Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Sekolah Tatap Muka Sudah Diperbolehkan, Apa Saja yang Perlu Disiapkan?

14 April 2021 | Allianz Indonesia
Apa saja yang penting dipersiapkan ketika sekolah mulai kembali tatap muka di tengah pandemi?

Akhir Maret 2021 lalu, pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Menteri Dalam Negeri, Menteri Kesehatan, dan Menteri Agama yang membahas soal dibukanya pembelajaran tatap muka (PTM) atau sekolah tatap muka. Melalui SKB empat menteri tersebut, pemerintah menegaskan kembali bahwa saat ini sekolah sudah boleh membuka kegiatan belajar-mengajar tatap muka secara terbatas dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat. Harapannya, Juli 2021 nanti semua sekolah sudah melakukan belajar tatap muka.

Pembukaan sekolah tatap muka ini sejalan dengan program vaksinasi pemerintah, di mana guru dan dosen termasuk sektor yang diberikan prioritas pada tahap kedua. Meski mendorong sekolah untuk melakukan kegiatan sekolah tatap muka, namun pemerintah mewajibkan sekolah mengkombinasikan kegiatan PTM dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sehingga, orang tua berhak memilih apakah anaknya akan mengikuti sekolah tatap muka atau tetap mengikuti PJJ.

 

Alasan pentingnya melakukan sekolah tatap muka

Keputusan pemerintah membuka sekolah tatap muka bukan tanpa alasan. Mendikbud Nadiem Makarim dalam konferensi persnya menyebut bahwa kita memang harus hidup berdampingan dengan virus corona. Salah satunya ialah dengan melakukan sekolah tatap muka, namun dengan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan. Ini diperlukan untuk menghindari kerugian yang timbul akibat PJJ terlalu lama.

The World Bank seperti dikutip dari siaran pers Kemdikbud, Maret 2021 lalu, memperkirakan penutupan sekolah di seluruh dunia berpotensi menghilangkan pendapatan generasi yang saat ini di usia sekolah, sebesar USD10 triliun. Riset yang dilakukan oleh Unicef, Unesco, dan World Health Organization (WHO) juga menunjukkan bahwa anak berusia 18 tahun ke bawah yang terinfeksi COVID-19 hanya mencapai 8,5%, itupun menunjukkan gejala ringan. Sehingga, dalam lingkungan sekolah, guru dan tenaga pendidikanlah yang lebih rentan terinfeksi COVID-19. Anak kecil pun memiliki kemungkinan kecil dalam menularkan COVID-19 dibandingkan dengan orang dewasa.

 

Ketentuan berlangsungnya sekolah tatap muka

Namun, pemerintah juga tetap berhati-hati memberikan izin pembelajaran langsung. Sebelum membuka sekolah tatap muka, ada beberapa kriteria yang disyaratkan pemerintah dan harus dipenuhi oleh sekolah.

1. Guru sudah divaksin

Untuk dapat membuka sekolah tatap muka, semua guru dan tenaga kependidikan di sekolah tersebut harus sudah divaksin. Untuk alasan mempercepat program belajar tatap muka ini, maka pemerintah menargetkan seluruh guru, dosen, dan tenaga pendidik sudah mendapatkan vaksin paling lambat Juni 2021 mendatang.

2. Wajib memenuhi daftar periksa protokol kesehatan

Sekolah juga wajib memenuhi daftar periksa (checklist) protokol kesehatan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Dikutip dari Beritasatu, April 2021, ada empat hal yang tercantum dalam checklist protokol kesehatan tersebut, antara lain:

a. Tersedia sarana sanitasi dan kebersihan yang mencakup toilet atau kamar mandi bersih, sarana cuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun atau hand sanitiser, serta tersedia disinfektan.

b. Mudah mengakses fasilitas kesehatan, misalnya rumah sakit, klinik, Puskesmas; menerapkan area wajib masker, dan tersedia alat pengukur suhu tubuh.

c. Mendata murid, guru, dan karyawan (warga sekolah) yang memiliki kondisi komorbid tidak terkontrol, mendata warga sekolah yang tidak memiliki akses transportasi yang memungkinkan jaga jarak, mendata warga sekolah yang memiliki riwayat perjalanan dari zona kuning, oranye, merah dan belum melakukan isolasi mandiri selama dua minggu, serta mendata warga sekolah yang memiliki riwayat kontak dengan orang positif COVID-19 dan belum melakukan isolasi mandiri selama dua minggu.

d. Sekolah dan komite sekolah sama-sama membuat kesepakatan tentang penerapan protokol kesehatan saat sekolah tatap muka berlangsung.

3. Sekolah konsisten menerapkan protokol kesehatan

Selain itu, Kemdikbud juga menyarankan agar sekolah konsisten menerapkan dan mengedukasi warga sekolah tentang protokol kesehatan di lingkungan sekolah. Protokol kesehatan yang dimaksud mencakup wajib mengenakan masker, menjaga kapasitas maksimal sekolah, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitiser, menjaga jarak minimal 1,5 meter, tidak melakukan kontak fisik, dan menerapkan etika batuk. Pada dua bulan awal setelah sekolah dibuka, kantin tidak diperbolehkan beroperasi. Kegiatan lain yang juga ditiadakan pada dua bulan awal ialah kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan lain di sekolah selain pembelajaran.

4. Dapat menghentikan sementara sekolah tatap muka

Jika dalam perjalanannya, ada warga sekolah yang terinfeksi COVID-19, maka sekolah dapat menghentikan sementara kegiatan PTM.

 

Kabar baik, uji klinis vaksin COVID-19 untuk anak sudah dimulai

Meski pemerintah memiliki alasan kuat mendorong sekolah untuk melaksanakan PTM, namun banyak orang tua masih khawatir mengirimkan anaknya sekolah tatap muka. Maklum, hingga kini vaksin COVID-19 untuk anak belum tersedia. Namun kabar baiknya, beberapa pabrikan vaksin sudah mulai melakukan uji klinis vaksin COVID-19 pada bayi dan anak-anak, yaitu Moderna, Pfizer, AstraZeneca, Johnson & Johnson, dan BioNTech.

Dikutip dari The New York Times, Maret 2021, Moderna sudah memulai uji klinis vaksin COVID-19 pada bayi usia enam bulan hingga anak usia 17 tahun di Amerika Serikat dan Kanada. Dalam tahap uji klinis ini, bayi dan anak-anak akan menerima dua dosis vaksin, di mana kedua vaksin diberikan dalam selang waktu 28 hari. Suntikan pertama akan memiliki dosis lebih rendah daripada yang kedua. Beberapa anak juga ada yang akan menerima placebo pada suntikan kedua.

Setelah menerima vaksin, setiap bayi dan anak akan dimonitor agar Moderna bisa menentukan dosis vaksin yang tepat untuk bayi dan anak-anak. Setelah mendapatkan vaksin, anak-anak akan menunjukkan efek samping seperti demam, pegal, dan lelah. Meski efek samping pada anak ini disebut lebih intens ketimbang pada orang dewasa, namun uji klinis vaksin pada anak ini penting untuk mempercepat terbentuknya herd immunity. Uji klinis Moderna ini diperkirakan akan tuntas Juni 2022. Sementara Johnson & Johnson seperti dikutip CNN, Maret 2021, menyebutkan bahwa vaksin COVID-19 untuk anak-anak di bawah 18 tahun tersedia September 2021 mendatang.

Dengan tersedianya vaksin COVID-19 untuk anak-anak, semoga penyebaran virus ini bisa lebih terkendali dan orang tua bisa lebih tenang mengirim anak ke sekolah.

 

Untuk perlindungan yang optimal, jangan lupa pula melengkapi diri dan keluarga dengan SmartHealth Maxi Violet, asuransi kesehatan dari Allianz. Dengan memiliki SmartHealth Maxi Violet, kamu bisa memperoleh manfaat rawat inap, rawat jalan, persalinan, rawat gigi, dan manfaat tambahan seperti santunan harian. Salam sehat!

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan