Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Ekonomi Lesu Akibat Pandemi, Bagaimana Mengelola Keuangan yang Tepat?

03 Juni 2020 | Allianz Indonesia
Penyebaran virus corona yang membayangi dunia sejak akhir 2019 tidak hanya mengancam kesehatan umat manusia, tetapi juga mengganggu berbagai segi kehidupan manusia di dunia, terutama di bidang ekonomi.

Perputaran roda ekonomi di dunia menjadi berjalan jauh lebih pelan seiring dengan berbagai upaya pencegahan penyebaran virus tersebut. Kebijakan social distancing yang diterapkan di banyak negara untuk menghambat penyebaran virus, otomatis mengganggu rutinitas tiap umat manusia di muka bumi ini, termasuk kegiatan mencari uang.

Nyaris tidak ada industri di dunia yang terbebas dari gangguan akibat penyebaran virus corona. Tidak heran, para ekonom pun memperkirakan ekonomi dunia di tahun ini akan mengalami kontraksi, alih-alih pertumbuhan.

Dalam proyeksi terbarunya yang terbit Mei 2020, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi dunia akan mengalami kontraksi, paling tidak, sebesar 3%. Sedangkan Asian Development Bank (ADB) mengkalkulasi kerugian ekonomi dunia yang disebabkan oleh pandemi virus corona berada di kisaran US$ 5,8 triliun hingga US$ 8,8 triliun.

 

Dampak pandemi bagi perekonomian

Nilai kerugian sebesar itu tentu akan sangat mudah dirasakan oleh banyak orang. Bentuknya bisa bermacam-macam. Bagi mereka yang berwirausaha, kemungkinan buruk yang muncul akibat penyebaran virus corona adalah penjualan yang menurun drastis. Itu bisa terjadi karena banyak pebisnis harus menutup gerai penjualannya atau mengurangi kegiatan produksinya di masa pembatasan sosial.

Mereka yang mencari uang dengan bekerja sebagai karyawan juga tidak luput dari ancaman virus corona. Karena perusahaan tempat mereka bekerja mengalami penurunan omzet. Sehingga, sangat mungkin jika pekerja mengalami pemangkasan gaji. Bahkan, banyak yang harus mengalami kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempatnya bekerja mengalami kesulitan keuangan.

Mengutip proyeksi ADB, sebanyak 158 juta orang hingga 242 juta orang terancam kehilangan pekerjaan akibat kesulitan keuangan yang dialami perusahaan tempatnya bekerja di masa pandemi. Di Indonesia, ancaman PHK juga membayangi banyak orang. Kementerian Keuangan menyebut hampir 1,5 juta pekerja telah diberhentikan per pekan kedua April 2020.

Tentu tidak ada yang ingin menghadapi risiko penurunan pendapatan. Namun, mengingat besarnya dampak ekonomi yang disebabkan virus corona, tidak ada salahnya kita menyiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Seandainya, arus masuk keuanganmu melambat, apa saja yang perlu kamu lakukan? Berikut beberapa strategi mengelola keuangan untuk menghadapi dampak ekonomi akibat pandemi.

 

Baca juga: Ayo Jaga Kadar Kolesterol dalam Tubuh Sehabis Lebaran

 

Langkah mengelola keuangan yang tepat

1. Menunda pengeluaran yang tidak perlu

Di saat berada di bawah bayang-bayang resesi, tak ada salahnya mengingat-ingat kembali perkataan bijak berikut: kita seharusnya mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan, bukan untuk memenuhi keinginan. Dengan kata lain, sudah seharusnya kamu menyeleksi kembali apa saja pengeluaran yang harus kamu penuhi.

Saat pertengahan tahun seperti sekarang ini, keinginan yang biasanya terbayang di benak banyak orang dan keluarga ialah rekreasi, berlibur, serta belanja barang yang perlu diganti setelah jangka waktu tertentu (durable goods) seperti kendaraan atau peralatan elektronik. Kamu atau keluarga mungkin akan kecewa jika menunda keinginan semacam ini. Namun, penundaan ini perlu dilakukan agar kondisi keuanganmu bisa sehat. Ingat, kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Jadi, kita tidak bisa memprediksi kapan perekonomian akan berangsur pulih.

 

Baca juga: Ketahui Jenis Alat Tes untuk Mendeteksi COVID-19

 

2. Memangkas biaya

Kita mengenal dua macam biaya dalam arus kas keluar, yakni biaya tetap dan biaya tidak tetap atau biaya variabel. Biaya tetap misalnya cicilan utang. Sementara biaya tidak tetap misalnya biaya pemakaian listrik dan makan, yang bisa disesuaikan.

Jika pendapatanmu berkurang, tentunya wajar pula jika kamu memangkas beberapa pengeluaran, khususnya biaya variabel. Itu sebabnya, salah satu strategi yang bisa kamu lakukan sekarang adalah mencermati kembali berbagai biaya yang kamu keluarkan per bulan. Adakah biaya yang bisa dipangkas?

Biaya yang bisa kita pangkas ini misalnya biaya untuk telekomunikasi. Boleh jadi saat ini kamu berlangganan internet baik di handphone dan di rumah. Mengingat kamu dan keluarga lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mungkin kamu bisa menurunkan pengeluaran untuk paket internet di handphone.

Bentuk pemangkasan biaya lain yang bisa kita rencanakan seperti mengurangi pengeluaran untuk jajan. Di saat stay at home, kita sudah seharusnya menyiapkan masakan sendiri, daripada mengeluarkan uang untuk belanja makanan jadi.

3. Hindari mengambil utang baru

Pengeluaran yang termasuk biaya tetap dan tidak bisa ditunda atau dipangkas adalah cicilan pelunasan utang. Karena itu, langkah terkait utang yang perlu kamu lakukan untuk menghadapi penurunan pendapatan saat ini ialah menolak tawaran utang baru.

Lalu bagaimana jika kamu sudah terlanjur merencanakan pembelian rumah atau mobil dengan memanfaatkan pinjaman? Jika belum melakukan akad kredit, ada baiknya kamu menunda rencana pembelian aset besar dengan utang sampai kondisi keuanganmu stabil kembali. Namun, jika di tengah situasi ini rasio cicilan kredit berbanding penghasilan bulanan kamu tidak lebih dari 35%, maka kamu boleh melanjutkan rencana mengajukan kredit aset besar tersebut.

 

Baca juga: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Samping Kesehatan Fisik saat Pandemi COVID-19

 

4. Maksimalkan manfaat yang ditawarkan asuransi

Manfaat sebagai pemegang polis asuransi tentu bisa kamu rasakan di masa-masa sulit seperti pandemi virus corona sekarang ini. Nah, jika kamu sudah memiliki produk proteksi, coba cek apa saja manfaat yang bisa kamu dapatkan di masa-masa sulit seperti ini. Kamu bisa mencoba melirik opsi polis asuransi kesehatan Allianz. Dengan memiliki polis tersebut, kamu juga bisa mendapatkan layanan Allianz Teleconsultation, yakni layanan konsultasi kesehatan secara gratis dengan dokter melalui aplikasi Halodoc.

Pandemi memang telah menimbulkan perlambatan ekonomi di segala aspek. Namun, kamu pasti bisa menghadapinya jika mengelola keuangan dengan baik. Jadi, tetap semangat!

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan