Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Yuk, Memahami Proses Underwriting dalam Asuransi

28 Februari 2020 | Allianz Indonesia

Bila kamu ingin memiliki keuangan pribadi yang sehat, mengelola risiko finansial dengan berasuransi adalah hal yang perlu kamu tempuh. Apa saja jenis asuransi yang perlu dimiliki akan sangat bergantung pada kondisi keuangan kamu.

Contohnya, bila kamu berperan sebagai tulang punggung keluarga, memiliki asuransi jiwa adalah hal yang mendesak. Begitu juga asuransi kesehatan yang diperlukan hampir setiap orang dan asuransi lain seperti asuransi kendaraan bermotor dan asuransi rumah.

Untuk mendapatkan perlindungan asuransi, kamu perlu membayar premi kepada perusahaan asuransi. Besar kecil premi asuransi yang dikenakan pada tertanggung asuransi akan berbeda-beda bergantung pada hasil seleksi risiko atau underwriting yang dilakukan oleh perusahaan asuransi.

Baca juga: Apa Saja, sih, yang Bisa Kamu Asuransikan?

Secara sederhana, underwriting merupakan proses identifikasi dan seleksi risiko yang dikenakan pada calon tertanggung yang hendak mengasuransikan diri di sebuah perusahaan asuransi. Proses underwriting tidak hanya mempengaruhi besar kecil premi, melainkan juga menjadi penentu apakah seseorang atau sesuatu tersebut layak mendapatkan perlindungan asuransi atau tidak.

Ini karena perusahaan asuransi juga wajib menghitung seberapa besar risiko yang bisa ia tanggung dengan nilai premi yang dibebankan. Dengan begitu, calon tertanggung bisa mendapatkan hitungan premi yang adil sesuai kondisi dan risiko-risiko yang dimiliki.

Proses underwriting

Proses underwriting tahap awal sejatinya dimulai ketika kamu berdiskusi dengan agen asuransi. Dalam hal ini agen asuransi menjadi underwriter pertama yang menyeleksi dan menimbang risiko kamu apakah bisa mendapatkan asuransi atau tidak. Biasanya, seleksi risiko dilakukan dengan memberikan semacam kuesioner yang harus diisi atau dijawab oleh calon tertanggung.

Di dalam kuesioner tersebut, calon tertanggung harus menjawab dengan sebenar-benarnya segala hal berkaitan dengan data diri, riwayat kesehatan, riwayat penyakit dalam keluarga, penyakit berat yang pernah diderita, dan sebagainya. Ini terutama dilakukan dalam proses seleksi risiko untuk produk asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. 

Adapun dalam proses seleksi risiko untuk asuransi kerugian seperti asuransi rumah atau asuransi mobil, agen asuransi biasanya meminta data-data sebenarnya terkait harta atau aset yang hendak diasuransikan tersebut. Misalnya, tahun pembelian, frekuensi pemakaian, lokasi rumah, luas bangunan, dan sebagainya. 

Baca juga: Mari Memahami Serba-Serbi Asuransi Kesehatan sebelum Membeli

Bagaimana bila proses pembelian asuransi tidak melalui agen langsung melainkan secara online? Pada dasarnya sama saja. Seleksi risiko akan dilakukan secara online di mana calon tertanggung diminta mengisi kuesioner di website perusahaan asuransi tersebut. Di tahap underwriting tahap pertama ini, underwriter fokus untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi risiko calon tertanggung dengan menimbang faktor gaya hidup, riwayat kesehatan, pekerjaan, hobi, tempat tinggal, hingga moral hazard (niat kurang baik).

Selain seleksi risiko oleh agen asuransi, proses underwriting biasanya juga melibatkan peran medical underwriter dan financial underwriter. Sesuai namanya, medical underwriter berperan memberikan rekomendasi kelayakan seseorang mendapatkan asuransi jiwa atau asuransi kesehatan, setelah menilai kondisi kesehatan calon tertanggung.

Sedangkan financial underwriter fokus untuk menilai kelayakan calon pembeli polis berdasarkan kondisi keuangannya, misalnya apakah pembeli polis akan sanggup untuk membayar premi lanjutan. Tujuan lainnya dari financial underwriting adalah untuk mencegah kejahatan pencucian uang melalui pembelian produk asuransi. 

Kategori risiko

Dalam proses underwriting, setelah identifikasi risiko sudah dilakukan, selanjutnya underwriter akan mengelompokkan calon tertanggung dalam kategori risiko. Yaitu, declined risk atau penolakan polis, substandard risk atau diterima dengan syarat tertentu, standard risk atau diterima dengan jumlah premi sesuai dan prefered risk atau diterima dengan jumlah premi di bawah standar.

Semakin tinggi risiko, semakin besar pula premi yang akan dibebankan pada calon tertanggung. Sedang untuk jenis declined risk, itu berarti perusahaan asuransi tidak bisa menanggung risiko yang dimiliki oleh calon tertanggung sehingga pengajuan asuransi ditolak. 

Apakah sebagai calon tertanggung, kita bisa memperkirakan bobot risiko yang kita miliki? Secara sederhana, kita sebenarnya bisa sedikit memperkirakan bobot risiko pribadi dan pengaruhnya pada beban premi kelak.

Sebagai contoh, dalam pengajuan asuransi jiwa atau asuransi kesehatan, seorang calon tertanggung berusia 40 tahun, bergaya hidup kurang sehat (aktif merokok) dan memiliki riwayat penyakit kritis di keluarga akan memiliki bobot risiko lebih besar dibanding calon tertanggung berusia 30 tahun, tidak merokok dan tidak memiliki riwayat penyakit kritis di keluarga. Alhasil, karena risiko lebih besar, premi yang dikenakan akan lebih mahal.

Pentingnya memahami proses underwriting

Seleksi risiko atau underwriting adalah tahapan yang wajib dijalankan dalam proses asuransi. Calon nasabah atau calon tertanggung asuransi perlu memahami pentingnya tahap ini agar proses pengasuransian bisa berjalan lancar. Maka dari itu, upayakan untuk mengikuti prosesnya dengan sebaik-baiknya.

Baca juga: Risiko dalam Asuransi dan Cara Mengelolanya

Caranya, pastikan kamu memberikan data dan informasi yang jujur dalam tahap seleksi risiko sejak tahap pertama bersama agen asuransi. Tidak perlu menutupi sebuah kondisi yang bisa mempengaruhi pembobotan risiko dan premi. Pasalnya, apabila di kemudian hari terbukti ada ketidakjujuran atau penyembunyian informasi material, polis kamu bisa batal dan jika terjadi risiko maka perusahaan asuransi bisa menolak klaim yang diajukan.

Cara lain supaya bobot risiko dan besar premi asuransi tidak mahal adalah dengan mengasuransikan diri sedini mungkin. Misalnya, membeli asuransi kesehatan jauh-jauh hari ketika kondisi tubuh masih sehat. Mengasuransikan mobil ketika kondisinya masih baru dan bagus. Membeli asuransi jiwa begitu kamu bertindak sebagai pencari nafkah keluarga,dan lain sebagainya.

Dengan memahami pentingnya proses underwriting dalam asuransi, kamu bisa mengukur seberapa besar risiko dan premi yang bakal kamu tanggung. Mengetahui beban premi dapat membantu kamu menyiapkan alokasi anggaran untuk kebutuhan asuransi. Dengan begitu, risiko finansial bisa kamu kelola lebih baik.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan