Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Belajar dari Tsunami COVID-19 di India, Kita Sebaiknya Jangan Lengah

07 Juni 2021 | Allianz Indonesia
Apa yang dapat kita pelajari dari Tsunami Covid-19 di India? Apa yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya?

Pada Hari Raya Idul Fitri 2021, pemerintah kembali mengeluarkan himbauan larangan mudik. Bagi yang melanggar, pemerintah tak segan-segan menjatuhkan denda hingga Rp100 juta. Sebetulnya, alasan pemerintah melarang mudik masuk akal, karena pandemi COVID-19 masih ada. Gelombang tsunami COVID-19 pun baru-baru ini terjadi di India.

Selain itu, penyebaran virus ini di seluruh dunia pun masih tinggi, meski program vaksinasi di beberapa negara sudah dimulai. World Health Organization (WHO) pada April 2021 lalu seperti dikutip CNN Indonesia memperingatkan bahwa jumlah infeksi dan kematian akibat virus corona dalam empat pekan terakhir justru meningkat. Per 28 April 2021, data Worldometer menunjukkan total kasus infeksi virus corona di seluruh dunia mencapai 149 juta, sebanyak 3,15 juta di antaranya meninggal dunia, atau artinya mencapai case fatality rate (CFR) 2,1%.

Kalau kita menilik ke India, total jumlah kasus per tanggal yang sama mencapai 17,9 juta atau kedua tertinggi setelah Amerika Serikat, dengan jumlah kematian mencapai 201.187 orang atau CFR 1,1%.

Bagaimana dengan Indonesia? Total kasus COVID-19 di Indonesia per 28 April 2021 mencapai 1,6 juta, dengan kematian 45.116 orang atau CFR 2,7%, atau lebih tinggi dari CFR global. Artinya, tingkat penularan COVID-19 di Indonesia masih tinggi dan kita tetap perlu waspada. Jangan lengah.

Mengapa bisa terjadi tsunami COVID-19 di India?

Jumlah kasus infeksi COVID-19 di India sebetulnya sempat terkendali. Pada bulan Februari 2021 saja, data JHU CSSE menunjukkan jumlah kasus harian di India terkendali di sekitar 8.635-15.510 kasus. Pada Maret 2021, India memasuki gelombang kedua penularan COVID-19, ditandai dengan jumlah kasus harian terus menanjak dari 12.286 kasus di awal Maret ke 72.339 kasus di akhir Maret.

Terhitung sejak 6 April 2021, India terus mencetak rekor harian, hingga tembus 250.000 kasus sejak 21 April 2021. Per 27 April 2021, kasus baru di India mencapai 360.927 kasus.

Alhasil, beberapa fakta memilukan terjadi, yaitu rumah sakit penuh, kekurangan tenaga medis seperti dokter dan perawat, serta kelangkaan alat-alat kesehatan seperti oksigen, tempat tidur, bahkan obat-obatan.

Laporan Reuters mensinyalir bahwa total jumlah kematian yang sesungguhnya di India lebih tinggi daripada yang tercatat. Indikasi ini dilihat dari krematorium yang penuh dan jumlah jenazah yang dibakar dengan prosedur COVID-19 jauh di atas angka kematian COVID-19 yang dilaporkan.

Dikutip dari CNN, kemungkinan besar lonjakan kasus baru COVID-19 yang terjadi di India ini terjadi karena sebuah festival keagamaan Kumbh Mela yang berlangsung selama beberapa hari. Saat festival berlangsung, sekitar 5 juta pengunjung memadati Sungai Gangga tanpa memperhatikan protokol kesehatan.

Selain itu, The Guardian menyebut adanya varian baru yang 20% lebih cepat menular yang memperparah gelombang tsunami ini. Varian virus corona baru yang bernama B1617 disebut cukup ganas, karena merupakan mutasi dari dua varian, yaitu L452R dan E484Q.

 

Baca juga: Mutasi Virus COVID-19: Informasi Penting yang Harus Kamu Ketahui!

 

Apa yang bisa dilakukan di tengah penularan COVID-19 yang masih tinggi?

Di tengah mimpi buruk ini, sebanyak 135 warga India dilaporkan berhasil masuk ke Indonesia dengan menggunakan pesawat carter. Belum lagi ancaman masuknya virus corona ke Indonesia dari negara lain yang mencatat peningkatan kematian seperti Iran dan lonjakan kasus di beberapa negara Eropa. Sehingga, tak ada pilihan lain bagi kita untuk melakukan beberapa langkah antisipasi agar diri sendiri dan keluarga tersayang tetap aman dan terhindar dari virus corona.

1. Jangan lengah

Pada Februari 2021, jumlah kasus baru di India relatif rendah, di bawah 10.000 kasus, sangat sedikit dibandingkan dengan populasi India yang mencapai 1,3 miliar orang. Ini yang menyebabkan menteri kesehatan India pada awal Maret 2021 menyebutkan bahwa India sudah di penghujung pandemi COVID-19. Pernyataan ini membuat warga setempat merasa pandemi sudah tidak ada di India dan mereka bisa hidup normal tanpa mengindahkan protokol kesehatan.

Dari sini kita bisa mengambil hikmah bahwa meskipun kurva COVID-19 tampak melandai, bukan berarti angka infeksi tidak bisa kembali meningkat. Jadi, satu-satunya langkah antisipasi ialah jangan lengah. Batasi kegiatan tatap muka dengan orang lain dan lakukan protokol kesehatan ketika harus ke luar rumah.

2. Ikuti program vaksin jika sudah mendapat jadwal

Vaksin adalah salah satu langkah membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Itu sebabnya, sejak Januari 2021 pemerintah telah memulai program vaksinasi untuk warga sesuai dengan prioritas. Selain tenaga kesehatan dan lanjut usia, beberapa profesi juga sudah mendapat prioritas untuk memperoleh vaksin saat ini. Beberapa profesi itu antara lain sopir taksi dan ojek, guru dan dosen, karyawan BUMN, pedagang di pasar, jurnalis, dan pekerja parisiwata.

Jika profesi kamu termasuk profesi prioritas, ayo proaktif mendaftarkan diri dan segera ikuti program vaksin. Dengan divaksin, kamu tak hanya melindungi diri, tapi juga melindungi orang lain yang belum divaksin atau tidak bisa divaksin.

 

Baca juga: Simak Roadmap Program Vaksinasi COVID-19 di Indonesia

 

3. Tetap harus melakukan protokol kesehatan meski sudah divaksin

India termasuk salah satu negara yang sudah menyuntikkan 120 juta dosis vaksin, atau termasuk salah satu terbanyak di dunia. Sehingga, kebanyakan warga percaya bahwa mereka sudah mencapai herd immunity.

Ini disebabkan karena banyak warga tidak menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. BBC melaporkan, awal gelombang kedua yang berlangsung Maret 2021 disebabkan oleh pemilu di lima negara bagian. Kampanye pemilu itu berlangsung tanpa melakukan protokol dan jaga jarak. Kemudian, pada pertengahan bulan yang sama, ada dua pertandingan kriket yang memperbolehkan lebih dari 130.000 orang menonton langsung pertandingan tersebut di Gujarat, kebanyakan tanpa masker.

Fakta di atas menunjukkan bahwa divaksin saja tidak cukup menghindarkan seseorang dari terinfeksi virus corona. Ibarat vaksin adalah seat belt di mobil, pengendara tetap harus hati-hati dalam mengendarai mobil. Jadi, meski sudah divaksin, kita tetap harus melakukan protokol kesehatan dengan 5M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

4. Tahan mudik

Tsunami COVID-19 di India disebabkan oleh adanya festival yang mendorong banyak orang berkumpul di suatu tempat, tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Merujuk fakta tersebut, saran pemerintah untuk melarang mudik sudah tepat. Tahan dulu rasa rindu dengan sanak saudara, karena kesehatan kamu dan keluarga lebih penting. Toh, kamu tetap bisa berbagi kebersamaan dengan kerabat lewat video call atau video conference.

5. Tingkatkan imunitas tubuh

Hidup di tengah pandemi bukan berarti kita harus pesimistis. Tetap ada berbagai kegiatan positif untuk terus berkarya. Agar tetap produktif, jangan lupa menjaga kesehatan dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi, rutin berolahraga, istirahat cukup, dan hindari stres dengan melakukan kegiatan hobi. Jika kamu punya hobi baru yang muncul di masa pandemi ini dan ternyata asyik ditekuni, teruslah tekuni hobi tersebut.

 

Baca juga: Serba-serbi Vaksinasi Saat Berpuasa, Boleh atau Tidak, ya?

 

Di masa yang sulit ini, jangan lupa lindungi diri dengan asuransi kesehatan yang memberikan penggantian biaya pengobatan jika kamu dan keluarga menghadapi risiko sakit, sehingga kamu bisa tetap tenang bekerja dan berkegiatan tanpa stres memikirkan risiko kehidupan yang dapat terjadi.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan