Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Toxic Positivity dan Kenapa Kamu Tidak Harus Selalu Memandang Sesuatu Secara Positif

17 Agustus 2020 | Allianz Indonesia
Apa kita harus merasa bahagia dan memandang semua hal secara positif setiap saat? Bagaimana kalau tanpa sadar kita sudah terjebak toxic positivity?

Mencoba memandang setiap hal dengan positif, dan menunjukkan kebahagiaan yang kita rasakan tentu salah satu hal yang baik. Tapi, apakah benar dari dalam hati secara jujur kita bisa selalu merasa positif dan bahagia setiap saat?

Semua orang tentu saja ingin mendapatkan kebahagiaannya. Bahkan, sebisa mungkin menunjukkan kepada dunia di luarnya bahwa dirinya memang merasa bahagia. Namun, terkadang saat hal buruk terjadi dan kita tidak bisa mengesampingkan berbagai perasaan negatif yang terjadi. Apa yang harus kita lakukan?

Apa kamu sudah tahu istilah yang hingga kini sedang banyak dialami yaitu toxic positivity? Menurut Konstantin Lukin Ph.D, melalui tulisannya “Toxic Positivity: Don’t Always Look on the Bright Side”, istilah toxic positivity ini sebenarnya mengacu pada konsep bahwa kita harus tetap positif, dan hanya dengan berfokus pada hal-hal positif adalah cara terbaik untuk menjalani hidupmu. Dan mengabaikan hal-hal negatif.

 

Baca juga: Tips Aman Staycation di Hotel saat New Normal

 

Sekilas, terlihat ideal sekali bukan bila kita selalu melihat setiap hal dengan cara positif. Namun, secara mengejutkan, hasil akhirnya malah memperkuat kondisi sebaliknya. Saat menghadapi berbagai masalah, terkadang kita ingin mendengar kata-kata penyemangat dan positif dari orang-orang terdekat kita. Tapi bagi sebagian orang, kata-kata penyemangat, positif, dan penuh dukungan ini malah justru menjadi boomerang dan makin merasa diri terpuruk.

Kamu boleh lho untuk tidak selalu tetap positif dan tidak menolak apa pun yang dapat memicu emosi negatif. Jangan takut untuk menerima dirimu sebagai “orang negatif” dan menerima segala emosi yang kamu miliki. Lalu, bagaimana cara untuk menghindari jebakan toxic positivity ini?

Berikut adalah beberapa tip menghindari jebakan toxic positivity:

1. Belajar Menerima Perasaan Tidak Menyenangkan yang Dirasakan Diri Sendiri

Kamu ingat tidak bagaimana leganya perasaan saat akhirnya kamu bisa menceritakan berbagai permasalahan, rasa khawatir, atau segala keluh kesahmu kepada teman, pasangan, atau orang tua. Rasanya seperti ada beban berat di pundak kamu yang diangkat. Nah, berusaha untuk menerima segala emosi sulit yang kamu rasakan akan membantumu untuk bangkit dan menekan emosi buruk tersebut untuk berkembang lebih besar. Jadi, belajarlah untuk mulai menerima segala perasaan yang tidak menyenangkan, daripada harus berpura-pura bahwa semua hal baik-baik saja.

2. Media Sosial Seperti Sugar Coating

Dari lapisan luar memang kita bisa melihat semua postingan jalan-jalan, makan di tempat mewah, pesta yang mereka lakukan menunjukkan mereka seperti selalu ada dalam fase bahagia. Faktanya, tidak selamanya mereka semua dalam kondisi bahagia. Bila kamu ingin merasakan hal yang sama, kamu harus mencari kebahagiaan dirimu sendiri. Jangan memaksakan diri untuk bahagia. Jangan pernah “meracuni” diri sendiri.

 

Baca juga: Olahraga saat Pandemi, Apa yang Harus Dipersiapkan dan Diperhatikan?

 

3. Cobalah Menuliskan Perasaanmu

Tidak semua orang bisa dengan mudah mengutarakan isi hati dan perasaannya. Bahkan kepada orang-orang terdekatnya. Kalau kamu salah satunya tidak perlu merasa terjebak dengan kondisi ini. Kamu bisa meluapkan semua emosi tersebut ke dalam tulisan.

Misalnya, tuliskan segala kesedihan, khawatir, atau kemarahan. Dengan begitu kamu sudah berusaha untuk mencoba memahami emosi diri sendiri. Juga menerima semuanya. Tidak mengabaikannya begitu saja.

Bagaimana pun, pada akhirnya kebahagiaan dirimu sendiri adalah hal paling penting. Tidak ada orang yang bisa selalu merasa bahagia setiap saat. Di momen-momen penuh tantangan inilah waktunya kita untuk menerima dan merasakan segala emosi yang terjadi. Dengan begitu kita bisa lebih memahami diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan