Sementara aspek emosi berkaitan dengan perasaan dan spontanitas ketimbang fakta. Kedua aspek itu sangat mudah mengalami penyimpangan atau bias.

Bias-bias itu juga menjadi indikator performa keuangan seseorang, berdasarkan sebuah studi tentang behavioral finance yang dilakukan Morningstar. Studi yang membagi jenis bias ke empat kategori ini menyebut, mereka dengan skor present bias lebih tinggi cenderung memiliki utang kartu kredit yang lebih tinggi, pengeluaran lebih dari pendapatan, dan gagal membayar tagihan tepat waktu.

Present bias (bias saat ini) adalah kecenderungan seseorang untuk menilai terlalu tinggi imbalan yang lebih kecil secara langsung dengan mengorbankan tujuan jangka panjang.

Studi tersebut melaporkan, semakin rendah tingkat bias seseorang, semakin baik kondisi keuangan orang itu. Mereka 7,5 kali memiliki rencana masa depan dan 2,4 kali membayar tagihan tepat waktu ketimbang mereka yang memiliki tingkat bias tinggi.

Sementara responden dengan tingkat bias lebih tinggi cenderung memiliki lebih sedikit saldo rekening dan tabungan, tabungan pensiun yang lebih kecil, dan skor kredit yang dilaporkan sendiri lebih rendah.

Apa yang harus dilakukan agar tidak salah dalam melakukan pengambilan keputusan?

Lakukan analisis secara menyeluruh. Inilah yang dilakukan Warren Buffett saat berinvestasi. Alih-alih mengandalkan nilai saham tinggi dan asal percaya, investor kawakan asal Amerika Serikat ini melakukan analisis nilai dan prospek perusahaan (background check).

Kemudian, berkonsultasi dengan pakar. Dengan berkonsultasi dengan orang yang lebih berpengalaman, Anda bisa lebih memahami pasar. Pakar akan memberi informasi terkait perusahaan yang dituju, sehingga mengurangi kecenderungan mengikuti tren.

Lalu, kenali profil risiko pribadi. Dengan mengetahui profil risiko sendiri, Anda akan lebih siap berinvestasi karena Anda tahu di kondisi apa Anda tidak bisa menerima kerugian. Berapa besar profit yang Anda targetkan? Apakah Anda berani mempertaruhkan aset dan kekayaan? Renungkan lebih dulu pertanyaan tersebut agar tahu ‘gaya’ Anda.

Selanjutnya, Anda perlu melakukan alokasi aset strategis. Dengan mengalokasikan aset dengan pertimbangan matang, Anda bisa meminimalisasi terjadinya perilaku impulsif yang dapat menimbulkan kerugian.

Lalu, lakukan rebalancing portfolio secara berkala. Sesuaikan alokasi portfolio sesuai tujuan investasi awal. Tentu setiap tahun pasar bergerak fluktuatif. Maka penting bagi Anda untuk mengubah komposisi portfolio agar tetap sesuai kebutuhan.

Terakhir, tetap tenang dan kontrol emosi. Selalu ingat, tidak perlu terburu-buru saat mengambil keputusan. Panik sering kali membuat Anda melakukan kesalahan. Seperti Warren Buffett yang tidak pernah membiarkan emosinya ikut ambil bagian saat bekerja. Ia memilih lebih rasional namun tepat.

Baca Juga: Ini Alasan Mengapa Gen Z Juga Perlu Asuransi 

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan