Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Pentingnya Mengajarkan Cara Mengelola Uang Kepada Anak

07 April 2021 | Allianz Indonesia
Mengapa penting untuk mengajarkan anak cara mengelola uang?

Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari uang. Karena itulah, kemampuan mengelola uang termasuk life skill yang harus dimiliki setiap manusia. Seperti keterampilan hidup lainnya, pemahaman mengelola uang ini bisa diberikan oleh orang tua sejak sang buah hati berusia kanak-kanak.

Tidak ada cara yang instan untuk membuat anak-anak menyadari nilai uang dan pentingnya mengelola uang. Orang tua perlu melalui proses yang panjang untuk membuat si anak bisa memahami nilai uang berikut pemanfaatannya. Berikut adalah alasan mengapa kamu sebagai orang tua perlu mengajarkan anak kemampuan mengelola uang.

1. Memperkenalkan konsep uang sebagai alat tukar

Tujuan tahap ini adalah membuat si anak mengerti bahwa setiap barang baru bisa diperoleh dengan uang. Karena itu, pemahaman yang perlu ditanamkan orang tua ke benak anak adalah konsep uang sebagai alat tukar. Pemahaman ini sebaiknya diberikan orang tua di saat sang anak sudah mulai mengenal angka. Jadi, saat anak berada di Taman Kanak-kanak atau awal Sekolah Dasar.

Pemahaman semacam ini akan lebih mudah dicerna sang anak, jika ia pernah diajak berbelanja. Atau, orang tua juga bisa menyampaikan pemahaman ini di saat sang anak bermain peran sebagai kasir, atau konsumen.

 

Baca juga: Tip Banting Stir Transisi Karier dan Pekerjaan di Tengah Pandemi

 

2. Memahami nilai uang dan harga barang

Di tahap ini, orang tua memberi pemahaman pada anak tentang nilai nominal uang dan bahwa setiap barang mempunyai harga masing-masing. Orang tua bisa menyampaikan pemahaman ini saat si anak merengek dibelikan mainan. Beritahu pada buah hati berapa harga dari tiap mainan yang ia inginkan. Lalu, ceritakan juga bahwa uang yang kamu miliki saat ini merupakan hasil dari bekerja dan harga mainan yang ia inginkan itu setara dengan hasil kerjamu.

Ceritakan pula, bahwa kamu perlu berangkat ke kantor dari pagi hari, dengan menempuh jarak sekian menit, dan baru kembali pulang saat sore atau malam tiba. Cerita ini penting agar anak memahami bahwa uang tidak diperoleh dengan mudah, tetapi dengan pengorbanan. Dengan menanamkan pemahaman ini, anak diharapkan bisa menghargai uang dan tidak lekas minta dituruti kemauannya untuk membeli sesuatu.

3. Mengajarkan perbedaan keinginan versus kebutuhan

Orang dewasa tentu tidak akan kesulitan membedakan arti dari keinginan (wants) dan kebutuhan (needs). Keinginan adalah hasrat memiliki sesuatu. Sementara kebutuhan adalah sesuatu yang perlu ada. Namun, pemahaman seperti ini tidak serta-merta dimiliki oleh anak kecil. Itulah sebabnya, anak kecil tumbuh dalam perilaku yang manja dan ketika dewasa terjebak dalam pola hidup konsumtif. Akibatnya, ada yang sampai harus terlilit utang.

Karena itu, orang tua tidak boleh bosan menerangkan pada anak perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, terutama ketika anak mengajukan permintaan ini-itu. Mintalah anak menelaah sendiri, apakah barang yang ia minta sesuatu yang benar-benar dibutuhkan? Atau ia hanya ingin memiliki sesuatu yang baru, karena tergoda tontonan Youtube atau karena tidak mau kalah dengan temannya? Jika alasannya yang terakhir, kamu perlu menolak permintaan anak tersebut.

4. Mengajarkan skala prioritas

Setelah sang anak memahami perbedaan keinginan dan kebutuhan, maka di tahap berikutnya ia perlu mengetahui pentingnya menyusun prioritas. Pengetahuan ini terutama dibutuhkan anak-anak yang sudah berusia di atas 9 tahun sampai 10 tahun.

Anak-anak di kisaran usia itu biasanya sudah memiliki banyak kebutuhan dan keinginan. Karena itu, mereka perlu mendapat penyadaran bahwa mereka perlu menyusun prioritas berdasarkan kebutuhan atau keinginan yang harus didahulukan.

 

Baca juga: 6 Hal yang Harus Dipersiapkan Ketika Harus Kembali Masuk Kantor Setelah Lama WFH

Tips mendidik anak mengelola uang

Setelah mengetahui alasan pentingnya mengajarkan anak mengelola uang, yang tak kalah penting ialah mengajarkan mereka cara mengelola uang. Berikut tipsnya.

1. Melatih anak menabung

Menabung merupakan salah satu bentuk dari pendidikan uang yang lazim diberikan ke anak-anak. Untuk memupuk kebiasaan ini, orang tua bisa memberikan celengan sebagai hadiah ke anaknya. Pilihlah celengan yang bentuknya disukai anak. Jadi, ia akan lebih bersemangat saat diminta untuk menabung.

Setelah sang anak memiliki celengan, orang tua tidak boleh lupa untuk mengingatkan sang anak agar menyisihkan uang hadiah yang ia peroleh. Latihan menabung bisa dimulai dengan meminta mereka tidak menghabiskan seluruh uang jajan, angpao, dan hadiah pemberian dari orang lain.

Ambil contoh, si anak mendapatkan uang Rp100.000 di saat ulang tahun dari kakek atau neneknya. Mintalah mereka menyisihkan sebagian uang tersebut untuk ditabung. Lalu, suatu saat ketika mereka memiliki keinginan tertentu, anak bisa membeli keinginan tersebut dari uang hasil tabungan.

2. Berani menolak permintaan sang anak

Karena masih dalam proses belajar tentang pentingnya mengelola uang, anak-anak terkadang lupa dan kembali meminta ini dan itu. Tidak semua permintaan anak harus dipenuhi orang tua, terutama permintaan yang bersifat konsumtif.

Sebetulnya, menolak permintaan anak merupakan cara ampuh untuk menjelaskan pada anak perbedaan konsep kebutuhan dan keinginan. Saat menolak, orang tua bisa menjelaskan bahwa apa yang diinginkan sang anak tidak terlalu mendesak, semata-mata merupakan keinginan, dan bukan kebutuhan.

3. Memberi imbalan atas prestasi atau tugas

Konsep bekerja untuk mendapatkan penghasilan juga perlu disampaikan orang tua ke anak-anaknya. Caranya? Orang tua bisa memberikan uang, sebagai imbalan atas prestasi yang dicapai sang anak. Reward juga bisa diberikan atas tugas yang dilakukan sang anak, misalnya membersihkan kebun di rumah. Namun, jangan semua pekerjaan diiming-imingi oleh hadiah. Karena jika berlebihan, anak bisa salah motivasi, membantu semata untuk mengincar hadiah, dan tidak merasa bahwa melakukan pekerjaan rumah adalah tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga.

4. Memberikan uang saku secara berkala

Di saat anak sudah berusia 10 tahun, orang tua sudah bisa memberikan uang saku secara berkala. Tentu, nilai uang saku yang diberikan juga tidak terlalu besar, misal Rp5.000 sehari. Orang tua juga harus disiplin dalam pemberian uang, seperti tidak memberikan tambahan saat jatah uang saku habis sebelum waktunya. Dengan memberikan uang saku yang nilainya terbatas, orang tua akan melatih anak untuk mengelola uang, sekaligus belajar hidup hemat.

5. Menyerahkan keputusan belanja ke si anak

Setelah terbiasa memiliki tabungan dan uang saku, anak-anak juga seharusnya mendapatkan keleluasaan untuk menentukan pemanfaatan uang. Tentu, orang tua juga perlu mellihat apakah barang yang akan ia beli itu sesuai dengan kebutuhannya atau tidak. Selama barang itu memang dibutuhkan, biarkan ia mengambil keputusan.

Misalnya, anak ingin membeli sepatu olahraga. Dan, ada dua model sepatu yang ia taksir. Nah, orang tua sebaiknya menyerahkan keputusan ke si anak untuk menentukan sepatu mana yang akan dibeli. Hal ini bisa didasarkan pada harga sepatu dan anggaran yang kamu miliki. Dengan memberi keleluasaan semacam ini, orang tua melatih anak untuk mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas keputusannya.

6. Menerapkan kebiasaan bersyukur

Anak yang memiliki pemahaman akan nilai uang, akan lebih mudah bersyukur. Dengan menyadari bahwa uang dan segala sesuatu sifatnya sementara dan terbatas, maka ia akan paham tentang betapa beruntungnya memiliki atau mendapatkan sesuatu.

 

Baca juga: Belajar dari Pandemi, Saatnya Menata Lagi Kebutuhan Asuransi

 

Dengan memberi pemahaman tentang nilai uang, anak memiliki fondasi cara mengelola uang yang akan menjadi bekal berharga saat ia dewasa.

 

Di samping memperkenalkan anak pada cara mengelola uang, jangan lupa lindungi kesehatan kamu sekeluarga dengan SmartMed Premier, asuransi kesehatan dari Allianz

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan