Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Jurus Memperkuat Dana Darurat agar Bisa Bertahan di Tengah Pandemi COVID-19

17 Juni 2020 | Allianz Indonesia
Pandemi COVID-19 memicu keterpurukan ekonomi yang cukup dahsyat di seluruh dunia. Di Indonesia, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) sudah melahirkan jutaan pengangguran baru.Setiap orang tentu memiliki impian yang berbeda-beda apabila kita berbicara tentang pernikahan. Apapun tema atau adatnya, ada satu hal yang pasti (selain cinta, tentunya) yaitu biaya. Ini beberapa tips merencanakan biaya pernikahan.

Data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Tenaga Kerja RI, sampai 2 Juni lalu, jumlah tenaga kerja terdampak COVID-19 mencapai 3,05 juta orang dan diperkirakan akan terus bertambah hingga 5,23 juta orang (Tempo, 8 Juni 2020).

Kondisi perekonomian yang terpuruk akibat hantaman pandemi COVID-19 diperkirakan butuh waktu lama untuk pulih. Pemerintah memperkirakan, perlu waktu setidaknya lima tahun hingga perekonomian dapat kembali seperti sedia kala. Di tengah ketidakpastian ekonomi yang bakal berlangsung cukup lama, kita dituntut memperkuat daya tahan keuangan pribadi agar bisa bertahan menghadapi guncangan di depan.

Salah satu bekal penting menghadapi tantangan ekonomi pandemi adalah dengan memperkuat dana darurat. Terapkan jurus mudah memperkuat dana darurat di bawah ini supaya keuangan pribadi kamu selalu sehat.

 

Baca juga: New Normal, Adaptasi Baru Kegiatan Offline Jadi Online

 

1. Perbesar porsi menabung rutin

Dalam kondisi normal, kamu pasti sudah terbiasa menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung sebagai tabungan dana darurat ataupun untuk investasi kebutuhan hari depan. Perencana keuangan umumnya menyarankan minimal sebesar 10% penghasilan ditabung rutin setiap bulan.

Nah, menghadapi risiko krisis keuangan akibat pandemi COVID-19, sebaiknya kamu memperbesar porsi pendapatan yang disisihkan untuk saldo dana darurat. Tingkatkan setidaknya menjadi 20% dari penghasilan rutin kamu untuk ditabung sebagai dana darurat.

Tempatkan tabungan dana darurat itu di rekening khusus yang mudah kamu akses sewaktu-waktu. Seperti rekening simpanan di bank, deposito berjangka, tabungan rencana di bank, dan sejenisnya. Bisa juga kamu tempatkan sebagian dana darurat dalam bentuk emas logam mulia (emas batangan) sebagai instrumen lindung nilai atau hedging.

2. Lakukan penghematan dengan terencana

Ada banyak pos pengeluaran yang berkurang bahkan hilang semenjak pandemi COVID-19 terjadi dan mengharuskan banyak orang melakukan physical distancing dan #diRumahAja. Sebut saja pos transportasi dari rumah ke kantor dan sebaliknya.

Pos transportasi termasuk pengeluaran untuk beli bahan bakar minyak (BBM), bayar uang parkir, tiket tol dan lain-lain. Begitu juga pos makan siang di kantor, pos liburan rutin, hingga pos akhir pekan di mal, dan lain-lain. Pengeluaran yang berkurang drastis tersebut bisa kamu alihkan untuk menambah tabungan dana darurat. 

Sebagai gambaran, dalam kondisi normal kamu bisa menghabiskan Rp2 juta untuk pengeluaran transportasi harian. Selama work from home, tentu pos tersebut tidak ada pengeluaran sama sekali. Jadi, kamu bisa alihkan Rp2 juta untuk menambah rekening dana darurat. Lakukan secara konsisten pengalihan pos pengeluaran tak terpakai untuk memperkuat emergency fund. Tanpa kamu sadari, pos dana darurat akan bertambah lebih cepat dan bisa meningkatkan ketahanan keuangan pribadi kamu.

 

Baca juga: Di Masa Transisi, Tak Perlu Buru-Buru Beraktivitas di Luar Rumah

 

3. Terapkan diversifikasi risiko dana darurat

Dana darurat memang idealnya ditempatkan di instrumen yang likuid atau mudah diuangkan ketika kamu mendadak membutuhkan dana tunai. Beberapa instrumen yang likuid antara lain rekening bank biasa, tabungan rencana bank, simpanan berjangka atau deposito perbankan, reksa dana pasar uang, emas logam mulia, surat utang negara bertenor pendek atau yang tradable di pasar sekunder, juga uang kas tunai (hard cash). Yang paling likuid tentu saja adalah dana darurat berupa uang kas tunai.

Akan tetapi, akan sangat berisiko bila kamu menempatkan seluruh dana darurat kamu dalam bentuk uang tunai. Selain rentan hilang karena pencurian, uang tunai keras juga berisiko rusak fisiknya dan nilainya tergerus inflasi dalam jangka waktu lama.

Solusinya, lakukan diversifikasi atau penyebaran risiko penempatan dana darurat dengan membaginya ke banyak tempat. Juga, cari instrumen likuid yang masih memberikan pertumbuhan (return) agar dana darurat kamu tidak mudah tergerus inflasi.

Contoh praktis, anggap saja dana darurat yang sudah kamu kumpulkan mencapai Rp100 juta. Bagi penempatannya dengan proporsi sebesar 40% atau Rp40 juta dalam bentuk deposito berjangka tenor 1 bulan dan 3 bulan. Jangan lupa mengaktifkan automatic roll over (ARO).

Lalu, sebesar 20% bisa kamu tempatkan dalam bentuk reksa dana pasar uang. Kemudian, 15% atau setara Rp15 juta tempatkan dalam bentuk emas batangan, lalu 20% dalam tempatkan di surat utang negara yang likuid (tradable) seperti obligasi ritel (ORI) atau sukuk ritel (Sukri). Sisanya sebesar 5% atau setara Rp5 juta bisa kamu simpan dalam bentuk tunai. Untuk dana darurat dalam bentuk uang tunai  dan emas, pastikan berhati-hati menyimpannya. Simpan di brankas pribadi atau safe deposit box

 

Baca juga: Simak 7 Strategi agar Bisnis Tetap Bergulir Selama Pandemi

 

4. Cari side hustle untuk mempercepat penambahan saldo dana darurat

Kebutuhan dana darurat setiap orang berbeda-beda bergantung pada pengeluaran rutin dan status tanggungan. Misalnya, kamu seorang lajang, dana darurat sebesar enam kali nilai pengeluaran rutin bulanan, mungkin sudah cukup dalam kondisi perekonomian normal. Sedangkan bila kamu sudah berkeluarga, kamu idealnya memiliki dana darurat sebesar 12 kali nilai pengeluaran bulanan. 

Di masa pandemi di mana risiko guncangan finansial lebih besar, akan lebih bijak bila kamu meningkatkan saldo dana darurat di atas ukuran ideal tersebut. Selain dengan berhemat, kamu dapat mempercepat penambahan saldo dana darurat dengan mencoba mencari tambahan penghasilan. 

Memang bukan hal mudah mendapatkan penghasilan tambahan di tengah pandemi yang melumpuhkan perekonomian. Namun, bukan berarti tidak ada peluang sama sekali.

Kamu bisa menjajaki peluang mencari cuan tambahan lewat berdagang kebutuhan-kebutuhan yang meningkat demand-nya selama pandemi. Misalnya, berjualan keperluan seputar healthcare seperti hand sanitizer, disinfektan, masker, face shield, vitamin penambah imunitas tubuh, minuman herbal penunjang kesehatan, dan lain sebagainya.

Dengan menempuh empat langkah di atas, kamu bisa memperkuat dana darurat agar lebih siap menghadapi risiko guncangan finansial di tengah pandemi COVID-19.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan