Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Orang Sekitar Tidak Peduli COVID-19?

01 Desember 2020 | Allianz Indonesia
Di tengah hoaks yang menyatakan bahwa COVID-19 adalah rekayasa bahwa bagian dari konspirasi, apa yang harus dilakukan jika orang sekitar tidak lagi percaya bahwa pandemi ini nyata?

Di era new normal ini, makin banyak orang yang bersikap seakan pandemi sudah berakhir. Saat berada di tempat umum, mungkin kamu beberapa kali melihat orang-orang yang dengan santainya nongkrong dan berbincang tanpa mengenakan masker atau tidak menjaga jarak.

Banyak orang yang sudah merasa lelah dengan pandemi COVID-19. Namun, faktanya pandemi belum selesai. Malah angka penderitanya semakin tinggi. Sayangnya pada kondisi ini, semakin besar pula gelombang ketidakpercayaan dari masyarakat, yang akhirnya membuat mereka tidak peduli dengan protokol kesehatan.

Mengapa Semakin Banyak Orang yang Tidak Peduli dengan Pandemi?

Pertama, COVID-19 dianggap rekayasa atau bagian dari konspirasi. Misinformasi dan hoaks yang beredar di media sosial sama kuatnya dengan berita yang memuat kebenaran mengenai COVID.

Biasanya berita hoaks tersebut berbasis manipulasi foto, video, dan narasi. Narasi yang diramu seilmiah mungkin, akan terkesan semakin meyakinkan. Salah satunya adalah hoaks mengenai pemakaian masker yang bisa menyebabkan hipoksia. Informasi tersebut tertulis bersumber dari dokter yang praktik di sebuah rumah sakit di Semarang.

Padahal jika dikaji lebih lanjut, nama dokter tersebut adalah fiktif, tidak terdaftar di IDI (Ikatan Dokter Indonesia), dan tidak ditemukan praktik di rumah sakit yang dimaksud. Informasi ini juga sudah dibantah oleh satgas penanganan COVID-19 yang menyatakan memakai masker tidak akan menyebabkan hipoksia. Namun sayangnya, informasi yang benar ini masih kalah persebarannya dibandingkan hoaks yang sudah beredar.

Kedua, orang cenderung tidak memercayai apa yang tidak dilihat dengan mata kepala sendiri. Hal ini berkaitan dengan rasio jumlah penduduk yang terkena.

Sebagai contoh, kasus di Jawa Timur adalah tertinggi kedua se-Indonesia. Namun, luas Jawa Timur lebih besar dari Jakarta dan penduduknya juga lebih banyak. Jika dibandingkan dengan seluruh penduduk Jawa Timur, maka 0,08% penduduk Jawa Timur positif terinfeksi COVID-19, atau 8 orang per 10.000 populasi, sehingga kasusnya tampak lebih sedikit dibandingkan dengan populasinya.

Karena orang terdekat atau di lingkungannya tidak yang terkena, hal ini membuat mereka meyakini bahwa COVID-19 tidak nyata.

Ketiga, pengaruh influencer atau pesohor. Melalui unggahan di media sosial, banyak influencer tanah air yang membuat narasi bahwa COVID-19 adalah konspirasi. Narasi tersebut dibuat meyakinkan dengan mengundang pakar yang ternyata adalah palsu.

Semakin menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, membuat sebagian orang lebih percaya pada influencer atau orang sekitar seperti teman dan saudara.

Keempat, banyaknya kasus OTG (orang tanpa gejala) dan angka kesembuhan yang semakin tinggi. Hal ini membuat banyak orang berpikir bahwa COVID-19 tidaklah semenakutkan yang diberitakan di media.

 

Baca juga: Ini Ciri-ciri Gejala COVID-19 Terbaru dari CDC

 

Kelima, ada kebutuhan yang lebih mendesak. Pandemi membuat banyak orang kehilangan pekerjaan maupun penghasilan. Di luar sana, ada banyak masyarakat kurang mampu, dalam artian untuk memenuhi kebutuhan makan saja masih sulit. Dalam posisi ini, jika kebutuhan pokok saja belum terpenuhi, maka seseorang akan cenderung abai terhadap kondisi lain, termasuk pandemi yang mungkin menghalangi mereka dalam mencari nafkah.

Apa yang Harus dilakukan jika Orang Sekitar Tidak Peduli dengan Pandemi?

Di saat kamu masih konsisten menerapkan protokol kesehatan, namun orang sekitarmu melakukan sebaliknya, kamu mungkin akan merasa kesal dan frustrasi. Pada titik jenuh ini, apa yang harus dilakukan jika orang sekitar tidak peduli lagi dengan pandemi?

  • Tidak perlu memaksakan
    Berdebat di media sosial soal mengenai Corona atau penggunaan masker akan menguras energimu. Tapi yang pasti, kita tidak bisa memaksakan keyakinan kita pada orang lain. Jika setelah 2-3 kali anjuran tetap tidak mereka lakukan, sudahi saja perdebatan.
    Mereka yang antipati terhadap pandemi, biasanya memiliki segudang alasan untuk melawan argumenmu, meski kamu sudah memberi pemahaman se-ilmiah mungkin.
  • Tetap menerapkan protokol kesehatan
    Meski orang di sekitarmu mulai tidak peduli, jangan kasih kendor! Tetaplah gunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, langsung mandi setelah bepergian, dan membawa hand sanitizer kemanapun kamu pergi.
  • Tidak ikut menyebarkan hoax
    Seperti sudah dibahas sebelumnya, banyak hoaks yang dikemas semeyakinkan mungkin. Tujuannya tentu agar orang mudah percaya lalu menekan tombol share.
    Sebelum membagikannya pada orang lain, cek kebenaran informasi tersebut. Sebarkan lebih banyak berita positif daripada provokatif.
  • Tetap mendukung tenaga medis yang berjuang di garda terdepan
    Per tanggal 10 November 2020, sebanyak 282 tenaga medis gugur dalam menjalankan tugasnya. Mereka yang masih berjuang pun, ada yang harus meninggalkan rumah, sulit bertemu keluarga, dan kurang istirahat.
    Hargai perjuangan mereka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Jika memiliki rezeki berlebih, tidak ada salahnya menyumbang APD atau mengirimkan makanan untuk menyemangati mereka.
  • Tetap jalin silaturahmi, meski berbeda pandangan
    Berselisih di media sosial atau di grup WhatsApp keluarga mungkin tidak terhindarkan. Meski berbeda pandangan, jangan sampai silaturahmi putus ya. Namun jika ada pertemuan yang melibatkan banyak anggota keluarga, sebaiknya tidak usah ikut dulu untuk menghindari kerumunan.

 

Baca juga: Serba-Serbi Vaksin COVID-19 Siap Edar, Bagaimana Perkembangannya?

 

Pro dan kontra wajar terjadi. Bahkan di negara maju seperti Amerika sekalipun, teori konspirasi mengenai COVID memiliki banyak penggemar. Meski lingkungan tidak mendukung, tetaplah patuhi protokol kesehatan, jaga kesehatan, dan tetap berpikir jernih. Pandemi masih ada dan kita tidak boleh lengah.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan