Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Yuk, Kenali Sejarah Pasar Modal Indonesia dan Peluang Investasi di Tengah Pandemi

18 Juni 2020 | Allianz Indonesia
Pada 3 Juni lalu, kita memperingati Hari Pasar Modal Indonesia. Tanggal ini diperingati sebagai hari kebangkitan bursa efek Indonesia karena pada 3 Juni 1952, ketika Indonesia dipimpin oleh presiden Soekarno, pasar modal Indonesia kembali dibuka kembali untuk pertama kalinya setelah kemerdekaan Indonesia.

Kala itu, pasar modal Indonesia dikenal dengan nama Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE) yang memiliki anggota dari bank milik negara, bank swasta, dan para pialang efek.

Mengenal sejarah Bursa Efek Indonesia

Dikutip dari website idx.co.id, bursa efek di Indonesia pertama kali dibentuk pada Desember 1912 di bawah pemerintahan Hindia Belanda, yang berkedudukan di Batavia (sekarang Jakarta). Dalam perjalanannya, bursa efek di Batavia ini sempat ditutup selama Perang Dunia I pada tahun 1914 hingga 1918. Kemudian pada tahun 1925-1942, bursa efek di Jakarta kembali dibuka, bersamaan dengan beroperasinya bursa efek di Semarang dan di Surabaya.

Namun, ketika perang dunia II berlangsung, semua bursa efek di Indonesia pun ditutup sejak 1939 hingga 1952. Pada 3 Juni 1952, presiden Soekarno membuka kembali bursa efek di Jakarta. Akan tetapi, keberadaan bursa efek kembali tidak aktif ketika ada program nasionalisasi perusahaan Belanda pada tahun 1956, yang berujung pada kevakuman hingga 1977.

Pada Agustus 1977, presiden Soeharto meresmikan Bursa Efek Jakarta. Kemudian pada Juni 1989, Bursa Efek Surabaya mulai beroperasi. Pada tahun 2007, Bursa Efek Jakarta merger dengan Bursa Efek Surabaya dan berganti nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada November 2015, BEI mulai mengkampanyekan Yuk Nabung Saham untuk menarik minat masyarakat berinvestasi di pasar modal.

Seiring dengan kebijakan tersebut, BEI juga menerbitkan sejumlah kebijakan seputar perdagangan saham seperti ketentuan mengenai lot size, tick priceauto-rejection, relaksasi margin, dan berbagai kebijakan lainnya yang bertujuan memudahkan investor untuk berinvestasi di pasar modal.

 

Baca juga: Yuk, Mengenal Istilah-istilah Ini untuk Lebih Memahami Virus Corona

 

Kondisi bursa saham sebelum dan setelah pandemi corona

Sejak pandemi corona melanda Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI ikut terpengaruh. Menurut data di IDX, pada akhir tahun 2019, IHSG sempat menyentuh 6.299, atau menguat tipis sebesar 1,9% dari awal Januari 2019 yang berada di posisi 6.181. Namun, saat presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama COVID-19 pada 2 Maret 2020, IHSG melemah 14,6% ke posisi 5.361 dari awal Januari yang berada di level 6.283.

Bahkan, IHSG sempat menyentuh level terendah sepanjang tahun ini yakni di level 3.937 pada 24 Maret 2020. Namun, sejak April 2020, IHSG lambat laun kembali menguat. Tengok saja IHSG pada 15 Juni 2020 lalu yang ditutup pada level 4.816, atau naik 22,3% dari level terendah pada Maret 2020 lalu.

Melihat penguatan IHSG sejak April 2020 lalu, BEI melihat optimisme pasar modal Indonesia di tengah pandemi COVID-19 terus berkembang. Inarno Djajadi, direktur utama BEI seperti dikutip IDX Channel April 2020 lalu mengatakan, hingga 23 April 2020 lalu, sudah terdapat 26 perusahaan baru di BEI dan terdapat 28 perusahaan yang masuk ke dalam antrian pencatatan efek baru.

Sementara hingga akhir Maret 2020, BEI masih mencatatkan pertumbuhan investor sebesar 8% dari tahun 2019, menjadi 2,68 juta investor yang berasal dari investor saham, reksa dana, dan obligasi. Dari jumlah tersebut, investor saham mencapai 43% dari total investor, atau meningkat 5% dari tahun 2019. Hal ini menunjukkan minat investor yang terbilang tinggi untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

 

Baca juga: Kenali Serba-serbi New Normal agar Kamu Siap Menghadapinya

 

Menakar arah pasar modal ke depan

Meski saat ini bursa saham sedang lesu akibat pandemi corona, namun berinvestasi di pasar modal masih memiliki prospek yang cerah dalam jangka panjang. Kepala riset Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto seperti dikutip Bisnis Indonesia, Mei 2020 mengatakan, IHSG yang melemah dipengaruhi oleh para investor yang lebih dulu meninggalkan pasar saham sebelum angka penyebaran COVID-19 mencapai puncak. Namun, saat angka penyebaran pandemi sudah mencapai puncak, kinerja saham berangsur pulih.

Lebih lanjut menurut Helmy, dampak negatif pandemi corona terjadi hampir di semua sektor, kecuali rokok, barang konsumer, media, unggas, telekomunikasi, dan menara. Bagi investor, ia berpesan untuk mencermati saham-saham yang memperoleh angin segar setelah pemerintah memberlakukan relaksasi kebijakan terkait COVID-19. Helmy memperkirakan sektor-sektor yang berisiko cukup tinggi saat pandemi corona berlangsung, seperti ritel dan komoditas, juga akan berpeluang tumbuh ke depan.

 

Baca juga: Ketahui Jenis Alat Tes untuk Mendeteksi COVID-19

 

Jadi, sudah siap menjadi investor pasar modal? Dalam rangka memperingati Hari Pasar Modal Indonesia, Yuk Nabung Saham. Selain berinvestasi, jangan lupa juga untuk melindungi diri dan keluarga di tengah pandemi dengan memiliki asuransi jiwa dan asuransi kesehatan dari Allianz Indonesia. Salam sehat!

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan