Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Vaksin Anak Remaja Usia 12–17 Tahun, Kenali Fakta-faktanya

09 Agustus 2021 | Allianz Indonesia
Saat ini remaja berusia 12-17 tahun sudah bisa mendapatkan vaksinasi COVID-19. Yuk kenali fakta-faktanya!

Penyebaran virus corona kembali meningkat sejak akhir Juni 2021. Jumlah kasus infeksi baru harian dan angka kematian dalam tren meningkat sejak akhir Juni 2021 hingga pekan ketiga Juli 2021. Menurut Satuan Tugas Penanggulangan COVID-19, salah satu penyebab gelombang baru wabah COVID-19 di Indonesia adalah kehadiran varian Delta, yakni varian virus corona yang paling mudah menyebar.

Agar penyebaran virus corona bisa kembali melandai, pemerintah pun menggencarkan vaksinasi. Target sasaran vaksinasi COVID-19 per Juli 2021 ditingkatkan menjadi 208,26 juta jiwa, dari sebelumnya 181,5 juta jiwa. Tujuan perluasan vaksinasi ini ialah untuk mencapai kekebalan kelompok alias herd immunity.

Kelompok terbaru yang masuk ke dalam sasaran vaksinasi adalah penduduk berusia remaja, tepatnya antara 12 tahun hingga 17 tahun yang berjumlah 26,7 juta orang. Program vaksinasi COVID-19 untuk anak remaja sudah berlangsung di beberapa kota, seperti Jakarta, Tangerang Selatan, Bogor, dan Bandung. Jadi, apabila Anda memiliki putra-putri yang sudah mencapai usia 12 tahun hingga 17 tahun, jangan ketinggalan untuk mendaftar.

 

Baca juga: Pahami Cara Kerja Asuransi yang Dapat Menjawab Kebutuhan di Setiap Langkah Hidup

 

Fakta-fakta seputar vaksin COVID-19 untuk remaja

Tak perlu ragu untuk memberikan vaksin pada anak remaja. Karena, remaja pun tidak lepas dari risiko terinfeksi virus corona. Dan seperti hasil penelitian para ahli, vaksin bisa melindungi mereka dari infeksi akibat virus corona dan risiko bahaya yang ditimbulkan oleh infeksi tersebut. Berikut fakta-fakta menarik yang patut kamu ketahui seputar program vaksinasi COVID-19 bagi anak usia 12 tahun hingga 17 tahun.

1. Jenis vaksin

Mengutip keterangan dalam website Kementerian Kesehatan, jenis vaksin COVID-19 yang digunakan untuk anak remaja berusia 12 tahun hingga 17 tahun adalah vaksin Sinovac yang diproduksi oleh PT Biofarma. Vaksin ini dikembangkan dari virus yang sudah dimatikan.

Vaksin diberikan melalui dua kali penyuntikan intramuscular atau penyuntikan ke dalam otot lengan atas. Dosis vaksin dalam setiap penyuntikan adalah 3ug atau 0,5ml. Adapun jarak waktu di antara penyuntikan pertama dan kedua ialah minimal 28 hari.

Mengutip jurubicara vaksinasi Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, dosis vaksin COVID-19 Sinovac yang disuntikkan ke anak remaja sama dengan dosis yang diberikan ke orang dewasa, atau mereka yang berusia di atas 18 tahun.

2. Izin penggunaan

Alasan pemilihan vaksin COVID-19 Sinovac untuk anak dan remaja tak semata-mata karena vaksin tersebut telah tersedia di dalam negeri. Penyebab yang lebih utama adalah vaksin tersebut telah mendapat izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) pada 27 Juni 2021.

Penggunaan vaksin COVID-19 Sinovac untuk anak remaja juga telah mendapat rekomendasi dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Indonesia atau Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI). Pemberian vaksin COVID-19 untuk kelompok remaja berusia 12 tahun-17 tahun juga telah mendapat lampu hijau dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada akhir Juni lalu.

3. Urgensi penyuntikan vaksin COVID-19 ke kelompok remaja

Anak remaja berusia 12 tahun-17 tahun termasuk yang memiliki risiko terinfeksi virus corona. Bahkan, mereka dibayang-bayangi oleh risiko gejala sakit yang berat saat terinfeksi. Risiko semacam ini yang dipaparkan Kementerian Kesehatan sebagai alasan pemberian vaksin COVID-19 bagi anak berusia 12 tahun hingga 17 tahun.

Dalam keterangan tertulis per 1 Juli 2021 yang diunggah di website resminya, Kementerian Kesehatan menyatakan ada peningkatan kasus terkonfirmasi COVID-19 pada usia anak-anak. Per tanggal 29 Juni 2021, lebih dari 2 juta orang terkonfirmasi COVID-19. Sebanyak 250.000 orang di antaranya merupakan penduduk yang berusia di bawah 18 tahun. Jika dirinci lebih lanjut, sebanyak 108.000 kasus yang terkonfirmasi positif COVID-19 berada di rentang usia 12 tahun hingga 17 tahun.

Dari total penduduk muda yang terinfeksi virus corona di negeri ini, sebanyak 600 anak yang berusia di bawah 18 tahun meninggal. Jika dipilah lebih lanjut, 197 anak yang terinfeksi dan meninggal berada di kisaran usia 12 tahun-17 tahun. Itu berarti, case fatality rate pada kelompok usia 12 tahun hingga 17 tahun mencapai 0,18%.

4. Syarat vaksinasi

Seperti layaknya kelompok usia yang lebih dewasa, anak remaja yang hendak disuntik vaksin COVID-19 juga harus memenuhi persyaratan. Persyaratan administrasi yang harus dipenuhi ketika datang ke tempat vaksinasi ialah membawa kartu keluarga yang mencantumkan nomor induk kependudukan anak.

Anak yang hendak divaksin juga harus memenuhi persyaratan kesehatan. Jadi, anak calon penerima vaksin harus melalui tahap pre-screening yang berlangsung sebelum datang ke tempat vaksin. Lalu, saat di tempat vaksin, ia juga harus lolos proses screening dan observasi.

Untuk mengikuti program vaksinasi, anak yang hendak divaksin juga harus mendapatkan izin dari orang tua. Dan setiap anak yang hendak divaksin, disarakan membawa alat tulis sendiri untuk mengisi dokumen yang diperlukan saat pelaksanaan vaksinasi.

 

Baca juga: #YUKPAHAMI Pentingnya Mengingat Polis Asuransi Jiwa Unit Link yang Dimiliki

 

5. Keamanan

Vaksin COVID-19 Sinovac telah melalui uji klinis tahap pertama dan tahap kedua untuk anak remaja berusia 12 tahun hingga 17 tahun. Dalam pengujian tersebut, sebanyak 26% hingga 29% responden mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang terbilang ringan. Secara statistik, persentase itu dinilai tidak bermakna, karena tidak jauh berbeda dengan KIPI yang dialami oleh responden yang mendapat suntikan placebo. Yang terakhir ini jumlahnya mencapai 24%.

Keamanan vaksin COVID-19 untuk anak remaja juga terlihat dari hasil penelitian yang dipublikasikan oleh jurnal medis The Lancet. Pemberian dua dosis vaksin COVID-19 Sinovac dalam jangka waktu minimal 28 hari akan menghasilkan respon antibodi yang kuat di anak berusia 12 tahun-17 tahun.

6. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI)

Dari hasil uji klinis, vaksin COVID-19 Sinovac menyebabkan KIPI yang terbilang ringan. KIPI yang paling banyak dilaporkan adalah nyeri ringan hingga sedang pada lokasi penyuntikan. KIPI semacam ini dilaporkan oleh 13% responden.

Hasil uji coba vaksin COVID-19 Sinovac di China juga memperlihatkan tidak ada efek samping penyuntikan di kelompok remaja dan anak-anak. Beberapa efek penyuntikan vaksin COVID-19 terhadap anak dan remaja yang tercatat adalah rasa nyeri di tempat suntikan, demam, sakit kepala dan hidung berair. Demam dan hidung berair merupakan KIPI yang lebih sering terjadi pada anak-anak di kelompok usia 3 tahun hingga 11 tahun.

7. Kontraindikasi vaksin COVID-19 Sinovac untuk anak-anak

Jika indikasi adalah alasan untuk menggunakan pengobatan tertentu, maka kontraindikasi berarti sebaliknya. Istilah ini merujuk pada kondisi atau faktor yang menjadi alasan pencegahan tindakan medis atau pengobatan tertentu, karena risiko yang dihadapi oleh pasien. Dalam konteks vaksin, kontraindikasi berarti kondisi yang mencegah seseorang mendapatkan vaksin.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, kontraindikasi untuk vaksin COVID-19 bagi anak remaja berusia 12 tahun-17 tahun adalah:

  • Memiliki defisiensi imun primer atau penyakit autoimun yang tidak terkendali
  • Mengidap penyakit autoimun langka seperti sindrom gulliain-barre, peradangan saraf tulang belakang (mielitis transversa), dan penyakit demielinasi inflamasi idiopatik di susunan saraf pusat (acute demyelinating encephalomyelitis)
  • Mengidap penyakit kanker dan sedang menjalani kemoterapi atau radioterapi
  • Sedang mendapat pengobatan imunosupresan atau sitostatika berat
  • Demam 37,5 derajat Celcius atau lebih
  • Sembuh dari COVID-19 kurang dari tiga bulan
  • Pascaimunisasi lain kurang dari sebulan
  • Hamil
  • Hipertensi tidak terkendali
  • Diabetes melitus tidak terkendali
  • Penyakit-penyakit kronik atau kelainan tidak terkendali
  •  

Baca juga: Asuransi Apa yang Tepat untuk Anak

 

Jika anak remaja kamu tidak memiliki kontraindikasi di atas, artinya ia bisa segera divaksin. Mari, lindungi anak remaja usia 12 tahun hingga 17 tahun dengan memberikan vaksin COVID-19. Setelah divaksin, jangan lupa mengikuti protokol kesehatan yang merupakan tameng utama terhadap risiko tertular virus corona. Untuk perlindungan finansial dari risiko tak terduga, miliki pula asuransi kesehatan Allianz Indonesia yang memungkinkan keluarga tercinta memperoleh pengobatan terbaik saat jatuh sakit. Salam sehat.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan