Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Kenali Zoom Fatigue, Kelelahan yang dialami Pekerja Kantoran saat Pandemi

03 Desember 2020 | Allianz Indonesia
Pandemi COVID-19 melahirkan berbagai istilah baru, salah satunya adalah zoom fatigue. Apakah yang dimaskud dengan zoom fatigue dan bagaimana fenomena ini bisa terjadi? Simak penjelasannya dalam artikel berikut.

Bekerja dari rumah (WFH), bagi sebagian orang merupakan salah satu hal yang disyukuri selama pandemi. Selain menghindari risiko terinfeksi COVID-19, mereka yang biasa menempuh jarak jauh ke kantor dan bermacet ria, bisa terbebas dari semua itu berkat WFH.

Nyatanya, bekerja di rumah tidak kalah melelahkannya. Apalagi jika dalam sehari harus melakukan beberapa kali video conference baik itu melalui Zoom, Skype, atau Google Hangout.

Padahal hanya duduk dan sambil video conference, kok bisa lelah? Kemungkinan, kamu sedang mengalami Zoom fatigue.

Apa Itu Zoom Fatigue?

Zoom fatigue adalah kelelahan akut akibat sering melakukan konferensi video. Meski aktivitas ini terkesan ringan dan hanya perlu dilakukan dengan duduk menghadap layar komputer atau gawai, terlalu sering melakukannya dapat berakibat negatif pada kesehatan mental. Meskipun dinamakan Zoom Fatigue, fenomena kelelahan ini juga bisa dialami pada pengguna aplikasi sejenis lainnya.

Ada beberapa alasan ilmiah dari fenomena ini. Yang pertama berkaitan dengan isyarat verbal dan nonverbal saat manusia berkomunikasi. Nonverbal artinya otak akan menangkap gestur tubuh, tatapan mata, dan bahkan tarikan napas seseorang saat berinteraksi secara langsung.

 

Baca juga: Waspadai Hal yang Bisa Mengganggu Keseimbangan Keuanganmu

 

Saat video conference, kita dipaksa untuk lebih berkonsentrasi untuk menyerap informasi karena suara yang dihasilkan tidak terlalu jelas atau gangguan sinyal yang membuat komunikasi terhambat. Di saat otak berusaha menangkap informasi yang putus-putus tersebut, otak juga dipaksa mencari isyarat nonverbal yang sulit ditangkap melalui kamera. Kemungkinan inilah yang membuat kita menjadi lelah.

Penyebab kedua adalah kontak mata. Saat video conference, pandangan harus diarahkan ke kamera agar tampak seperti sedang melakukan kontak mata. Tidak melakukan kontak mata dianggap tidak sopan atau tidak memerhatikan. Namun jika video conference dilakukan dengan 3 orang atau lebih, kontak mata ini sulit dilakukan, dan jika dilakukan terus menerus akan melelahkan.

Selain itu, fokus cenderung mudah terbagi dibandingkan saat rapat tatap muka, sehingga kita mungkin harus meminta lawan bicara mengulang apa yang dia katakan.

Alasan lain adalah posisi tubuh yang cenderung membungkuk karena menatap gawai terlalu lama, membuat otot di sekitar pundak dan leher terasa kaku. Tak heran jika video conference terasa lebih melelahkan daripada rapat secara tatap muka.

 

Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Jika Orang Sekitar Tidak Peduli COVID-19?

 

Tips Mengatasi Zoom Fatigue

Rapat online mungkin tidak bisa dihindari. Nah, kalau kamu sudah menunjukkan tanda-tanda seperti sangat lelah, cemas, dan gelisah sesudah melakukan video conference, ada beberapa cara untuk mengatasinya, yaitu:

  • Cuci muka untuk menyegarkan pikiran.
  • Lakukan detoksifikasi gawai. Jangan gunakan waktu istirahat untuk melihat layar gawai karena tidak membuat otak beristirahat.
  • Lakukan peregangan ringan agar otot tidak terasa pegal.
  • Luangkan waktu untuk menikmati pemandangan taman di luar rumah atau pemandangan alam di akhir pekan.
  • Batasi penggunaan gawai di akhir pekan.

Bekerja di saat pandemi memerlukan berbagai pembiasaan baru. Beberapa orang mungkin kesulitan membagi waktu karena banyaknya distraksi, sehingga tingkat stres justru menjadi lebih tinggi. Jangan biarkan zoom fatigue menambah beban stresmu.

Terapkan tips di atas untuk mengurangi efek dari zoom fatigue. Tetap semangat dan jaga kesehatan ya!20

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan