Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

22 April 2020 | Allianz Indonesia
Wabah virus novel corona yang merebak sejak akhir tahun lalu telah merontokkan pasar modal di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia.

Angka kematian korban akibat penyakit virus corona 2019 (COVID-19) yang semakin bertambah semakin meningkatkan kekhawatiran para investor, sehingga mereka mengalihkan dananya dari investasi berisiko ke investasi yang lebih aman.

Akibatnya, investasi obligasi dan saham mengalami koreksi. bursa-bursa saham dunia banyak yang mengalami pelemahan dan harga-harga saham anjlok.

Kondisi volatile di bursa saham dunia juga terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI), di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada (3 April 2020) sempat ditutup di level 4.623, atau melorot 26,4% sejak awal tahun (2 Januari 2020). Apakah kamu termasuk investor pasar modal yang merasakan volatile pasar saat ini? Jika ya, simak tips penting berinvestasi berikut yang bisa kamu terapkan selama wabah virus corona berlangsung.

Tips berinvestasi saat wabah virus corona

1. Periksa profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi

Meski pasar modal sangat volatile dan telah turun tajam sejak awal tahun, namun tetaplah tenang dalam mengambil keputusan investasi dan jangan melakukan penjualan karena panik, atau panic selling. Sebelum mengambil keputusan akan menjual investasi kamu, pertama-tama kamu perlu memeriksa lagi profil risiko diri kamu sendiri. Jika kerugian yang kamu hadapi lebih dari batas toleransi yang bisa kamu terima, maka kamu bisa menjual sebagian atau seluruh investasimu pada posisi rugi untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Strategi ini disebut juga cut loss.

Namun, jika kerugian yang kamu hadapi saat ini masih bisa ditolerir, kamu bisa memperpanjang jangka waktu investasi kamu, misalnya dari yang tadinya setahun, menjadi lebih panjang. Karena investasi pasar modal adalah untuk jangka panjang Sehingga, keuntungan yang optimal dapat terlihat jika waktu investasi bersifat jangka panjang.

Hal ini sesuai dengan petuah miliarder dunia Warren Buffett dalam berbagai buku dan wawancara, salah satunya dengan CNBC pada Maret 2020 lalu. Menurut Buffett, dalam berinvestasi pada saham, itu artinya kita membeli suatu bisnis untuk 20 tahun atau 30 tahun. Kita membeli perusahaan tersebut seluruhnya beserta bagian-bagiannya, dan jangka waktu investasi kita untuk jangka panjang tidak akan berubah hanya karena virus corona.

 

Baca juga: Apa yang Bisa Saya Lakukan untuk Melindungi Diri dari Virus Corona?

 

2. Saat yang tepat untuk berinvestasi

Setiap saat adalah saat yang tepat untuk berinvestasi, karena kamu tidak pernah tahu kondisi pasar modal kedepannya. Contohnya tidak ada yang tahu bahwa tahun ini ada pandemi corona yang mampu meluluhlantahkan pasar modal, padahal kita tahu di akhir 2019, saham dan sbligasi ditutup dengan hasil yang memuaskan. 

Kondisi saat ini di mana obligasi dan saham mengalami penurunan sebenarnya adalah kondisi “diskon” pasar modal. Seperti yang dikatakan Investor kawakan asal Indonesia, Lo Kheng Hong, dalam wawancaranya dengan CNBC Indonesia pada Maret 2020 silam juga punya tips menarik.

Menurut dia, saat harga saham anjlok, justru ini waktu yang tepat untuk membeli saham. Sebab, saat ini saham-saham bagus yang tadinya harganya mahal, sekarang sedang “diskon” dibandingkan dengan harga sebelum virus corona merebak. Saat pasar sedang lesu begini, kamu pun jadi punya banyak waktu untuk mengamati saham-saham yang secara fundamental bagus.

Tetapi, ketika kamu memutuskan akan berinvestasi, jangan lakukan investasi secara sekaligus. Mengingat pandemi COVID-19 belum usai, maka pasar masih akan volatile. Jadi, berinvestasilah secara bertahap untuk mendapatkan hasil lebih maksimal

3. Berinvestasi dengan dana yang telah disiapkan 

Berinvestasilah sesuai tujuan investasi. Alokasikan dana khusus untuk berinvestasi. Jika kamu ingin mencari momen investasi di saham pada saat kondisi volatile seperti saat ini Goklas Tambunan, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 3 BEI dalam wawancaranya dengan Detik Finance, Maret 2020, turut mengutarakan tips yang tak kalah penting. Di tengah situasi ekonomi sedang tak menentu sekarang ini, jika kamu mau masuk ke pasar saham, pakailah dana lebih (excess fund) yang memang ditujukan untuk investasi. Jangan gunakan dana untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan, atau dana darurat untuk membeli saham.

 

Baca juga: Yuk, Pahami Lebih Jelas Arti Pandemi pada COVID-19

 

4. Lakukan diversifikasi investasi

Kondisi pasar modal saat ini merupakan kesempatan yang bagus untuk melakukan diversifikasi investasi. Jika sebelumnya kamu termasuk agresif berinvestasi di pasar saham, maka sekarang kamu bisa membeli juga produk-produk investasi dengan risiko moderat seperti obligasi pemerintah atau produk investasi dengan risiko konservatif seperti deposito dan surat utang pemerintah. Begitu juga sebaliknya anda yang telah memiliki obligasi dapat mencoba melihat investasi di Saham. Diversifikasi aset dapat mengoptimalkan hasil. Namun tetap sesuaikan dengan profil risiko masing-masing dalam memilih instrumen investasi. 

5. Jangan tutup polis asuransi

Tak kalah pentingnya jika kamu berinvestasi di produk asuransi investasi, alias unit link, maka berusahalah untuk tidak menutup polis asuransi unit link tersebut. Di saat kondisi pasar modal yang volatile dan perekonomian yang sedang melambat seperti ini, serta situasi yang penuh ketidakpastian maka memiliki asuransi sebagai proteksi merupakan pilihan yang tepat. Jika kamu atau keluargamu mengalami suatu risiko, maka dengan memiliki asuransi, kamu bisa meminimalisir hilangnya dana pribadi dan tetap tenang. Karena, perusahaan asuransi yang akan membayar klaim atas risiko tersebut.

Sebagai perusahaan asuransi terpercaya, PT Asuransi Allianz Life Indonesia senantiasa menerapkan protokol perusahaan dalam menghadapi berbagai kondisi ekonomi, termasuk dalam mengantisipasi pelemahan pasar modal seperti sekarang ini. Jika kamu memiliki asuransi unit link Allianz, kamu pun bisa dengan mudah memantau pergerakan nilai aset bersih (NAB) reksa dana unit link Allianz di sini.

 

Baca juga: Banyak Mitos tentang Pandemi Virus Corona, Cek Dahulu 6 Fakta Penting Ini

 

Ini alasan mengapa kamu bisa tetap tenang

Di tengah pelemahan bursa dan perekonomian nasional akibat COVID-19, Pemerintah, OJK, BI dan BEI mengambil sejumlah langkah antisipasi. Hal ini bertujuan mencegah dampak yang lebih buruk. Selain itu, berkaca pada sejarah, badai pasar modal akibat penyakit pasti berlalu. Simak beberapa alasan mengapa kamu bisa tetap tenang di tengah situasi ini.

1. Pemerintah telah mengeluarkan 3 pake stimulus

Stimulus 1 lebih fokus ke pariwisata, stimulus 2 fokus ke pemotongan pajak perusahaan dan stimulus ketiga pemerintah memberikan stimulus Rp405,1 triliun sebagai upaya meminimalisir dampak wabah corona (COVID-19) terhadap perekonomian Pemerintah menaikkan target defisit anggaran menjadi 5,07% dari PDB dengan dikeluarkannya undang-undang darurat (Perppu) tentang keuangan negara untuk memerangi wabah virus corona. Relaksasi anggaran akan berlanjut untuk 2021/22 sebelum kembali ke batas 3% pada 2023. 

2. BEI mengeluarkan aturan baru seputar trading halt dan autorejection

Untuk mencegah penurunan harga saham dan penurunan IHSG yang lebih tajam lagi, pada Maret 2020 lalu BEI telah mengeluarkan dua aturan baru yang mengatur penghentian sementara transaksi (trading halt) dan perubahan penolakan otomatis (autorejection). Dalam rangka mendukung kebijakan pemerintah untuk berkegiatan di rumah, BEI juga menerapkan perubahan waktu transaksi.

3. BI menurunkan suku bunga

Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,5% untuk mengantisipasi dampak negatif COVID-19. Dengan penurunan suku bunga BI, maka diharapkan suku bunga pinjaman perbankan juga akan menurun, sehingga masyarakat mendapat keringanan dalam menyicil kredit.

4. Historis kondisi pasar saham global setelah wabah penyakit usai

Penyakit SARS yang mewabah pada tahun 2003 juga sempat meruntuhkan berbagai pasar modal di dunia. Di Asia Pasifik, indeks saham sempat turun 5.5%. Namun, tiga bulan setelah wabah tersebut usai, indeks saham Asia Pasifik melambung hingga 35%. Walaupun tidak dapat menjadi jaminan bahwa hal ini akan terjadi kembali dalam kondisi corona saat ini. 

Dengan membaca tips penting berinvestasi saat wabah virus corona di atas, semoga kini kamu dapat lebih tenang dan mengambil keputusan yang tepat. Tetap semangat dan sehat selalu.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan