Warning: You are using an outdated Browser, Please switch to a more modern browser such as Chrome, Firefox or Microsoft Edge.

Bank Indonesia Bakal Terbitkan Digital Rupiah

13 Juli 2021 | Allianz Indonesia
Bank Indonesia akan menerbitkan digital rupiah. Seperti apa fakta-faktanya?

Bank Indonesia (BI) bakal menerbitkan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau mata uang digital. Mata uang digital yang akan diberi nama Digital Rupiah ini bakal dirilis Bank Indonesia dengan fungsi yang sama seperti uang kertas dan koin yang biasanya menjadi alat tukar konvensional.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan Digital Rupiah akan dirilis bila nantinya dibutuhkan. Bank Indonesia akan melihat kondisi ekonomi lebih dulu.

"Sehingga akan melihat kondisi ekonomi dan konteks digitalisasi yang sedang didorong oleh Bank Indonesia," tulis BI dalam akun Instagram resmi @bank_indonesia, Minggu (30/5).

Upaya Bank Indonesia mendigitalkan uang kertas dan koin ini menyusul sejumlah negara yang sudah lebih dulu menerbitkan uang jenis ini sebelumnya,seperti China. Bank Rakyat China (PBOC) sudah sejak tahun 2014 menggodok rencana penerbitan uang digital Yuan digital. Bahkan, PBOC telah memberikan Yuan digital senilai jutaan dolar dalam uji coba ke beberapa kota, termasuk Shezhen, Chengdu, dan Suzho.

Masyarakat China memang dikenal sudah terbiasa dengan rutinitas pembayaran non-tunai. Industri pembayaran digital China sebelumnya didominasi Alipay, yang dijalankan Alibaba Group dan WeChat Pay, yang dijalankan oleh raksasa internet Tencent. Di saat yang sama, penggunaan uang tunai semakin berkurang. Terlebih biaya produksi dan penyimpanan uang konvensional membutuhkan biaya yang tinggi.

Indonesia tidak mau ketinggalan. Tahun ini, Bank Indonesia mengumumkan akan merilis uang serupa. Ada beberapa pertimbangan di balik upaya BI ini. Pertama, sebagai alat instrumen pembayaran yang sah di NKRI.

Kedua, mendukung pelaksanaan kebijakan moneter, makroprudensial,dan sistem pembayaran termasuk persiapan dari infrastruktur pasar keuangan, valuta asing, dan sektor keuangan. Ketiga, BI ingin menghadirkan pilihan instrumen pembayaran berbasis teknologi.

Saat ini, BI telah melakukan kajian atau asesmen CBDC rupiah untuk melihat potensi dan manfaat mata uang digital tersebut, meliputi desain, teknologi, beserta mitigasi risikonya.

 

Baca Juga: Memahami Apa itu Cryptocurrency Beserta Kelebihan dan Kekurangannya

 

BI juga berkoordinasi dengan bank sentral lain lewat forum internasional untuk mendalami penerbitan mata uang digital atau CBDC rupiah.

Perlu diketahui bahwa Digital Rupiah ini berbeda dengan uang elektronik yang sekarang sudah beredar. Digital Rupiah bakal dikendalikan dan sekaligus didistribusi oleh Bank Indonesia, sesuai amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang dijabarkan lewat UU Mata Uang dan UU Bank Indonesia.

Dengan begitu, Bank Indonesia nantinya memiliki tanggung jawab atas pemegang uang digital. Berbeda dengan uang elektronik yang diterbitkan dan didistribusi penerbit uang elektronik atau swasta.

Perry Warjiyo mengatakan, digital rupiah akan didistribusi ke masyarakat melalui bank-bank dan fintech, baik secara wholesale atau ritel. Pasokannya bisa ditambahkan atau dikurangi oleh bank sentral untuk mencapai tujuan ekonomi.

“Dalam konteks ini, BI merencanakan ke depan akan menerbitkan CBDC rupiah sebagai alat pembayaran yang sah,” ucap Perry, Selasa (25/5/2021) dalam Rapat Dewan Gubernur BI secara daring.

Keamanan Terjamin
Dengan sistem serba digital, tentu ada risiko sistem rentan terhadap serangan siber atau peretasan. Namun, Bank Indonesia memastikan bahwa Digital Rupiah tidak akan beredar ke tengah masyarakat sebelum BI memastikan dengan matang teknologi yang akan digunakan.

Salah satu upaya membentengi keamanan sistem adalah dengan mempelajari teknologi atau platform yang digunakan negara lain. BI juga akan membentengi CBDC Digital Rupiah dengan firewall. Hal itu perlu dilakukan untuk menghindari serangan siber, baik yang bersifat preventif maupun resolution.

CBDC digital rupiah akan disiapkan secara end-to-end baik secara perancangannya hingga peredarannya seperti yang dilakukan BI pada uang kertas dan kartu, baik debit maupun kartu kredit. Bank Indonesia juga akan menyiapkan betul desain dan sistem keamanan sebelum akhirnya Digital Rupiah beredar.

Selain China, ada Swedia yang mengembangkan CBDC bernama e-krona (krona digital) sejak musim semi 2017. Sementara Jepang berencana memulai uji kelayakan CBDC pada akhir 2021. Rusia sedang menggarap Rubel Digital sejak Oktober 2020, yang kini sedang dalam tahap pengembangan desain.

Ada pula Inggris yang sudah merilis peta jalan (roadmap) yang mengarah pada pengembangan Pound Sterling Digital. Disusul Amerika Serikat, Venezuela, dan Indonesia.

Jika digital rupiah terbit, maka mata uang ini akan menjadi representasi uang digital yang menjadi simbol kedaulatan negara atau sovereign currency yang diterbitkan bank sentral dan menjadi bagian dari kewajiban moneternya.

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan