Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Seperti Apa Kesiapan Manusia Menghadapi Wabah di Masa Mendatang?

16 Juni 2020 | Allianz Indonesia
Berbekal dari pengalaman di masa lalu, manusia selalu mengantisipasi kehadiran wabah di masa depan. Selama dua dekade terakhir, dunia mengalami paling tidak, tiga wabah akibat serangan virus yang menyerang sistem pernafasan.

Wabah itu antara lain sindrom pernafasan akut alias SARS, sindrom pernafasan di Timur Tengah atau MERS, flu Spanyol, dan flu babi alias swine flu.

Berbekal pengalaman di masa lampau, dunia kedokteran dan negara-negara dunia pun mengadopsi langkah-langkah penanggulangan dan pencegahan wabah untuk diterapkan dalam menghadapi pandemi COVID-19 saat ini.

Ambil contoh ketika flu Spanyol melanda dunia tahun 1918 hingga 1920, masyarakat pada saat itu menggunakan masker dan face shield saat berinteraksi dengan orang lain sebagai upaya pencegahan. Langkah pencegahan seperti ini juga kita terapkan ketika melawan COVID-19.

 

Kemajuan dunia menghadapi pandemi berbekal belajar pada pengalaman

BBC Indonesia pada April 2020 menyarikan beberapa kebijakan dan kemajuan dunia dalam menanggulangi pandemi saat ini yang merupakan hasil pembelajaran umat manusia di masa lampau. Kebijakan dan kemajuan tersebut antara lain:

1. Melakukan pembatasan sosial

Kebijakan pembatasan sosial berasal dari kebijakan yang diambil di dua kota di Amerika Serikat (AS) dalam menyikapi wabah flu Spanyol. Saat virus flu Spanyol merebak, dunia sedang berada di masa perang dunia pertama. Karena itu, pada September 1918, sejumlah kota di AS menjadwalkan pawai pengumpulan dana untuk membiayai keterlibatan negara itu dalam perang, meski saat itu dunia sedang dilanda flu Spanyol.

Pemerintah kota Philadelphia tetap menggelar pawai. Sedang pemerintah kota St. Louis membatalkan pawai. Apa yang terjadi sebulan kemudian? Lebih dari 10.000 orang penduduk Philadelphia meninggal dunia karena flu Spanyol. Sementara korban jiwa di St Louis akibat flu Spanyol di periode yang sama hanya 700 orang. Keputusan pemerintah St Louis yang membatalkan pawai ini yang menjadi rujukan pemerintah di masa kini untuk memberlakukan pembatasan sosial demi mencegah penyebaran virus.

 

Baca juga: 6 Hal yang Harus Dipersiapkan Ketika Harus Kembali Masuk Kantor Setelah Lama WFH

 

2. Pembentukan badan kesehatan dunia

Tiga tahun setelah wabah flu spanyol membekap dunia, Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang merupakan cikal bakal dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) membentuk organisasi kesehatan. Tugas khusus yang diemban organisasi kesehatan LBB adalah mengendalikan epidemi, menetapkan kebijakan karantina serta melakukan standarisasi obat-obatan.

Setelah perang dunia kedua berakhir di tahun 1945 LBB pun bersalin rupa menjadi PBB. Organisasi negara-negara di dunia ini juga membentuk organisasi khusus di bidang kesehatan, yaitu Organisasi Kesehatan Dunia alias WHO, menggantikan organisasi kesehatan LBB.

3. Pengetahuan tentang virus

Untuk mengatasi wabah penyakit, umat manusia pun lebih intensif dalam melakukan penelitian tentang virus. Berkat pemahaman yang membaik tentang virus, manusia pun berhasil menemukan vaksin untuk influenza pertama kali pada tahun 1940.

4. Kemajuan dalam dunia kedokteran

Efek domino akibat wabah mendorong negara-negara di dunia untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama dalam hal perkembangan dunia kedokteran kemasyarakatan. Antropolog Jennifer Cole seperti dikutip BBC Indonesia menyebutkan, wabah dan perang merupakan dua pemicu kesadaran publik terhadap konsep negara kesejahteraan di berbagai tempat dunia.

5. Perbaikan dalam fasilitas pengobatan

Saat wabah flu Spanyol melanda dunia, negara-negara di Eropa maupun Amerika Serikat pun tidak memiliki fasilitas pengobatan yang memadai. Namun munculnya wabah itu mengakibatkan masyarakat di sana mulai tergugah untuk memperbaiki fasilitas pengobatan. Seiring dengan peningkatan ketersediaan fasilitas kesehatan yang lebih baik, sumber daya manusia di bidang kesehatan juga bertambah. Perbaikan fasilitas pengobatan dan penambahan tenaga medis ini terjadi hampir di semua negara.

 

Baca juga: Kenali Serba-serbi New Normal agar Kamu Siap Menghadapinya

 

Antisipasi dunia menghadapi pandemi di masa mendatang

1. Perlu dibentuk gugus tugas dunia yang mengurus pandemi

Pada Oktober 2019, The Johns Hopkins Center for Health Security bekerja sama dengan World Economic Forum dan Bill and Melinda Gates Foundation mengadakan seminar pandemi bernama Event 201 di New York, AS. Dalam seminar tersebut, para pemimpin dan sejumlah pakar menyetujui usulan untuk World Health Organization (WHO) untuk menghadapi pandemi di masa mendatang. Usulan tersebut seperti dikutip dari Axios ialah perlunya gugus tuas yang terhubung dengan WHO, tetapi bukan bagian dari WHO. Satuan tugas ini khusus mengurusi pandemi yang terjadi di dunia.

2. Menyiapkan diri menghadapi epidemi, terutama pada lima sektor

World Economic Forum (WEF) memandang setiap negara perlu menyiapkan diri mengatasi pandemi di masa mendatang terutama pada lima sektor, yakni pariwisata, rantai pasokan dan logistik, hukum dan peraturan, komunikasi, dan inovasi data.

 

Baca juga: Yuk, Mengenal Istilah-istilah Ini untuk Lebih Memahami Virus Corona

 

3. Kerja sama antara pemerintah dan swasta

WEF lebih lanjut juga memandang kerja sama antara pemerintah dan swasta perlu ditingkatkan lagi dalam menghadapi pandemi di masa mendatang.

4. Meningkatkan research & development

Pandemi yang terjadi pun mengingatkan manusia untuk terus meningkatkan riset dan pengembangan di bidang pandemi.

Sepanjang kita hidup, kemungkinan kita akan menghadapi pandemi. Namun, dengan langkah pencegahan yang telah kita pelajari dari masyarakat di masa lampau, semoga kita pun terhindar dari wabah penyakit. Untuk perlindungan finansial, percayakan kebutuhan proteksi diri dan keluarga pada asuransi jiwa dan asuransi kesehatan dari Allianz Indonesia. Salam sehat!

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan