Kendaraan Listrik untuk Mudik

Kendaraan Listrik untuk Mudik: 9 Tips Aman dan Nyaman

6 Maret 2026 | Allianz Indonesia
Kendaraan Listrik kini semakin populer digunakan di Indonesia untuk perjalanan jarak jauh seperti mudik Lebaran. Seiring meningkatnya jumlah pengguna mobil listrik dan semakin banyaknya Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), perjalanan mudik menggunakan mobil listrik kini semakin memungkinkan.

Namun, bagi sebagian orang, mudik dengan mobil listrik mungkin masih terasa menantang, terutama terkait jarak tempuh baterai dan ketersediaan stasiun pengisian daya. Namun, dengan perencanaan yang tepat dan memahami berbagai tips mudik menggunakan mobil listrik, perjalanan jauh tetap bisa dilakukan dengan aman dan nyaman. 

Lalu, apa saja yang perlu kamu perhatikan saat mudik menggunakan mobil listrik? Berikut pembahasan lengkapnya.

Agar perjalanan tetap aman dan efisien, ada beberapa hal penting yang perlu kamu siapkan sebelum berangkat:

Salah satu tips mudik terpenting saat menggunakan kendaraan listrik adalah merencanakan lokasi pengisian daya. Berbeda dengan mobil konvensional yang SPBU-nya tersedia hampir di setiap titik, SPKLU memang belum sebanyak itu, meskipun jumlahnya terus bertambah.

Sebelum berangkat, kamu bisa mengecek lokasi SPKLU melalui aplikasi resmi PLN atau aplikasi navigasi seperti Google Maps. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui jarak antar titik pengisian, jenis charger yang tersedia, hingga estimasi waktu tempuh.

Untuk perjalanan jauh, prioritaskan SPKLU dengan fast charging (≥50 kW) atau ultrafast charging (≥100 kW) agar waktu pengisian lebih singkat. Jangan ragu memilih lokasi pengisian yang sedikit keluar jalur utama jika antrean di rest area terlalu panjang.

Jika kamu memiliki charger di rumah, isi daya kendaraan hingga 100% sebelum berangkat. Meskipun umumnya disarankan mengisi hingga 80% untuk menjaga kesehatan baterai, sesekali mengisi penuh tidak akan menjadi masalah, terutama untuk perjalanan jauh.

Dengan baterai penuh, kamu bisa menempuh jarak lebih panjang sebelum perlu berhenti mengisi ulang. Jika tidak memiliki charger pribadi, usahakan mengisi daya di SPKLU sehari sebelum keberangkatan agar tidak terburu-buru di hari H.

Selain Google Maps, beberapa aplikasi khusus kendaraan listrik dapat membantu kamu menemukan lokasi SPKLU terdekat serta memantau status ketersediaannya secara real-time. Aplikasi ini juga bisa membantu memperkirakan sisa jarak tempuh berdasarkan kondisi baterai kendaraan.

Setiap kendaraan listrik memiliki jarak tempuh berbeda tergantung kapasitas baterai dan efisiensinya. Sebelum mudik, cari tahu berapa kilometer rata-rata yang bisa ditempuh dalam sekali pengisian penuh.

Kamu juga perlu memerhatikan faktor yang memengaruhi konsumsi daya, seperti:

  • Beban penumpang dan barang
  • Kondisi jalan (tanjakan atau datar)
  • Penggunaan AC
  • Kecepatan berkendara

Dengan memahami hal ini, kamu bisa menentukan kapan waktu ideal untuk mengisi daya kembali dan menghindari baterai habis di tengah perjalanan.

SPKLU memiliki beberapa jenis soket, seperti CHAdeMO, CCS, dan AC Charging. Pastikan kamu mengetahui jenis port yang kompatibel dengan kendaraan listrik milikmu. Secara umum, SPKLU terbagi menjadi empat kategori:

  • Slow charging (≥7 kW)
  • Medium charging (≥25 kW)
  • Fast charging (≥50 kW)
  • Ultrafast charging (≥100 kW)

Memilih jenis charger yang tepat akan sangat membantu menghemat waktu saat mudik, terutama ketika lalu lintas padat dan antrean panjang.

Mengurangi kecepatan beberapa kilometer per jam bisa berdampak signifikan pada efisiensi daya. Ini karena berkendara dengan stabil dan tidak agresif membantu baterai bertahan lebih lama.

Selain hemat daya, cara ini juga meningkatkan keselamatan selama perjalanan. Ingat, tujuan mudik adalah berkumpul dengan keluarga, bukan sampai secepat mungkin.

Jika kamu mudik saat cuaca dingin atau pagi hari, lakukan pre-heating atau pre-conditioning saat kendaraan masih terhubung ke charger rumah. Dengan cara ini, energi untuk menyesuaikan suhu kabin tidak diambil dari baterai utama. Selain kabin lebih nyaman, baterai juga berada dalam kondisi optimal sejak awal perjalanan.

Sebagian besar SPKLU menggunakan sistem pembayaran digital melalui aplikasi. Karena itu, koneksi internet sangat penting saat mudik menggunakan kendaraan listrik. Pastikan:

  • Sinyal internet stabil
  • Saldo e-wallet mencukupi
  • Aplikasi pengisian daya sudah terpasang

Selain itu, jangan lupa membawa power bank agar ponsel tetap aktif untuk mengecek lokasi SPKLU dan proses pembayaran.

Ban yang kurang angin bisa meningkatkan hambatan gulir sehingga konsumsi daya menjadi lebih boros. Selain itu, tekanan ban yang tidak sesuai juga memengaruhi performa pengereman dan keselamatan.

Cek tekanan ban sesuai rekomendasi pabrikan yang biasanya tertera di buku manual atau di bagian pintu pengemudi. Langkah sederhana ini sangat membantu menjaga efisiensi kendaraan listrik selama perjalanan jauh.

Selain mempersiapkan kendaraan dan rute perjalanan, ada beberapa hal penting lain yang juga perlu kamu perhatikan saat mudik menggunakan mobil listrik:

  • Jangan menunggu baterai hingga benar-benar habis sebelum mengisi ulang.
  • Perhatikan antrean di SPKLU saat musim mudik karena biasanya lebih padat.
  • Selalu siapkan rencana cadangan lokasi pengisian daya.
  • Perbarui sistem navigasi kendaraan jika tersedia pembaruan terbaru.

Dengan perencanaan yang tepat dan memahami berbagai tips di atas, mudik menggunakan mobil listrik dapat menjadi pilihan perjalanan yang aman, efisien, sekaligus ramah lingkungan. Infrastruktur pengisian daya yang terus berkembang di Indonesia juga membuat perjalanan jarak jauh dengan mobil listrik semakin mudah dilakukan.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan

Jan 07, 2026

Jan 20, 2026