Serba-Serbi Vaksin COVID-19 Siap Edar, Bagaimana Perkembangannya?

by Allianz Indonesia | terakhir dibaca 18 April 2021 14:46:04 UNDUH BACA NANTI

Kapan COVID-19 akan berakhir? Saat ini pertanyaan ini mungkin terlintas hampir di benak semua orang. Berbagai prediksi mengenai akhir dari COVID-19, nyatanya tidak akurat. Salah satu upaya yang tengah dilakukan seluruh dunia untuk mengakhiri pandemi adalah dengan memproduksi vaksin COVID-19.

Vaksin adalah zat yang berfungsi membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Vaksin mengandung kuman atau virus penyebab penyakit, namun dalam versi yang sudah dimatikan atau dilemahkan. Di dalam tubuh, vaksin kemudian menstimulasi sistem imun untuk menghasilkan antibodi. Ketika terpapar penyakit, tubuh sudah memiliki mekanisme perlawanan sehingga tidak jatuh sakit.

Syarat yang Harus dipenuhi Sebelum Vaksin diproduksi

Vaksin harus memenuhi syarat dan melalui berbagai prosedur sebelum diproduksi massal. Berikut tahapannya:

1. Tahap eksplorasi

Pada tahap ini peneliti mengidentifikasi unsur dalam virus yang bisa digunakan untuk melawan penyakit.

2. Pra-klinis

Peneliti melakukan uji coba pada hewan untuk mengetahui respons yang timbul maupun efek sampingnya. Tahap ini memberikan gagasan awal mengenai respons yang mungkin terjadi pada manusia.

3. Uji klinis

Uji klinis adalah tahap pengujian vaksin pada manusia. Umumnya uji klinis melalui tiga fase.

Pada fase 1, vaksin akan diujicobakan pada sekolompok kecil orang. Pada fase II, vaksin diberikan pada orang dengan karakteristik tertentu, misalnya berusia di atas 20 tahun. Sedangkan fase III, vaksin diujicobakan pada ribuan orang untuk mengetahui efektivitas dan keamanannya.

Vaksin dikatakan efektif jika bisa memberikan perlindungan minimal 70 persen.

 

Baca juga: Ini Ciri-ciri Gejala COVID-19 Terbaru dari CDC

 

4. Persetujuan

Regulator akan meninjau hasil uji coba dan jika terbukti aman dan efektif, baru memberikan izin edar. Di Indonesia, izin ini dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sedangkan untuk sertifikasi halal, dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

5. Produksi

Vaksin harus melalui quality kontrol yang ketat baik dalam produksi maupun distribusi. Setelah diproduksi pun, mungkin tidak semua orang bisa langsung mendapatkan vaksin. Beberapa golongan akan diprioritaskan seperti tenaga kesehatan atau orang berisiko tinggi.

Perkembangan Vaksin COVID-19 di Indonesia

Hingga akhir September 2020, setidaknya ada dua vaksin COVID-19 yang tengah dikembangkan di Indonesia, yaitu:

• Vaksin Sinovac

Sinovac adalah vaksin asal Tiongkok hasil kerja sama dengan PT Biofarma. Vaksin Sinovac telah melalui uji klinis fase III dengan melibatkan 1.620 relawan.

Setelah melewati rangkaian pemeriksaan kesehatan termasuk tes swab, relawan yang dinyatakan sehat dan bebas COVID-19 akan disuntik vaksin pertama (hari 0). Jeda 4 hari, relawan akan mendapatkan vaksin dosis kedua.

Jika uji klinik tahap III berhasil, pada awal 2021 vaksin Sinovac diharapkan dapat diproduksi secara massal. Untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity), vaksin COVID-19 harus diberikan pada minimal 70 persen warga negara Indonesia.

Sejauh ini, vaksin Sinovac tidak memperlihatkan efek samping. Uji coba yang dilakukan pada kelompok lanjut usia pun menunjukkan hasil positif, yaitu terbentuknya kekebalan tubuh.

 

Baca juga: Klaster Perkantoran COVID-19 Bermunculan, Bagaimana Tips dari Para Ahli untuk Menghindari Penyebarannya?

 

• Vaksin Merah Putih

Selain Sinovac, pemerintah juga tengah mengembangkan vaksin buatan anak negeri yang diberi nama vaksin merah putih. Vaksin ini merupakan hasil kerja sama sejumlah lembaga seperti Lembaga Biologi Molukuler Eijkman, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), BPOM, Kementerian Riset dan Teknologi, serta sejumlah universitas.

Sejauh ini, vaksin merah putih baru pada tahap eksplorasi, yaitu formulasi bibit vaksin. Diharapkan, vaksin ini dapat rampung pada akhir 2021.

Di samping vaksin yang sudah disebutkan di atas, Indonesia juga bekerja sama dengan Uni Emirat Arab (UAE) dalam mengembangkan vaksin Sinopharm. Saat ini vaksin Sinopharm telah melalui uji klinis tahap III di Abu Dhabi.

Terdapat berbagai skenario mengenai harga vaksin. Menurut Ketua Pelaksana Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Erick Thohir mengatakan, skema pertama adalah pemberian vaksin secara gratis bagi peserta BPJS. Sedangkan skenario kedua adalah mengenakan biaya bagi masyarakat dengan kategori mampu. Adapun harga vaksin diperkirakan adalah sekitar Rp 400 ribu untuk dua kali vaksin.

 

Baca juga: Cari Tahu Level-level Tempat Aktivitas Berisiko Penyebaran COVID-19

 

Tentunya kita berharap bahwa keberadaan vaksin nantinya akan mengakhiri pandemi. Namun vaksin bukan satu-satunya senjata untuk mengakhiri pandemi. Perilaku hidup sehat seperti mencuci tangan, memakai masker, makan makanan bergizi, dan beristirahat cukup, dapat turut serta menekan penyebaran, sampai akhirnya herd immunity tercipta.

Tentang penulis

Allianz Indonesia






Allianz Indonesia - Beranikan Diri

SmartLink New Flexi Account

Jaminan perlindungan jiwa seumur hidup, pasti dan maksimal. 

Selengkapnya

Explore Terkait

13 September 2019 13:44:18

Ingin Beli Asuransi Kesehatan, Kenali Beberapa Metode Pembayaran pada Asuransi Kesehatan

Memiliki asuransi kesehatan akan membuat pikiran kamu tenang jika suatu saat jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Sebab, dengan memiliki asuransi kesehatan, maka perusahaan asuransi akan menanggung biaya pengobatan kamu selama di rumah sakit. Jadi, kamu tidak perlu khawatir uangmu akan terkuras atau tidak dapat memperoleh perawatan yang baik jika risiko sakit datang.

 

04 Juni 2018 15:13:59

Untuk Kamu yang Pakai Asuransi Kantor, Ini 3 Cara Untuk Ajukan Klaim

29 September 2020 16:49:21

Inilah Dampak Buruk Merokok bagi Kesehatan