Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Mengenal Asam Lambung, Penyakit yang Umum diderita Orang Indonesia

18 Agustus 2020 | Allianz Indonesia
Asam lambung atau GERD merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita orang Indonesia. Sering dianggap sepele, ternyata penyakit ini bisa mengakibatkan komplikasi jika dibiarkan. Kenali bagaimana GERD bisa terjadi, apa faktor pemicunya, dan bagaimana cara mengatasi penyakit ini. 

Istilah asam lambung pasti sudah tidak asing di telinga. Penyakit ini sering dikaitkan dengan pola makan yang buruk, seperti terlambat makan atau sering menyantap makanan pedas.

Dalam istilah medis, asam lambung kronis dikenal sebagai gastroesophageal reflux disease (GERD). GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan (saluran yang menghubungkan mulut dengan lambung).

GERD merupakan salah satu penyakit yang sering dikeluhkan. Bahkan Kementerian Kesehatan mencatat, penyakit yang berhubungan dengan gastrointestinal menduduki 10 besar penyakit dengan jumlah penderita terbanyak di Indonesia.

Jurnal Digestive Endoscopy tahun 2009 melaporkan, penyakit ini menjadi alasan terbanyak bagi pasien yang mendatangi fasilitas kesehatan untuk berobat jalan. GERD merupakan salah satu penyakit gastrointestinal selain diare dan sindrom iritasi usus.

Penyebab Asam Lambung

Ketika menelan, normalnya katup yang berada di muara kerongkongan akan terbuka agar makanan atau minuman bisa masuk ke lambung. Setelah makanan masuk ke lambung, katup akan menutup kencang untuk mencegah makanan naik ke kerongkongan.

Pada penderita asam lambung, katup ini melemah atau mengalami gangguan, sehingga asam lambung naik ke kerongkongan. Jika ini terus menerus terjadi, lapisan kerongkongan akan mengalami iritasi hingga terjadi peradangan.

Tingkat keparahan GERD tergantung pada kerusakan katup, serta jenis dan jumlah cairan yang keluar dari lambung.

 

Baca juga: 5 Cara Mudah Memilih Asuransi Kesehatan yang Tepat untuk Kebutuhan

 

Gejala Asam Lambung

Beberapa gejala umum asam lambung di antaranya:

  • Rasa terbakar di dada (heartburn), yang umumnya muncul setelah makan, dan memburuk di malam hari.
  • Nyeri atau perih pada ulu hati.
  • Kesulitan menelan.
  • Mual dan muntah.
  • Keluarnya isi lambung berupa makanan, atau cairan asam atau pahit.
  • Batuk-batuk atau sesak napas.

Cara Mengatasi Asam Lambung

Asam lambung bisa diatasi dengan obat-obatan berikut:

Antasida

Antasida mudah ditemukan di apotek atau minimarket. Beberapa merek dagang antasida di Indonesia yaitu Promag dan Mylanta.

Antasida memang dapat mengurangi gejala, terutama perih dengan cepat. Akan tetapi, obat ini tidak dapat mengatasi iritasi pada kerongkongan yang disebabkan oleh asam lambung.

Terlalu sering mengkonsumsi antasida dapat mengakibatkan efek samping, seperti diare dan masalah ginjal.

H-2 receptor blockers

Obat ini bekerja dengan cara mengurangi produksi asam lambung. Beberapa obat jenis ini adalah cimetidine, famotidine, dan nizatidine.

H-2 receptor blockers memang tidak bekerja secepat antasida, akan tetapi mampu mengatasi gejala lebih lama dan mengurangi produksi asam lambung hingga 12 jam.

Proton pump inhibitors (PPIs)

Obat asam lambung jenis ini bekerja lebih kuat daripada jenis H-2 receptor blockers, karena mampu menyembuhkan katup yang rusak. Beberapa obat jenis PPIs adalah lansoprazole dan omeprazole.

H-2 receptor blockers dan Proton pump inhibitors (PPIs) sebaiknya dikonsumsi berdasarkan resep dokter setelah berkonsultasi mengenai gejala yang dialami. Meski bisa dibeli sendiri, kedua jenis obat asam lambung selain antasida tergolong sebagai obat keras, sehingga tidak boleh dikonsumsi sembarangan.

Jika asam lambung sudah parah dan tidak membaik melalui pemberian obat-obatan, dokter mungkin akan merekomendasikan operasi untuk mengatasi penyakit ini.

Komplikasi Asam Lambung jika dibiarkan

Pada banyak orang, asam lambung memang tidak mengakibatkan komplikasi serius. Meski demikian, bukan berarti penyakit ini bisa disepelekan, terutama jika sering mengalaminya.

Asam lambung yang tidak diobati, berisiko mengakibatkan komplikasi penyakit lain seperti:

  • Memperburuk gejala asma bagi penderita asma.
  • Memunculkan masalah pernapasan seperti batuk kronis, terutama jika asam lambung naik ke paru-paru.
  • Peradangan pada kerongkongan (esofagitis).
  • Penyempitan pada kerongkongan.
  • Perubahan permanen pada lapisan kerongkongan.
  • Kanker kerongkongan.
  • Penyakit gusi, kerusakan gigi, dan masalah gigi lainnya, akibat asam lambung yang naik ke mulut.

 

Baca juga: Perlukah Memiliki Asuransi Penyakit Kritis? Cek Dulu Pertimbangannya di Sini

 

Cara Mencegah Asam Lambung

Penderita obesitas dan ibu hamil merupakan golongan orang yang paling berisiko mengalami penyakit asam lambung. Selain itu, beberapa kebiasaan berikut juga dapat memicu asam lambung:

  • Merokok, karena polutan yang ada pada rokok dapat mengiritasi lambung.
  • Makan dalam porsi banyak dalam sekali waktu.
  • Makan terlalu terburu-buru.
  • Langsung berbaring atau tidur setelah makan.
  • Makan larut malam.
  • Makan makanan pedas, berlemak, atau gorengan.
  • Gemar makanan bercita rasa masam seperti jus jeruk, asinan, atau saos tomat.
  • Minum minuman berkafein seperti teh dan kopi.
  • Minum alkohol.
  • Minum soda.
  • Memakai pakaian terlalu ketat di sekitar perut (seperti memakai ikat pinggang terlalu ketat atau celana yang kesempitan).

Baca juga: Cek 4 Hal Ini sebelum Membeli Asuransi Penyakit Kritis

 

Sebagian besar penyakit di saluran cerna dapat dicegah dengan menerapkan perilaku bersih dan sehat. Agar tidak terkena asam lambung, hindari faktor pemicu yang disebutkan di atas.

Selain itu, kelola stres dengan baik. Karena saat stres, rutinitas seperti makan tepat waktu jadi terganggu, sehingga memicu asam lambung.

Jika mengalami GERD, catat aktivitas atau makanan apa yang kira-kira jadi pemicunya. Bila kondisi tidak membaik, jangan tunggu sampai gejala menimbulkan komplikasi yang parah dan segeralah periksakan ke dokter.

 

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan