Belakangan ini, kamu mungkin merasa cuaca jadi makin sulit ditebak. Pagi terasa sejuk, siang bisa sangat panas, lalu sore hingga malam tiba-tiba turun hujan deras, bahkan disertai angin kencang. Kondisi seperti ini semakin sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Kalau kamu merasa ini “nggak biasa”, kamu nggak sendiri.
Fenomena ini bisa menjadi salah satu dampak dari climate change yang membuat pola cuaca menjadi semakin tidak menentu.
Kenapa Cuaca di Indonesia Jadi Tidak Menentu?
Perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi bukan tanpa alasan. Menurut BMKG, perubahan iklim saat ini sudah berdampak nyata terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Cuaca ekstrem kini bisa terjadi lebih sering, dengan intensitas yang lebih tinggi, dan dalam pola yang semakin sulit diprediksi.
Secara umum, perubahan ini dipengaruhi oleh:
- Peningkatan suhu global
- Perubahan pola curah hujan
- Pergeseran musim
Di Indonesia, kondisi ini juga dipengaruhi oleh fenomena seperti El Niño dan La Niña. Kombinasi dari berbagai faktor ini membuat kita bisa mengalami cuaca ekstrem dalam satu hari, misalnya panas terik di siang hari, lalu hujan deras di sore hari.
Dampaknya Ke Kesehatan: Lebih Dari Sekadar “Masuk Angin”
Tentunya perubahan suhu yang drastis dalam waktu singkat bisa berdampak langsung pada kondisi tubuh. Beberapa keluhan yang sering muncul saat cuaca tidak menentu antara lain:
1. Penyakit Saluran Pernapasan
Cuaca yang berubah-ubah membuat tubuh harus terus beradaptasi, sehingga daya tahan tubuh bisa menurun. Ini menyebabkan:
- Flu
- Batuk
- Sakit tenggorokan
2. Demam dan Infeksi
Perubahan suhu ekstrem juga bisa memicu demam dan infeksi ringan hingga sedang, terutama jika kondisi tubuh sedang tidak fit.
3. Risiko Demam Berdarah Meningkat
Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan genangan air, yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue.
Melansir CDC, perubahan iklim berkontribusi pada meningkatnya penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti nyamuk. Hal ini juga sejalan dengan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang menunjukkan tren peningkatan kasus demam berdarah saat musim hujan dan masa peralihan.
Dampaknya Ke Keuangan: Efek Kecil yang Bisa Jadi Besar
Ketika cuaca tidak menentu berdampak pada kesehatan, efeknya sering kali tidak berhenti di kondisi fisik saja. Ada konsekuensi lain yang juga perlu diperhatikan, yaitu kondisi keuangan.
Dalam situasi seperti ini, pengeluaran bisa meningkat tanpa disadari, misalnya:
- Biaya konsultasi dokter
- Pembelian obat-obatan
- Biaya pemeriksaan tambahan
- Hingga rawat inap untuk kondisi tertentu seperti Demam Berdarah Dengue
Sekilas mungkin terlihat sebagai pengeluaran “kecil”. Namun, jika terjadi berulang dalam waktu berdekatan, misalnya saat cuaca sedang tidak stabil, totalnya bisa menjadi cukup besar.
Belum lagi, kondisi tubuh yang kurang fit juga bisa memengaruhi produktivitas sehari-hari. Aktivitas jadi tertunda, pekerjaan menumpuk, atau performa menurun.
Di sinilah kaitannya dengan climate change menjadi lebih terasa. Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memicu risiko kesehatan yang pada akhirnya berujung pada peningkatan pengeluaran yang tidak direncanakan.
Inilah yang disebut sebagai financial risk akibat dampak perubahan iklim terhadap kesehatan, yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang. Karena itu, penting untuk mulai melihat kondisi ini sebagai bagian dari risiko yang perlu diantisipasi, bukan hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga dari sisi keuangan.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Menghadapinya?
Menghadapi cuaca yang tidak menentu, ada beberapa langkah sederhana yang bisa mulai dilakukan:
1. Jaga daya tahan tubuh
Pastikan tubuh tetap fit dengan pola makan bergizi, istirahat cukup, dan tetap aktif bergerak.
2. Perhatikan lingkungan sekitar
Hindari genangan air yang bisa menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta jaga kebersihan lingkungan.
3. Lebih siap secara finansial
Mengantisipasi risiko kesehatan juga berarti mempersiapkan kondisi keuangan, misalnya dengan memiliki asuransi kesehatan, agar tetap stabil saat menghadapi situasi tak terduga.
Peran Kecil Untuk Dampak Yang Lebih Besar
Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi semua elemen masyarakat. Allianz adalah salah satu perusahaan asuransi yang sangat peduli terhadap dampak perubahan iklim dan secara aktif mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dari hal terkecil.
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan memilah sampah, terutama sampah anorganik. Melalui Yayasan Allianz Peduli, Allianz Indonesia bekerja sama dengan Rekosistem untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.
Program ini menghadirkan fasilitas seperti Dropbox dan Recycle Box (Rebox) untuk mendukung upaya zero waste to landfill, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah. Langkah kecil ini mungkin terlihat sederhana, tapi jika dilakukan bersama-sama, dampaknya bisa besar, baik untuk lingkungan, kesehatan, maupun masa depan.
Perubahan cuaca mungkin tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya. Namun, kita tetap bisa mengambil langkah untuk mengurangi dampaknya.
Mulai dari menjaga kesehatan, peduli terhadap lingkungan, hingga mempersiapkan kondisi finansial, semuanya menjadi bagian dari cara kita beradaptasi. Karena pada akhirnya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang kita lakukan hari ini.