Jenis Persalinan, Risiko, dan Penyebab Pilihan Proses Persalinan Menjadi Pertimbangan

12 Agustus 2022 | Allianz Indonesia
Metode proses persalinan yang menjadi pertimbangan dan pilihan untuk kenyamanan, kesehatan, keselamatan ibu dan bayi. 

Persalinan merupakan proses yang menegangkan dan tak terlupakan bagi seorang wanita. Bisa dibilang, pertaruhan nyawa seorang ibu terjadi pada proses ini. Berbagai kondisi kehamilan menjadi dasar pertimbangan dalam memilih jenis persalinan. Lantas, apa saja metode persalinan yang bisa dijadikan pertimbangan ibu hamil? 

Metode persalinan yang bisa menjadi pertimbangan Anda antara lain 

1. Persalinan normal 

Persalinan normal adalah metode melahirkan bayi melalui vagina dengan cara mengejan (ngeden). Setelah kontraksi, otot-otot di sekitar vagina biasanya akan meregang dan melebar sehingga bisa dilewati bayi.

Banyak ibu yang mendambakan jenis persalinan ini karena termasuk persalinan alami dengan biaya yang lebih murah dan proses yang tidak rumit. Ditambah lagi, pemulihan proses melahirkan normal dianggap jauh lebih cepat dibandingkan operasi.

Proses melahirkan secara normal umumnya berlangsung kurang dari 24 jam. Meski begitu, Ibu harus melakukan segala persiapannya sejak dini. 

Faktor yang Sebabkan Tak Bisa Melahirkan Secara Normal 

Sebenarnya banyak faktor yang bisa menyebabkan seorang ibu tak bisa melahirkan secara normal. Berikut kondisi yang sering terjadi sehingga harus dilakukan prosedur caesar.:

1. Ibu yang memiliki panggul sempit. 

2. Kehamilan usia di atas 40 tahun. Ini karena risikonya bisa mengalami kontraksi rahim yang lemah, ketuban pecah dini, ketuban kering. 

3. Lalu, ibu hamil yang memiliki riwayat diabetes dan hipertensi tidak diperbolehkan melahirkan secara normal pula.

4. Begitu juga pada ibu yang memiliki penyakit menular seksual dan dengan kondisi mata minus tinggi serta riwayat penyakit tertentu 

5. Ibu tak bisa melahirkan normal jika berat badan bayi lebih dari 4 kg, memiliki letak ari-ari rendah, kelainan posisi janin dan memiliki kondisi gawat janin

Lantas, dalam kondisi apa seorang ibu bisa melahirkan secara normal? 

Menurut dr. Theresia, jika ibu dan bayi tidak memiliki indikasi di atas, ibu hamil bisa dan boleh melakukan persalinan normal. Namun, tentunya tetap harus memenuhi syarat utama melahirkan secara normal. Berikut ini beberapa persyaratannya yang perlu Anda ketahui. 

1. Lebar Jalan Lahir

Ibu harus memiliki jalan lahir yang bisa dilewati oleh janin. Ini terdiri dari rongga panggul, dasar panggul, serviks dan juga vagina. Prosedur caesar dilakukan jika jalan lahir memiliki hambatan dan terlalu  sempit. Misalnya ketika Anda memiliki panggul yang sempit, panggul miring, atau terdapat tumor pada panggul. 

2. Tenaga yang Kuat

Melahirkan adalah kegiatan yang bisa menguras tenaga. Karena itulah, ibu yang akan melahirkan harus mempunyai tenaga. Kekuatan atau  tenaga untuk melahirkan terdiri dari his atau kontraksi uterus dan tenaga mengerang dari ibu. Tenaga ini berasal dari otot perut dan diafragma.

Jika tidak ada tenaga dari ibu, maka persalinan harus dilakukan secara operasi. Bila di tengah jalan ibu tidak lagi memiliki tenaga untuk mendorong bayi keluar, tindakan operasi pun harus segera dilakukan. 

3. Posisi Bayi dalam Kandungan 

Dalam persalinan normal, hampir seluruh kasus bayi lahir dengan posisi kepala terlebih dahulu. Namun, ada kelainan-kelainan yang sering menghambat bayi untuk lahir. Misalnya kelainan ukuran dan bentuk kepala bayi, posisi wajah, letak dahi, kelainan kedudukan anak seperti kedudukan lintang ataupun letak sungsang. 

Trik Agar Persalinan Berjalan Lancar 

Proses Melahirkan Secara Normal

Apabila Anda telah memenuhi tiga syarat utama di atas, maka bisa melakukan persalinan normal dengan lancar. Nah, agar persalinan tetap berjalan normal tanpa adanya hambatan, ibu bisa melakukan beberapa cara di bawah ini:

  • Lakukan senam hamil untuk membantu ibu mempersiapkan diri menjelang persalinan. Senam hamil bisa membantu mengatur pernapasan yang dibutuhkan saat persalinan. Selain itu, melakukan senam juga akan membantu tenaga ibu sehingga lebih kuat ketika mengejan. 

  • Ibu hamil diminta untuk tetap aktif bergerak, namun tetap memperhatikan kondisi badannya. Memasuki trimester ketiga, perut ibu hamil memang semakin membesar dan berat, tapi ibu hamil tetap harus bergerak secara aktif dan tidak boleh bermalas-malasan. 

Anda dapat aktif berjalan, berdiri, atau duduk tegak. Dengan begitu, gravitasi bumi akan menarik kepala janin yang sudah berada di jalan lahir sehingga makin mendekati mulut rahim. 

  • Bayi dengan posisi sungsang tidak dapat dilahirkan secara normal. Ibu dapat membantu mengubah posisi janin dengan cara menungging seperti waktu sujud, atau disebut juga knee-chest position (lutut menempel pada dada). 

Dengan cara ini, diharapkan bokong janin akan lepas atau menjauhi pintu panggul atas sehingga janin dapat berputar dengan mudah.

Itulah beberapa kondisi yang memperbolehkan Anda melakukan persalinan normal. Jika ibu mendapati beberapa indikasi kelahiran operasi caesar, sebaiknya ikuti kata dokter. Jangan memaksa demi bisa melahirkan secara normal. Bukan hanya mengancam nyawa ibu, tetapi juga si bayi. 

2. Persalinan yang dibantu alat 

Jika proses melahirkan normal tidak dapat dilakukan karena kondisi tertentu, dokter mungkin akan menggunakan alat bantu seperti vakum atau forsep. 

Persalinan dengan dibantu alat vakum, disebut ekstraksi vakum, dilakukan dengan menggunakan cup pengisap untuk menarik bayi keluar secara lembut. Vakum akan dilakukan saat mulut rahim telah terbuka penuh dan kepala bayi berada di bagian bawah panggul. Cup tersebut menarik bayi keluar dengan bantuan tenaga listrik atau pompa di atas kepala bayi.

Persiapan melahirkan bukanlah proses yang sederhana. Baik melahirkan secara normal lewat vagina maupun dengan operasi caesar, keduanya sama-sama butuh persiapan. Dalam beberapa kasus, bahkan persalinan membutuhkan alat bantu khusus. Salah satunya adalah alat bantu vakum untuk “menyedot” bayi keluar dari rahim ibu. Penggunaan vakum dalam persalinan harus memenuhi sejumlah kriteria karena ada risiko yang menyertai.

Melahirkan dengan bantuan vakum akan dilakukan jika terjadi indikasi yang dapat membahayakan kesehatan Ibu, bayi, atau keduanya. Misalnya, ketika proses persalinan berjalan terlalu lambat dan ibu sudah terlalu lelah untuk mengejan. Meski begitu, metode ini berisiko menyebabkan efek samping berupa luka dan perdarahan di vagina, serta luka atau lecet di kepala bayi. 

Mengenal Persalinan dengan Alat Bantu Vakum 

Persalinan yang menggunakan alat bantu vakum biasanya berupa persalinan normal. Dokter bisa memutuskan memanfaatkan vakum ketika bayi tak kunjung dapat keluar meski ibu sudah berusaha mengejan sekuat tenaga. Dalam dunia medis, alat bantu ini disebut vacuum extractor. Selama kontraksi, vakum digunakan untuk menyedot kepala bayi supaya bisa keluar dari saluran rahim.

Persiapan melahirkan dengan vacuum extractor membutuhkan keahlian dan kemampuan dokter serta tenaga medis yang membantu persalinan. Alat ini berpotensi membahayakan bayi bila yang menggunakannya belum ahli dan berpengalaman. Pada 1998, Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat menerbitkan petunjuk kesehatan publik yang memperingatkan para tenaga medis dan pihak terkait bahwa ada risiko serius atau komplikasi fatal pada janin dari penggunaan alat bantu vakum.

Risiko itu antara lain cedera kepala dan perdarahan di dalam kepala janin. Karena potensi berbahaya ini, FDA merekomendasikan alat bantu vakum digunakan hanya jika ada indikasi obstetrik yang spesifik dan tenaga medis yang memakai alat tersebut paham akan indikasi, kontraindikasi, dan tindakan pencegahan yang diperlukan.

Siapa yang Memerlukan Persalinan dengan Alat Bantu Vakum 

Ibu yang melahirkan secara normal bisa jadi mengalami beberapa hal yang menyulitkan bayi keluar. Dalam situasi ini, dokter akan mengevaluasi kondisi ibu dan janin. Dari evaluasi, dokter mungkin memutuskan persalinan tersebut memerlukan bantuan vakum pada kondisi pembukaan lengkap.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) memiliki panduan indikasi bagi dokter yang hendak membantu persalinan dengan vakum, yaitu:

  • Tidak ada progres dalam persalinan 3 jam setelah pembiusan epidural atau sesudah 2 jam bila tanpa pembiusan
  • Janin mengalami stres, antara lain detak jantung tidak normal
  • Bagi ibu dengan masalah kesehatan yang membuatnya sulit mengejan atau tak lagi punya cukup tenaga karena kelelahan mengejan, vakum bisa dipakai untuk mempersingkat persalinan

Sementara itu, persalinan yang dibantu forceps umumnya lebih berisiko dan lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan bantuan vakum. Forceps merupakan alat bantu menyerupai sendok yang terbuat dari logam. 

Apa itu Forceps 

Forceps adalah alat bantu melahirkan yang berwujud seperti capit dengan dua sendok bolong yang besar. Penemunya adalah Peter Chamberlen, orang Prancis yang bermigrasi ke Inggris. Alat ini disebut-sebut pertama kali digunakan pada tahun 1600-an. Penggunaan forceps umumnya dilakukan dalam persalinan normal. Dokter memakai forceps untuk memegangi kepala bayi dan mengeluarkannya secara perlahan dari saluran rahim.

Persalinan forceps jarang dipraktikkan. Dokter biasanya memilih memakai metode vakum atau langsung operasi caesar ketika terjadi komplikasi dalam persalinan. Terdapat tiga jenis tindakan forceps, yaitu: 

  • Rendah: forceps dipasang setelah kepala janin sampai di dasar perineum 
  • Tengah: pemasangan forceps sebelum tahap forceps rendah, sesudah kepala masuk panggul 
  • Tinggi: tindakan forceps saat kepala janin belum sampai di pintu atas panggul, sudah sangat jarang dilakukan 

Kondisi Seseorang yang Membutuhkan Bantuan Forceps

Ibu tak lazim membuat persiapan melahirkan dengan bantuan forceps. Tapi mungkin ibu memerlukan forceps untuk membantu mengeluarkan bayi dari rahimnya. Kondisi ibu yang mungkin membutuhkan bantuan forceps antara lain: 

  • Sudah kelelahan dan tak sanggup mengejan lagi 
  • Punya masalah kesehatan yang membuat ibu berisiko untuk mengejan 
  • Ada indikasi bayi mengalami stres dan perlu keluar lebih cepat 

Sebelum membantu persiapan melahirkan dengan forceps, dokter akan mengamati posisi bayi. Untuk mengurangi risiko, dokter mesti memastikan kepala dan wajah bayi sudah dalam posisi yang tepat. Dokter akan memeriksanya dengan teliti dan memastikan keamanan persalinan dengan bantuan forceps.

Mengapa Memerlukan Bantuan Forceps

Setiap ibu umumnya melakukan persiapan melahirkan secara normal, tanpa bantuan. Tapi kadang terjadi hal yang membuat persalinan normal tidak memungkinkan, terutama demi alasan keamanan. Salah satu alasan utama ibu memerlukan bantuan forceps adalah proses persalinan terhambat. Bayi tak kunjung keluar meski ibu terus mengejan.

Alasan lain memerlukan bantuan forceps adalah bayi menghadap ke arah yang salah ketika keluar dari jalan lahir. Bila wajah terangkat, misalnya, dokter bisa menggunakan forceps untuk membalikkan tubuh bayi.

Dokter juga bisa memutuskan memakai forceps bila ada tanda masalah pada bayi yang hendak keluar. Misalnya perubahan detak jantung. Demikian pula bila dokter melihat ada risiko keselamatan ibu dalam proses persalinan normal.

Melahirkan dengan bantuan forceps diutamakan ketika Ibu mengalami hipertensi atau penyakit jantung. Proses melahirkan yang dibantu forceps dapat dilakukan tanpa Ibu harus mengejan.

Beberapa kemungkinan efek samping persalinan dengan forceps yang terjadi pada bayi adalah cedera pada kepala, terutama di tulang wajah dan tengkorak. Setelahnya, bayi harus diawasi dengan ketat selama beberapa hari untuk mendapatkan perawatan optimal. 

3. Persalinan caesar 

Melahirkan lewat operasi caesar umumnya dilakukan ketika persalinan normal dikatakan tidak mungkin dilakukan. Operasi caesar dapat dilakukan apabila ada masalah darurat yang dapat mengancam nyawa Ibu dan bayi.

Pada beberapa kasus, melahirkan lewat caesar dapat dijadwalkan atau direncanakan jauh-jauh hari sesuai keinginan Ibu.

Meski begitu, apa pun kondisinya, melahirkan dengan operasi caesar haruslah dipersiapkan dengan matang. 

Ketahui Persiapan Melahirkan Caesar 

Persalinan atau operasi caesar adalah cara melahirkan bayi melalui sayatan di perut bagian bawah dan rahim. Rahim adalah organ berbentuk seperti buah pir yang terletak di daerah perut bagian bawah (panggul) tempat bayi tumbuh selama kehamilan.

Kelahiran caesar terkadang lebih aman daripada persalinan normal bagi ibu, bayi, atau keduanya. Dokter terkadang memutuskan pada masa kehamilan bahwa operasi caesar akan diperlukan. Untuk itu, operasi ini akan dijadwalkan dan ibu bisa menjalani persiapan melahirkan dengan metode caesar secara khusus. Namun, dalam kasus lain, dokter bisa memutuskan saat tiba waktunya persalinan bahwa operasi caesar adalah cara terbaik untuk melahirkan bayi. Ini disebut operasi caesar darurat.

Ibu yang memang direncanakan menjalani operasi caesar mesti mengetahui sejumlah persiapan melahirkan dengan cara ini. Persiapan ini penting agar ibu tahu bagaimana prosesnya, apa saja risikonya dan bagaimana mengatasinya, serta bagaimana pemulihan setelah melahirkan.

Layaknya operasi lain, persalinan caesar dilakukan di ruang operasi. Ibu bisa menanyakan apa pun yang hendak diketahui kepada dokter atau perawat di rumah sakit tempat menjalani pemeriksaan kehamilan dan operasi caesar. Ibu setidaknya bisa menanyakan hal berikut ini: 

  • Apa yang harus disiapkan di rumah sebelum operasi 

  • Apa yang terjadi selama prosedur caesar

  • Apa jenis sayatan yang digunakan 

  • Berapa lama harus menjalani pemulihan di rumah sakit 

  • Tanda-tanda infeksi 

  • Bagaimana cara menyusui setelah operasi 

  • Apa yang harus diantisipasi setelah pulang ke rumah 

Kondisi Ibu Hamil Memerlukan Persalinan Caesar 

Meski ibu sudah membuat persiapan melahirkan secara normal, mungkin dokter tetap akan menyarankan persalinan caesar bila melihat kondisi kehamilan ibu. Operasi ini menjadi pilihan jika metode persalinan normal dianggap tidak aman bagi ibu, bayi, atau keduanya. Tanyakan kepada dokter Anda tentang semua opsi persalinan dan pertimbangkan untuk mendapatkan pendapat kedua jika ada waktu sebelum memutuskan operasi caesar.

Ibu hamil umumnya memerlukan persalinan caesar bila memiliki kondisi berikut ini: 

  • Disproporsi sefalopelvic, yakni kepala bayi terlalu besar untuk masuk melalui panggul ibu
  • Masalah persalinan, termasuk kegagalan persalinan atau persalinan lama
  • Makrosomia, yaitu ukuran bayi yang sangat besar
  • Infeksi ibu, seperti ibu dengan HIV atau herpes genital aktif
  • Kehamilan ganda, kehamilan dengan dua atau lebih bayi di dalam rahim
  • Solusio plasenta, yakni plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum bayi lahir
  • Plasenta previa, yaitu plasenta berada pada posisi abnormal, biasanya terlalu dekat atau menutupi serviks
  • Operasi rahim sebelumnya, termasuk pernah operasi caesar
  • Masalah dengan bayi, seperti detak jantung abnormal, masalah perkembangan (hidrosefalus atau spina bifida), atau posisi abnormal melintang atau kaki lebih dulu (sungsang)
  • Penyakit ibu yang parah, seperti ibu dengan penyakit jantung serius, toksemia, preeklamsia, atau eklamsia
  • Prolaps umbilikalis, yaitu tali pusar yang keluar melalui vagina sebelum bayi lahir
  • Fibroid atau pertumbuhan jaringan yang bukan kanker di dekat leher rahim atau bukaan rahim

Persiapan Kelahiran Caesar yang Perlu Diketahui 

Berbeda dengan persalinan normal, ada beberapa hal yang perlu diketahui mengenai persiapan kelahiran caesar, khususnya yang direncanakan. Berikut ini beberapa di antaranya: 

1. Tidak langsung dioperasi 

Meski operasi caesar sudah dijadwalkan, bukan berarti ibu akan langsung naik meja operasi begitu datang ke rumah sakit. Masih ada berbagai pemeriksaan untuk memastikan kondisi ibu dan bayi. Bila semua sudah siap, barulah prosedur operasi caesar dimulai. Manfaatkan waktu tunggu itu untuk menyiapkan mental dan menenangkan pikiran. 

2. Jangan makan berlebih 

Dalam operasi caesar, ibu akan diberi anestesi yang bisa menahan rasa ingin buang air besar. Bila makan berlebih, perut ibu bisa terasa kembung atau jadi sering mengeluarkan gas setelah operasi.

3. Siapkan tambahan perlengkapan 

Ibu yang menjalani operasi caesar harus lebih lama dirawat di rumah sakit daripada yang bersalin secara normal. Karena itu, mesti siapkan perlengkapan lebih banyak yang bisa digunakan untuk 4-5 hari. Misalnya pakaian ganti dan pembalut. 

4. Selalu ikuti instruksi untuk merawat luka 

Seusai operasi, fokusnya sekarang adalah pemulihan. Ikuti instruksi untuk merawat luka bekas operasi sebaik-baiknya. Dokter dan perawat akan memberikan tips bagaimana merawat luka yang benar agar cepat pulih. Makin patuh pada instruksi itu, makin cepat luka sembuh.

4. Water Birth 

Metode water birth bisa dibilang sangat berbeda dengan metode konvensional yang mana ibu menjalani proses melahirkan dengan berbaring di tempat bersalin. 

Keuntungan Melahirkan secara Water Birth

Melahirkan dengan metode water birth membawa beragam keuntungan. Berikut adalah di antaranya: 

1. Mengurangi rasa sakit 

Salah satu keuntungan metode water birth adalah dapat membantu mengurangi rasa sakit saat persalinan. Selayaknya mandi air hangat, melahirkan di dalam air hangat juga dapat membuat tubuh menjadi lebih rileks. Anda dapat bernapas dengan lebih teratur sehingga mampu meredakan nyeri kontraksi.

2. Lebih nyaman 

Proses melahirkan dengan metode water birth membuat Anda mengapung di dalam air dan membuat tubuh terasa lebih ringan sehingga lebih mudah untuk bergerak mencari posisi yang nyaman. Aturan yang perlu diingat saat menjalani metode persalinan ini adalah tetap menjaga lutut pada posisi lebih rendah dari pinggul.

3. Mempermudah proses persalinan 

Melahirkan di dalam air dapat membuat Anda lebih mudah untuk mengejan dalam posisi duduk atau jongkok sehingga mungkin untuk membuat proses persalinan menjadi lebih singkat.

4. Privasi lebih terjaga 

Melahirkan dengan metode water birth memberikan lebih banyak ruang pribadi, sehingga lebih leluasa dan nyaman. Sebagian wanita merasa lebih mampu mengendalikan tubuhnya saat berada di dalam kolam. Efek ini bisa makin terasa dengan menyalakan lampu redup dan menjaga agar ruangan tidak terlalu berisik.

Memahami Risiko dari Water Birth 

Meski memiliki banyak kelebihan, melahirkan dengan metode water birth juga ada risikonya. Risiko tersebut antara lain: 

1. Tenggelam 

Saat melahirkan di dalam air, selalu ada risiko tenggelam atau kekurangan oksigen bagi bayi yang baru lahir. 

2. Infeksi 

Saat mengejan, Anda akan menggunakan otot yang dipakai untuk mengeluarkan tinja ketika BAB, sehingga Anda mungkin bisa mengeluarkan tinja saat persalinan. Hal tak terduga saat persalinan ini merupakan sesuatu yang normal dan biasanya bidan akan segera membersihkannya.

Apabila Anda melahirkan dengan metode water birth dan hal ini terjadi, tinja mungkin bisa mengontaminasi air yang digunakan untuk persalinan. Bayi baru lahir bisa saja menelai air tersebut sehingga memungkinkan untuk terkena infeksi. 

3. Radang paru-paru (pneumonia

Meski belum didukung oleh hasil penelitian yang signifikan, bayi berisiko untuk terkena radang paru atau pneumonia jika Anda melahirkan secara water birth. Untuk mencegahnya, suhu air harus tetap terjaga pada kisaran 36−37 derajat Celsius dan bayi harus segera diangkat setelah lahir.

Pneumonia pada bayi yang terlahir dengan metode water birth biasanya berkembang pada 24−48 jam pertama. Salah satu penyebabnya adalah bayi menelan air yang telah terkontaminasi tinja. 

4. Sindrom aspirasi mekonium 

Risiko dari water birth berikutnya adalah bayi berisiko untuk terkena sindrom aspirasi mekonium. Kondisi ini terjadi ketika bayi sudah buang air besar sebelum lahir, dan cairan ketuban yang terkontaminasi kotoran dihirup oleh bayi sehingga menyebabkan masalah pernapasan.

Dokter dan bidan dapat mengenali hal ini ketika air ketuban pecah dan bercampur dengan mekonium yang umumnya berwarna hijau, kental, dan lengket.

Sangat penting untuk segera menghisap keluar cairan mekonium dari saluran pernapasan bayi begitu bayi keluar. Posisi ibu saat water birth harus disesuaikan agar tindakan ini dapat dilakukan segera. 

5. Kerusakan tali pusat 

Saat menjalani persalinan water birth, biasanya bayi akan segera diangkat ke permukaan. Namun, gerakan membawa bayi ke atas dengan cepat menimbulkan risiko robeknya tali pusat dan perdarahan, yang merupakan penyebab paling umum anemia pada bayi.

Water Birth Dilarang untuk Kondisi Tertentu 

Water birth memiliki beberapa keunggulan dan risiko. Ada sebagian wanita dengan kondisi tertentu yang sebaiknya tidak melahirkan dengan metode ini, yaitu: 

  • Berusia kurang dari 17 tahun atau lebih dari 35 tahun 

  • Sedang mengalami infeksi 

  • Mengalami komplikasi kehamilan, seperti pra-eklampsia atau diabetes 

  • Akan melahirkan anak kembar dua atau lebih 

  • Usia bayi prematur 

  • Posisi bayi sungsang 

  • Diperkirakan melahirkan bayi yang berbobot besar 

  • Memiliki kondisi yang mengharuskan proses melahirkan untuk dimonitor secara teratur dan tidak dapat dilakukan di kolam 

Hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Water Birth 

Jika Anda mempertimbangkan diri untuk melahirkan dengan metode water birth, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis sejak awal kehamilan. Anda juga harus mencari tahu rumah sakit mana yang dapat memberikan layanan tersebut.

Sebelum memutuskan untuk melahirkan dengan metode water birth, ada baiknya Anda mengetahui apa saja persiapan yang harus dilakukan. Berikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan: 

  • Pastikan Anda ditemani seorang bidan, dokter kandungan, atau tenaga kesehatan profesional selama proses persalinan. 

  • Pastikan kolam yang akan digunakan memenuhi standar dan tetap terjaga kebersihannya. 

  • Lakukan pengendalian infeksi yang sesuai. 

  • Pastikan Anda dan bayi akan diawasi dengan benar selama berada di kolam. 

  • Buat rencana untuk mengeluarkan Anda dari kolam jika terjadi komplikasi. 

  • Jaga temperatur air sekitar 36−37 derajat Celcius 

  • Minum air selama proses persalinan untuk menghindari dehidrasi. 

  • Cermat menentukan waktu masuk ke dalam kolam. Jika terlalu cepat, justru dapat memperlambat proses persalinan. 

Agar melahirkan dengan metode water birth berjalan lancar, upayakan untuk memilih tempat dan tenaga medis yang telah memiliki sertifikat untuk melayani persalinan water birth.

Dengan mengetahui berbagai jenis metode proses persalinan yang bisa menjadi alternatif pilihan untuk para calon ibu untuk melakukan persalinan. Dari beberapa metode persalianan tersebut tidak lepas dari kondisi ibu hamil yang akan melahirkan. Untuk itu lakukan pemeriksaan rutin kehamilan untuk mengetahui perkembangan dan kondisi kehamilan, serta nantinya dapat memudahkan proses persalinan dan meminimalisir risiko persalinan.

Sumber:

http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/08/Asuhan-Kebidanan-Persalinan-dan-BBL-Komprehensif.pdf

http://jsi.cs.ui.ac.id/index.php/jsi/article/view/545

http://www.ejournal.ijmsbm.org/index.php/ijms/article/view/52

Upaya Keselamatan Kerja Bagi Bidan dalam Pertolongan Persalinan dengan Alat Perlindungan Diri (Safety Measures For The Midwife In Aid Delivery By Means Of Personal Protection)

https://apps.who.int/iris/handle/10665/118996 https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/vacuum-extraction/about/pac-20395232 https://www.aafp.org/afp/2000/0915/p1316.html https://emedicine.medscape.com/article/271175-overview

https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000514.htm https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/forceps-delivery/about/pac-20394207 https://www.nhs.uk/pregnancy/labour-and-birth/what-happens/forceps-or-vacuum-delivery/ https://www.nct.org.uk/labour-birth/different-types-birth/assisted-or-complicated-birth/assisted-birth-ventouse-or-forceps-delivery

https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000509.htm

https://www.babycentre.co.uk/a546719/forceps-and-ventouse-assisted-birth

https://www.rcog.org.uk/globalassets/documents/patients/patient-information-leaflets/pregnancy/pi-an-assisted-vaginal-birth-ventouse-or-forceps.pdf 

Cesarean Section. https://www.healthgrades.com/right-care/c-section. Diakses 16 November 2021

Optimising the use of caesarean section: a generic formative research protocol for implementation preparation. https://reproductive-health-journal.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12978-019-0827-1. Diakses 16 November 2021

Safe Prevention of the Primary Cesarean Delivery. https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/obstetric-care-consensus/articles/2014/03/safe-prevention-of-the-primary-cesarean-delivery. Diakses 16 November 2021

Evidence-Based Cesarean Section. https://www.glowm.com/article/heading/vol-12–operative-obstetrics–evidencebased-cesarean-section/id/415553#.YZS0tmDP1EY. Retrieved 16 November 2021

Preparing for a caesarean birth. https://www2.hse.ie/wellbeing/pregnancy-and-birth/birth/caesarean-birth/preparing/. Retrieved 16 November 2021

Author: Allianz Indonesia
Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Kini Allianz Indonesia hadir untuk bisnis asuransi umum, asuransi jiwa, kesehatan, dana pensiun dan asuransi syariah yang didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta tertanggung di Indonesia.
Pilihan Artikel yang direkomendasikan