Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Mengenal Vaksin Sinovac, Vaksin COVID-19 Pertama yang Digunakan di Indonesia

22 Januari 2021 | Allianz Indonesia
Sudah siap divaksin? Yuk, kenali dulu seputar vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia, agar kamu bisa menyebarkan langkah positif ini demi mengakhiri pandemi.

Vaksinasi COVID-19 tahap awal di Indonesia mulai dilaksanakan pada 13 Januari 2021 dengan Presiden Joko Widodo sebagai orang pertama yang menerima vaksin. Program vaksinasi ini terlaksana setelah pada tanggal 11 Januari 2021, BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) mengeluarkan izin penggunaan darurat (EUA) dan dikeluarkannya fatwa halal oleh Majelis Ulama Indonesia.

Program vaksinasi sendiri ditargetkan akan berlangsung selama 15 bulan. Vaksinasi akan dilakukan secara bertahap kepada 181,5 juta orang dalam beberapa tahap.

Vaksinasi diharapkan menjadi jawaban untuk mengatasi pandemi. Namun sayangnya, banyak yang masih meragukan. Hal ini sebenarnya muncul karena ketidaktahuan mengenai vaksin. Ulasan berikut dapat membantu kamu mengenali vaksin yang digunakan di Indonesia.

 

Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Jika Orang Sekitar Tidak Peduli COVID-19?

 

Apa Itu Vaksin Sinovac?

Vaksin ini sebenarnya bernama CoronaVac yang diproduksi oleh Sinovac Biotech Ltd. Sinovac merupakan perusahaan bioteknologi asal Tiongkok yang bermarkas di Beijing. Perusahaan tersebut memang fokus pada bidang riset, pengembangan, pembuatan, hingga komersialisasi vaksin-vaksin untuk mencegah penularan penyakit pada manusia.

Materi yang digunakan dalam vaksin Sinovac adalah virus SARS-COV2 yang sudah dinonaktifkan. Pembuatan vaksinasi dari virus yang telah dinonaktifkan, telah digunakan selama lebih dari satu abad. Jonas Salk menggunakannya untuk membuat vaksin polio di tahun 1950-an dan materi ini juga menjadi dasar untuk pembuatan vaksin lain seperti rabies dan hepatitis A.

Melalui Bio Farma, Indonesia menandatangani perjanjian kerja sama dengan Sinovac yang menyepakati komitmen ketersediaan suplai vaksin hingga 40 juta dosis vaksin. Di samping itu, Bio Farma juga menandatangani, di mana Sinovac akan memberi prioritas kepada Bio Farma untuk suplai vaksin dalam jumlah besar hingga akhir tahun 2021.

Bagaimana Vaksin Sinovac Bekerja?

Secara umum, vaksin bekerja dengan merangsang pembentukan kekebalan tubuh. Manfaatnya, apabila terpapar, seseorang akan bisa terhindar dari penularan ataupun sakit berat akibat penyakit tersebut.

Karena virus SARS-COV2 pada vaksin Sinovac sudah mati, vaksin bisa disuntikkan ke manusia tanpa menyebabkan COVID-19. Begitu masuk ke dalam tubuh, virus yang tidak aktif tersebut akan ‘dicerna’ oleh antigen. Antigen adalah zat yang dapat merangsang sistem imunitas tubuh untuk menghasilkan antibodi sebagai bentuk perlawanan.

Protein virus kemudian memicu aktivasi sel T pembantu, yang kemudian mengarahkan sel imun lainnya untuk membentuk antibodi. Jadi, ketika ada virus Corona yang masuk ke tubuh, tubuh sudah siap melawannya.

Direncanakan vaksinasi diberikan sebanyak dua dosis dengan interval 14 hari.

Bagaimana Efektivitas Vaksin Sinovac?

Sebelum membahas efektivitas vaksin, kenali dulu istilah efikasi vaksin. Efikasi vaksin adalah kemampuan vaksin dalam mengurangi munculnya penyakit dalam kondisi optimal (dalam kondisi uji klinis). Sedangkan efektivitas adalah kemampuan vaksin dalam mengurangi munculnya penyakit dalam dunia nyata. Angka efektivitas berpotensi lebih kecil dibandingkan efikasi.

Faktanya, vaksin tidak harus memiliki efikasi atau efektivitas sangat tinggi untuk bisa bermanfaat. Contohnya, vaksin influenza hanya memiliki efektivitas 40-60 persen, namun bisa menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahunnya.

Lalu bagaimana dengan efikasi vaksin Sinovac? Efikasi vaksin Sinovac adalah 65 persen yang memiliki dua pengertian. Pertama, vaksin Sinovac dapat mengurangi risiko sebesar 65 persen untuk terjadinya COVID-19 bergejala pada orang yang sudah divaksin Sinovac, dibandingkan dengan orang yang belum divaksin.

Kedua, vaksin ini juga dapat menurunkan kasus COVID-19 bergejala sebesar 65 persen dari jumlah kasus yang diperkirakan akan terjadi bila tidak diberikan vaksin Sinovac. Efikasi vaksin 65 persen juga berarti orang yang divaksin memiliki risiko 2,86 kali lebih rendah untuk mengalami COVID-19 bergejala dibandingkan yang tidak divaksin.

Semua vaksin COVID-19 yang terbukti pada uji klinik fase III memiliki efikasi lebih dari 50 persen, yang menurut WHO layak mendapat izin penggunaan darurat (EUA).

Meskipun vaksin Sinovac dapat menawarkan perlindungan terhadap COVID-19, belum ada penelitian yang membuktikan berapa lama perlindungan tersebut bertahan. Mungkin saja tingkat antibodi menurun selama beberapa bulan. Akan tetapi, sistem kekebalan juga mengandung sel khusus yang mungkin menyimpan informasi tentang virus corona selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun.

Apakah Vaksin Sinovac Memiliki Efek Samping?

Setelah melalui tiga tahap pengujian klinis, vaksin Sinovac diketahui aman digunakan. Meski demikian, efek samping yang ringan bisa dirasakan, seperti nyeri pada bekas suntikan.

Efek samping seperti demam dan nyeri otot juga bisa terjadi, namun pada umumnya ringan dan bersifat sementara. Efek samping juga tidak berarti akan muncul pada setiap orang, karena kondisi tubuh setiap orang berbeda.

Melalui tahapan pengembangan dan pengujian vaksin yang lengkap, efek samping yang berat dapat terlebih dahulu terdeteksi sehingga dapat dievaluasi lebih lanjut. Namun perlu diingat, manfaat vaksin jauh lebih besar dibandingkan risiko sakit karena terinfeksi bila tidak divaksin.

 

Baca juga: 7 Jenis Vaksin Covid-19, Perbedaan Metode dan Efektivitasnya yang Penting Kamu Tahu

 

Siapa yang Berhak Menerima Vaksin COVID-19?

Vaksinasi COVID-19 akan diberikan secara empat tahap, yaitu:

  1. Periode 1 (Januari-April 2021)
    Sasaran vaksinasi COVID-19 tahap 1 adalah tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, tenaga penunjang serta mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan profesi kedokteran yang bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes).
  2. Periode 2 (Januari-April 2021)
    Sasaran vaksinasi COVID-19 tahap 2 adalah petugas pelayanan publik, yaitu TNI/Polri, aparat hukum, dan petugas pelayanan publik lainnya yang meliputi petugas di bandara/pelabuhan/stasiun/terminal, perbankan, perusahaan listrik negara, dan perusahaan daerah air minum, serta petugas lain yang terlibat secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat.
  3. Selain itu, vaksinasi juga rencananya diberikan pada kelompok usia lanjut berusia lebih dari 60 tahun.
  4. Periode 3 (April 2021-Maret 2022)
    Sasaran vaksinasi COVID-19 tahap 3 adalah masyarakat rentan dari aspek geospasial, sosial, dan ekonomi.
  5. Periode 4 (April 2021-Maret 2022)
    Sasaran vaksinasi tahap 4 adalah masyarakat dan pelaku perekonomian lainnya dengan pendekatan klaster sesuai dengan ketersediaan vaksin.

Saat ini, uji klinis vaksin COVID-19 dibatasi pada umur 18-59 tahun yang merupakan kelompok usia terbanyak terpapar COVID-19. Sementara itu pengembangan vaksin untuk anak-anak masih direncanakan.

Bagaimana Mekanisme Registrasi dan Verifikasi Sasaran Penerima Vaksinasi COVID-19?

Sejak akhir Desember 2020, Kementerian Kesehatan telah mengirimkan pemberitahuan melalui pesan singkat (SMS) kepada kelompok prioritas penerima vaksin COVID-19. SMS pemberitahuan ini telah terhubung dengan aplikasi Pedulilindungi.

Untuk mengetahui apakah kamu termasuk kepada kelompok prioritas penerima vaksin, berikut tahapan registrasi dan verifikasinya:

  1. Jika kamu menerima SMS Blast dengan ID pengirim: PEDULICOVID, lakukan registrasi ulang untuk memilih tempat serta jadwal layanan melalui SMS 1199, UMB *119#, aplikasi Peduli Lindungi, web pedulilindungi.id atau melalui Babinsa/Babinkamtibmas setempat.
  2. Layanan SMS dan UMB tidak dikenakan biaya (gratis). Jika tidak memiliki HP, data kamu akan dikompilasi kemudian dilakukan verifikasi oleh Babinsa/Babinkamtibmas dengan melibatkan Lurah, Kepala desa, Ketua RT/RW serta Puskesmas setempat.
  3. Nantinya, masyarakat diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk mengonfirmasi domisili serta penapisan diri (self-screening) sederhana terhadap penyakit penyerta. Seseorang dengan komorbid/penyakit penyerta tertentu tidak dapat diberikan vaksinasi.
  4. Setelah melakukan verifikasi, kamu dapat memilih lokasi pelaksanaan dan jadwal vaksinasi. Selanjutnya, Sistem Informasi Satu Data Vaksinasi COVID-19 akan mengirimkan tiket elektronik sebagai undangan kepada masing-masing sasaran penerima vaksin COVID-19 yang telah terverifikasi.
  5. Pengingat jadwal layanan akan dikirimkan oleh sistem via SMS atau aplikasi Peduli Lindungi.

Selain itu, kamu juga bisa mengecek status penerima vaksin dengan cara berikut:

  1. Kunjungi laman Peduli Lindungi dengan link https://pedulilindungi.id/cek-nik atau klik di sini.
  2. Masukkan nama lengkap sesuai KTP
  3. Masukkan nomor NIK
  4. Masukkan kode captcha
  5. Kemudian akan muncul pemberitahuan terkait status NIK kamu, yang menyatakan apakah kamu sudah termasuk calon penerima vaksin gratis atau belum.

Baca juga: Cari Tahu Level-level Tempat Aktivitas Berisiko Penyebaran COVID-19

 

Meski telah menerima vaksin, protokol kesehatan tetap harus diterapkan. Risiko seseorang tertular dan menularkan masih tetap ada, meski sudah menerima vaksin, karena vaksin COVID-19 saat ini hanya mengurangi gejala.

Dengan memiliki pemahaman yang baik mengenai vaksin, setiap orang diharapkan dapat berpartisipasi dan tidak ragu untuk divaksinasi. Diharapkan, minimal 70 persen masyarakat Indonesia menerima vaksin agar mencapai kekebalan kelompok (herd immunity).

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan