Dampak Doom Spending

Dampak Doom Spending bagi Finansial dan Kesehatan Mental

20 Oktober 2026 | Allianz Indonesia
Dampak doom spending dapat memengaruhi kondisi keuangan dan kesehatan mental jika kamu terbiasa berbelanja untuk meredakan stres atau kecemasan. Kebiasaan ini mungkin terasa menyenangkan pada awalnya, tetapi pembelian impulsif yang terus berulang dapat menguras tabungan, menambah utang, dan memicu rasa bersalah.

Dilansir dari VeryWell Mind, doom spending adalah kebiasaan mengeluarkan uang secara impulsif untuk meredakan stres, kecemasan, atau kekhawatiran tentang masa depan. Istilah ini menggambarkan perilaku berbelanja yang digunakan sebagai pelarian dari tekanan hidup, termasuk ketidakpastian ekonomi dan situasi sosial yang membuat seseorang merasa sulit mengendalikan keadaan. 

Menurut laporan CreditCards.com pada Februari 2025, sekitar satu dari lima orang Amerika menggunakan doom spending sebagai cara menghadapi stres.

Berbeda dari belanja untuk memenuhi kebutuhan atau sesekali membeli sesuatu sebagai bentuk self reward, doom spending cenderung menjadi masalah ketika keputusan membeli lebih banyak dipengaruhi dorongan emosional daripada kebutuhan dan kemampuan finansial.

Sebagai contoh, seseorang membeli pakaian, perangkat elektronik, atau barang yang sedang tren untuk memperbaiki suasana hati, meskipun anggaran sedang terbatas. Setelah berbelanja, perasaan senang mungkin muncul sementara. Namun, ketika menyadari jumlah uang yang telah dikeluarkan, muncul penyesalan atau kekhawatiran baru.

Untuk itu, kenali dampak doom spending, yang tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi finansial kamu, tetapi juga kesehatan mental.

Doom spending yang tidak bisa dikendalikan dapat menimbulkan berbagai masalah yang saling berkaitan, baik untuk kesehatan finansial maupun mental. Berikut beberapa dampak yang perlu diperhatikan:

Pengeluaran impulsif dapat mengurangi dana yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan penting dan tujuan jangka panjang. Akibatnya, rencana membeli rumah, mempersiapkan dana pensiun, atau membangun tabungan darurat bisa tertunda.

Penggunaan kartu kredit atau layanan beli sekarang, bayar nanti untuk memenuhi keinginan dapat meningkatkan beban cicilan. Jika pengeluaran melebihi kemampuan finansial dan tagihan tidak dibayar sesuai ketentuan, bunga dan biaya tambahan berpotensi memperburuk kondisi keuangan.

Belanja mungkin memberikan kesenangan sesaat, tetapi perasaan tersebut dapat berubah menjadi penyesalan setelah kamu menyadari jumlah uang yang telah dikeluarkan. 

Jika kondisi keuangan terus memburuk, tekanan tersebut juga dapat mengganggu kualitas tidur, konsentrasi, dan keseharian.

Doom spending dapat membentuk siklus yang sulit dihentikan. Stres mendorong seseorang berbelanja untuk merasa lebih baik. Setelah itu, pengeluaran berlebihan menimbulkan masalah keuangan yang memicu stres kembali.

Jika belanja terus dijadikan cara utama untuk menghadapi emosi, siklus tersebut berpotensi berulang dan semakin sulit dikendalikan.

Untuk menghindari dampak tersebut, kamu perlu memahami penyebab seseorang melakukannya, serta cara mengendalikan kebiasaan ini.

Psychology Today menyebut, ada beberapa faktor yang dapat mendorong seseorang melakukan doom spending, di antaranya sebagai berikut:

Saat menghadapi tekanan pekerjaan, masalah pribadi, atau ketidakpastian masa depan, seseorang mungkin mencari aktivitas yang memberikan rasa nyaman dengan cepat. Belanja bisa menjadi salah satu pelarian karena membantu mengalihkan perhatian dari masalah, meskipun efeknya belum tentu bertahan lama.

Kondisi ekonomi yang sulit, kenaikan biaya hidup, atau kekhawatiran terhadap masa depan dapat membuat seseorang merasa sulit mencapai tujuan hidup.

Akibatnya, seseorang cenderung mengutamakan kepuasan saat ini dibandingkan menyisihkan uang untuk memenuhi kebutuhan di masa depan. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat menghambat perencanaan keuangan.

Iklan, promosi, dan unggahan orang lain di media sosial dapat memicu keinginan membeli barang. Kemudahan berbelanja lewat ponsel dapat mendorong kamu melakukan pembelian secara spontan tanpa memikirkan dampaknya terhadap kondisi keuangan.

Tanpa batas pengeluaran yang jelas, dorongan untuk mengikuti tren atau membandingkan diri dengan orang lain dapat membuat belanja semakin sulit dikendalikan.

Membeli barang dapat memicu pelepasan dopamin di otak yang berkaitan dengan perasaan senang. Pengalaman menyenangkan tersebut bisa mendorong seseorang mengulangi perilaku belanja ketika suasana hati kembali memburuk.

Namun, jika belanja terus digunakan untuk mengatasi emosi yang tidak nyaman, masalah yang mendasarinya belum tentu terselesaikan. Pengeluaran berlebihan justru berpotensi menambah tekanan baru.

Mengatasi doom spending bukan sekadar mengurangi belanja. Hal yang tidak kalah penting adalah memahami alasan di balik kebiasaan tersebut dan membangun cara yang lebih sehat untuk mengelola uang maupun emosi.

Menurut Allan Marshal & Associates, kamu bisa mulai mengendalikan kebiasaan belanja secara bertahap melalui beberapa langkah berikut.

Catat seluruh pemasukan dan pengeluaran, mulai dari kebutuhan pokok hingga hiburan. Tetapkan batas belanja yang sesuai dengan kemampuan finansial agar pengeluaran tidak mengganggu pembayaran tagihan dan tabungan.

Perhatikan kapan keinginan belanja muncul. Apakah setelah mengalami masalah pekerjaan, merasa bosan, atau melihat promosi di media sosial? Dengan memahami pemicunya, kamu dapat mencari cara lain untuk mengelola emosi.

Sebelum membeli barang yang tidak mendesak, tunggu setidaknya 24 jam. Gunakan waktu tersebut untuk mempertimbangkan apakah barang itu benar-benar dibutuhkan dan apakah harganya sesuai anggaran.

Usahakan mengumpulkan dana darurat secara bertahap hingga mencapai tiga sampai enam bulan pengeluaran rutin, sesuai kondisi dan tanggung jawab finansialmu. Dana ini dapat membantu menghadapi kebutuhan mendadak tanpa harus mengandalkan utang.

Berhenti berlangganan email promosi, kurangi waktu melihat konten belanja, batasi scroll konten yang memicu FOMO, dan hapus informasi kartu pembayaran yang tersimpan di aplikasi jika hal tersebut memudahkan pembelian impulsif.

Alihkan perhatian dengan melakukan hobi, bermeditasi, berolahraga sesuai kemampuan, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat.

Jika kebiasaan belanja mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau penasihat keuangan.

Mengatasi dampak doom spending tidak hanya berarti mengurangi pengeluaran, tetapi juga membangun perencanaan keuangan yang membantu kamu mempersiapkan masa depan.

Pada akhirnya, mengendalikan doom spending dimulai dari keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Dengan mengelola emosi, menetapkan anggaran, dan memilih perlindungan keuangan sesuai kebutuhan, kamu bisa menikmati hidup saat ini tanpa mengabaikan keamanan finansial di masa depan.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan

Jan 07, 2026

Jan 20, 2026