Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

"Tahun Kerbau" Adalah Simbol Ketangguhan Tiongkok

01 April 2021 | Allianz Indonesia
Pada tahun baru Imlek kali ini, Tiongkok merayakan banyak hal—termasuk pertumbuhan ekonomi yang kuat, kesuksesan yang merata dalam menekan laju Covid-19, serta transformasi yang stabil menuju ekonomi maju. Oleh karena itu, kerbau menjadi simbol yang tepat bagi sebuah negara yang terus bekerja keras demi mempertahankan laju pertumbuhannya.

Poin-poin Utama

    Kekuatan ekonomi Tiongkok belum padam: negara ini adalah satu-satunya negara maju yang mengalami pertumbuhan PDB pada tahun 2020, dan kami memperkirakan bahwa negara ini akan terus bangkit dari krisis akibat virus korona

    Menilik pasar, saham seri A Tiongkok terus diuntungkan oleh tailwind yang positif, termasuk tumbuhnya minat investor dan pemerintahan AS yang baru yang mungkin dapat mengurangi ketegangan

    Di Tiongkok dan Asia, kami secara umum lebih menyukai obligasi jangka pendek dan sekuritas dengan imbal hasil tinggi dibandingkan sekuritas tingkat investasi

Gambaran tentang investasi

Tiongkok adalah satu-satunya negara dengan ekonomi maju di dunia yang mengalami per- tumbuhan PDB selama setahun terakhir. Kami memperkirakan bahwa Tiongkok akan terus bangkit dari krisis akibat virus korona, meski mungkin secara perlahan. Angka pertumbuhan PDB year-on-year tampak kuat karena dibandingkan dengan angka tahun 2020 yang melemah saat pandemi mencapai puncaknya (lihat bagan di halaman selanjutnya).

Namun demikian, Tiongkok tampaknya siap untuk melesat naik. Sektor jasa akan baik-baik saja, dengan asumsi bahwa pemerintah mampu mencegah munculnya wabah baru virus korona. Sektor manufaktur juga mungkin akan terus tumbuh berkat dorongan proyek investasi publik (yang mungkin sedikit lebih lambat pada tahun 2021 jika diband- ingkan dengan tahun 2020) dan pulihnya permintaan global secara bertahap seiring dengan berlalunya Covid-19. Tiongkok juga tengah mengembangkan industri teknologi tinggi—khususnya di bidang robotik, pener- bangan, serta bidang manufaktur tingkat lanjut lainnya, yang menjadi jantung dari visi ekonomi jangka panjang negara tersebut.

Sepanjang tahun 2021, kekuatan ekonomi ini membantu Tiongkok melakukan sesuatu yang belum dapat dilakukan oleh negara ekonomi maju lainnya: perlahan-lahan mengurangi pemberian stimulus besar yang digelontorkan pemerintah untuk mendorong ekonomi. Ini dapat dilakukan dengan sedikit mengurangi belanja pemerintah, yang mungkin mengaki- batkan berkurangnya investasi infrastruktur fisik. Meskipun begitu, kami percaya bahwa dukungan berkelanjutan bagi teknologi inovatif, usaha kecil dan menengah, serta “ekonomi hijau” akan tetap berlanjut. Bank Rakyat Tiongkok juga tengah menekan laju pertumbuhan kredit dengan mengurangi jumlah pinjaman baru yang disediakan oleh institusi keuangan. Meski demikian, kami percaya bahwa kebijakan fiskal dan moneter ini tidak akan berubah secara tiba-tiba atau drastis.

Apa artinya bagi investor? Pasar keuangan cenderung kurang menyukai penghentian stimulus—atau, dalam hal ini, pengurangan—sehingga prospek investasi jangka pendek Tiongkok tampak kurang mulus. Namun, untuk jangka panjang, perekonomian Tiongkok menawarkan banyak potensi sehingga kami yakin bahwa negara ini akan menjadi sebuah investasi jangka panjang yang atraktif. Oleh karena itu, investor sebaiknya terus menganggap Tiongkok sebagai sebuah kelas aset tersendiri—sesuatu yang mungkin memerlukan alokasi khusus dan terpisah. Mengingat kini para investor sedang bersiap menghadapi apa yang akan terjadi pada Tahun Kerbau, mari cari tahu apa saja yang dapat menyebabkan proyeksi ekonomi kita melemah—atau justru memperparah keadaan. Berikut adalah beberapa variabel utama yang perlu diperhatikan oleh investor.

 

Baca Juga: 5 Hal Penting Terkait Kondisi Ekonomi di 2021 yang Perlu Kamu Perhatikan

 

Empat pertanyaan kunci mengenai investasi pada tahun mendatang

    Akankah Tiongkok mampu melawan virus korona?

Covid-19 menjadi risiko bagi pertumbuhan ekonomi global, termasuk Tiongkok. Namun, Tiongkok dan Asia secara umum tampak lebih baik dibandingkan negara-negara Barat. Amerika Serikat, Uni Eropa, serta negara-negara maju lainnya masih berjuang mengen- dalikan laju virus korona. Jika ekonomi Tiongkok terus pulih, pasar ekuitas dan obligasi Tiongkok mungkin akan menjadi makin atraktif.

    Akankah Tiongkok memperbaiki hubungan yang telah dibangunnay dengan mitra perdagangannya dan memperkuat hubungan baru?

Keruhnya hubungan Tiongkok dan AS menjadi tema geopolitis utama beberapa tahun terakhir ini. Presiden AS Joe Biden mungkin dapat membantu mengurangi ketegangan, tetapi beberapa masalah dipastikan akan tetap ada. Ini adalah satu alasan yang mendorong Tiongkok meningkatkan keswasembadaannya dengan memperkuat rantai suplai, membangun kapabilitas manufaktur teknologi tingkat lanjut, serta membentuk aliansi baru.

Sebagai contoh, Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (KEKR/RCEP) melahirkan blok ekonomi bang- sa-bangsa Asia-Pasifik yang mencakup hingga sepertiga populasi dunia. Kesepakatan KEKR akan berlaku bagi hampir 30% perdagangan global dan PDB—lebih luas dari blok perdagangan Uni Eropa atau perjanjian AS-Meksiko-Kanada.

Uni Eropa dan Tiongkok juga baru saja mengumumkan lahirnya Perjanjian Investasi Komprehensif (CAI) setelah tujuh tahun bernegosiasi. Hal ini sepatutnya memberi Uni Eropa akses ke kesempatan komersial esensial yang baru di sektor, antara lain, manufaktur, otomotif, dan layanan keuangan. Bagi Tiongkok, CAI merupakan sebuah terobosan strategis, yang membantu negara tersebut menjalin kemitraan internasional baru di tengah tingginya proteksionisme dan sentimen anti-Tiongkok.

    Akankah Tiongkok mempertahankan keberhasilan transformasi ekonominya – atau akankah mereka melampauinya?

Tiongkok tidak pernah berhenti membukukan pencapaian positif dalam upayanya mengembangkan teknologi yang inovatif sarat nilai tambah yang dapat membantunya bersaing di sektor manufaktur tingkat lanjut, seperti robotik dan penerbangan. Baru-baru ini, Tiongkok secara resmi meluncurkan “Strategi Sirkulasi Ganda”, yaitu upaya penggan- tian barang-barang impor (misalnya semikonduktor) dengan produksi dalam negeri, sambil terus mengembangkan pasar domestik. Tujuannya adalah lebih meningkatkan PDB per kapita Tiongkok sehingga negara tersebut mampu lebih cepat bertransformasi menjadi negara dengan ekonomi maju.

Kebijakan-kebijakan ini telah diterima dengan baik oleh pasar keuangan secara umum, meski masih ada beberapa pihak yang belum bisa menerimanya. Pengatur kebijakan di Tiongkok baru-baru ini menerbitkan aturan baru untuk memberikan tekanan terhadap beberapa korporasi ternama di negara tersebut, yang dituduh berperilaku monopolistik dan antikonsumen. Namun demikian, kami tidak yakin Beijing akan bertindak lebih jauh karena khawatir hal tersebut akan membuat perusahaan-perusahaan Tiongkok kehilangan keunggulan kompetitifnya.

    Akankah Tiongkok tetap mengedepankan keberlanjutan?

Perlahan tapi pasti, Tiongkok tengah mencurahkan lebih banyak perhatian pada isu-isu yang penting bagi keberlanjutan ekonominya.

    Tiongkok telah berinvestasi besar-besaran pada bidang energi yang terbarukan, kendaraan listrik, teknologi hidrogen, dan bidang “teknologi bersih” lainnya. Pada tahun 2020, Tiongkok menaikkan kapasitas listriknya sebesar 120 gigawatt1—lebih besar dari total kapasitas di Inggris2—melalui proyek pembangkit listrik tenaga angin dan surya yang telah rampung atau diluncurkan pada tahun yang sama.

    Korporasi di Tiongkok telah berhasil menumbuhkan kepercayaan yang lebih besar terhadap tata kelola dan pelaporannya. Kini, ada makin banyak perusahaan yang menerbitkan laporan kinerja lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG): 85% pada tahun 2019, naik dari hanya 55% pada lima tahun sebelumnya.3 Tiongkok juga tengah menerapkan syarat-syarat baru dalam pelaporan, yang boleh dikatakan lebih ketat dari aturan di AS.

Pada saat yang sama, Tiongkok harus berjuang lebih keras untuk meningkatkan transparansi sehingga investor dapat lebih memahami cara perusahaan dan pembuat kebijakan melakukan pendekatan terhadap isu-isu penting ESG. Hingga saat itu tiba, sangatlah penting bagi investor untuk menemukan mitra yang dapat memberikan informasi tentang apa yang sesungguhnya terjadi di balik layar melalui penelitian yang tidak terbuka bagi publik (proprietary research).

 

Baca Juga: 5 Bekal Pelajaran Finansial Penting untuk Tahun Baru 2021

 

Implikasi bagi investasi:

Meski tren di Tiongkok dan Asia secara umum mengalami kenaikan (bullish) dalam jangka panjang, ada banyak ketidakpastian pada tahun mendatang—termasuk tentang laju penyebaran virus korona. Karenanya, kami menyarank- an kepada para investor untuk melihat bauran portofolio mereka lebih dalam. Mereka perlu menambah alokasi strat- egis jangka panjang pada investasi yang mungkin masih di bawah harapan, dan melakukan perubahan-perubahan taktis untuk mencerminkan risiko serta peluang yang muncul di tengah kondisi yang terus berubah ini.

Pasar ekuitas sedang tumbuh

Saham A Tiongkok berbasis “onshore” (yang diperda- gangkan di bursa Shanghai atau Shenzhen) menunjukkan kinerja yang sangat baik pada tahun 2020, tetapi dengan harga yang masuk akal, khususnya jika dibandingkan dengan bursa AS. Rasio forward P/E untuk saham A adalah 17,3, sementara rasio di pasar global dan AS adalah 20,0 dan 23,5.4 Bursa saham A dapat terus diuntungkan oleh beberapa tailwind positif: Masyarakat Tiongkok makin getol menginvestasikan kekayaannya di pasar saham, indeks-indeks acuan besar dunia tengah menambah alokasinya dan jumlah investor institusional asing makin bertambah. Terlebih lagi, di bawah pemerintahan Biden yang kini menjadi penentu kebijakan AS, hubungan antara AS dan Tiongkok menjadi lebih bisa diprediksi—dan pasar selalu menyambut baik bertambahnya kepastian. Namun demikian, beberapa ketegangan tentu akan tetap ada.

Di samping itu, perlu dicatat bahwa kinerja negatif tahun 2020 perusahaan-perusahaan Tiongkok yang terdaftar di Hong Kong5 menunjukkan bahwa pasar ekuitas Tiongkok tidak monolitik. Valuasi menjadi lebih masuk akal ketika perusahaan-perusahaan Tiongkok dilihat sebagai satu kesatuan dan dilihat sebagai bagian dari pandangan “all-China”.

Dinamika pendapatan tetap lebih memilih durasi yang lebih pendek serta imbal hasil yang lebih tinggi

Di Tiongkok dan negara-negara berkembang di Asia, dukungan fiskal dan moneter—beserta perkembangan positif dalam upaya memerangi virus korona—seharusn- ya dapat membantu menumbuhkan minat terhadap aset imbal hasil dan risiko. Di seluruh wilayah, secara umum kami lebih memilih investasi dengan pendapatan tetap dan durasi lebih pendek, serta secara umum lebih memilih sekuritas berimbal hasil tinggi daripada sekuritas tingkat investasi lainnya. Selain itu, kami percaya bahwa dalam jangka panjang, mata uang Tiongkok (renminbi) akan makin diterima sebagai mata uang internasional yang digunakan di lebih banyak negara di luar perbatasan Tiongkok. Selain itu, meskipun mata uang dikenal tidak stabil, seiring berjalannya waktu, renminbi mungkinmulai terapresiasi secara relatif terhadap dolar AS. Hal ini dapat memberi peluang bagi manajer aset aktif untuk melakukan jual beli mata uang yang menguntungkan.

Sumber: Allianz Global Investor

 

 

    Sumber: BloombergNEF. Data per 31 Desember 2020

    Sumber: Reuters bulan Januari 2019.

    Sumber: CFA Institute bulan Desember 2019.

    Sumber: Data per 31 Desember 2020 Proksi: MSCI China A Onshore Index bagi saham A Tiongkok, MSCI World Index bagi ekuitas global dan MSCI USA Index bagi ekuitas AS. Forward P/E adalah jenis rasio yang membandingkan harga dengan pendapatan yang menggunakan pendapatan yang diperkirakan.

    Proksi saham H: MSCI China H Index.

.

MSCI China A Onshore Index merupakan indeks tidak terkelola yang menggambarkan representasi sekuritas-sekuritas dengan large cap dan mid cap di seluruh Tiongkok yang terdaftar di Bursa Shanghai dan Shenzhen. World Index MSCI adalah indeks tidak terkelola yang dianggap menggambarkan saham di negara-negara maju. MSCI USA Index adalah indeks tidak terkelola yang dirancang untuk mengukur kinerja segmen large cap dan mid cap di bursa AS. MSCI China H Index adalah indeks tidak terkelola yang menggambarkan representasi seluruh perusahaan dengan large cap dan mid cap di Tiongkok yang tergabung di Tiongkok daratan dan diperdagangkan di Hong Kong. Investor tidak dapat melakukan investasi secara langsung dalam suatu indeks.

Informasi dalam publikasi ini didasarkan pada sumber yang diyakini akurat dan dapat diandalkan pada tanggal dibuatnya publikasi ini. Kami memiliki hak untuk merevisi informasi apa pun dalam publikasi ini kapan saja tanpa pemberitahuan. Tidak ada penawaran atau ajakan untuk membeli atau menjual sekuritas dan tidak ada saran atau rekomendasi investasi yang diberikan dalam publikasi ini. Dalam mengambil keputusan investasi, investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan publikasi ini, tetapi sebaiknya juga mencari nasihat profesional yang mandiri. Namun, jika Anda memutuskan untuk tidak mencari nasihat profesional, Anda harus mempertimbangkan kesesuaian produk dengan diri Anda. Kinerja masa lalu dari pengelola dana dan dana kelolaannya tidak menentukan kinerjanya pada masa mendatang. Harga unit Dana dan pendapatan yang didapatkan dari Dana tersebut, jika ada, dapat turun atau naik dan tidak dapat dijamin. Pembagian hasil Dana, jika berlaku, dapat dilakukan berdasarkan kebijaksanaan tunggal Manajer dari pendapatan dan/atau keuntungan modal bersih atau modal Dana. Sebagai akibat dari pembayaran tersebut, nilai aset bersih Dana diperkirakan akan berkurang seketika. Imbal hasil dan pembayaran dividen tidak dijamin dan dapat berubah tergantung kondisi pasar atau atas kuasa Manajer; imbal hasil pembayaran dan pembayaran terdahulu tidak mencerminkan imbal hasil pembayaran dan pembayaran pada masa mendatang. Investasi memiliki risiko, seperti kemungkinan hilangnya jumlah pokok yang diinvestasikan dan risiko yang berkaitan dengan investasi di pasar yang sedang dan kurang berkembang. Dana dapat berinvestasi dalam instrumen keuangan derivatif dan/atau produk terstruktur dan dapat dipengaruhi oleh beragam risiko (termasuk risiko rekanan, likuiditas, kredit dan pasar, dll.). Kinerja masa lalu, maupun prediksi, proyeksi, atau perkiraan, tidak menentukan kinerja pada masa mendatang. Investor sebaiknya membaca Prospektus yang bisa didapatkan dari Allianz Global Investors Singapore Limited atau distributornya yang telah ditunjuk untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, termasuk tentang faktor risiko, sebelum berinvestasi. Publikasi ini belum ditinjau oleh Monetary Authority of Singapore (MAS). Otorisasi/pengakuan MAS bukanlah suatu rekomendasi atau persetujuan. Publikasi ini diterbitkan oleh Allianz Global Investors Singapore Limited (79 Robinson Road, #09-03, Singapore 068897, Nomor Registrasi Perusahaan 199907169Z).

Indonesia

Materi ini disusun untuk tujuan pemberian informasi semata. Tidak ada tawaran untuk membeli atau menjual sekuritas atau saran, maupun layanan investasi terkait lainnya.

Dokumen ini ditujukan untuk menyediakan wawasan yang luas untuk tujuan diskusi dan/atau informasi, dan tidak dimaksudkan untuk menyatakan, baik secara tersurat maupun tersirat, segala dana yang dikelola oleh Allianz Global Investors Singapore Limited atau afiliasinya, yang dananya tidak terdaftar atau terbuka untuk distribusi publik di Indonesia.

Baik Allianz Global Investors Singapore Limited atau afiliasinya tidak berhak menawarkan sekuritas atau saran investasi di Indonesia. Tawaran semacam itu tidak tersirat maupun tersurat.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan