Perlukah Memiliki Asuransi Penyakit Kritis? Cek Dulu Pertimbangannya di Sini

by Allianz Indonesia | terakhir dibaca 28 Maret 2020 12:28:43 UNDUH BACA NANTI

Tantangan kesehatan saat ini jauh lebih berat dan kompleks dibandingkan beberapa dekade silam. Gaya hidup yang serba cepat, pola makan buruk dan tidak sehat, ditambah penurunan kualitas lingkungan hidup seperti polusi udara dan air, menjadi kombinasi buruk yang memicu kemunculan banyak masalah kesehatan serius. Salah satunya adalah penyakit kritis atau degeneratif.

Data Riset Kesehatan Dasar (Risdikes) Kementerian Kesehatan tahun 2018 mencatat, prevalensi tiga jenis penyakit kritis yaitu kanker, stroke dan jantung pada kelompok usia produktif yaitu usia 25-44 tahun semakin tinggi.

Penyakit stroke, misalnya, prevalensinya mencapai 1,4% pada usia 25-34 tahun dan 3,7% pada usia 35-44 tahun per 1.000 penduduk Indonesia. Di tingkat global, menurut catatan The Institute for Health Metrics and Evaluation tahun 2016, penyebab kematian terbanyak sejauh ini adalah penyakit berat seperti jantung dan stroke dengan persentase mencapai 32,3%.

 

Baca juga: Yuk, Memahami Asuransi Kesehatan sebelum Membeli 

 

Di sisi lain, peningkatan risiko penyakit kritis itu juga berimbas pada kenaikan risiko finansial. Pasalnya, penanganan penyakit kritis terbilang mahal. Biaya operasi bypass jantung, misalnya, bisa mencapai Rp300 juta. Tidak sedikit kasus penyakit kritis yang membuat kondisi keuangan sebuah keluarga berantakan karena terkuras biaya pengobatan. Bagaimana cara mengantisipasi risiko tersebut?

Lebih baik mencegah daripada mengobati

Ada banyak cara yang bisa kamu tempuh untuk mengelola risiko serangan penyakit kritis. Pertama, mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Kebanyakan kasus penyakit kritis muncul sebagai akumulasi dari gaya hidup kurang sehat yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Seperti merokok, makan junk food dan fast food, jarang olahraga, sering terpapar stres, dan lain sebagainya. Kamu bisa mengurangi risiko penyakit kritis tersebut sedini mungkin dengan memulai gaya hidup lebih sehat, yakni merutinkan olahraga, mengasup makanan sehat, menghindari stres, cukup beristirahat dan sebagainya. 

Kedua, mengantisipasi risiko keuangan dengan berasuransi. Mungkin kamu bertanya-tanya, apakah risiko finansial penyakit kritis bisa dilindungi dengan asuransi kesehatan biasa? Jawabannya tergantung jenis asuransi kesehatan yang diambil.

Ada asuransi kesehatan yang menjamin biaya pengobatan untuk penyakit kritis, tetapi ada juga asuransi kesehatan yang tidak menjamin biaya pengobatan untuk penyakit kritis.

Meski begitu, banyak juga produk asuransi kesehatan yang dilengkapi dengan manfaat tambahan (rider) berupa perlindungan penyakit kritis. Hal itu tentu akan mempengaruhi besar premi yang dikenakan pada nasabah.

Premi asuransi penyakit kritis memang biasanya relatif mahal. Maka itu, kamu perlu cermat sebelum memutuskan memiliki asuransi penyakit kritis. Berikut ini pertimbangan yang bisa kamu gunakan sebelum memutuskan:

Riwayat kesehatan keluarga

Risiko penyakit kritis lebih besar ditanggung oleh mereka dengan latar belakang keluarga pernah menderita penyakit serupa. Jadi, apabila di keluarga kamu pernah ada yang terkena penyakit kritis, bisa dibilang risiko kamu terserang juga lebih tinggi. Bila demikian, urgensi memiliki asuransi penyakit kritis menjadi lebih besar.

 

Baca juga: Kenali Berbagai Asuransi yang Tepat untuk Berbagai Tahapan Hidup

 

Gaya hidup sehari-hari

Seseorang dengan gaya hidup sehari-hari yang kurang sehat, niscaya memiliki risiko lebih tinggi terserang berbagai penyakit. Seperti apa gaya hidup yang kurang sehat itu? Di antaranya, bila kamu selama ini jarang berolahraga, sering mengonsumsi makanan instan, jarang makan sayur dan buah, sering begadang atau terpapar stres.

Turunkan risiko terserang penyakit dengan mengubah gaya hidup kurang sehat tersebut. Mulailah rutin berolahraga dan mengasup makanan sehat. Sebagai bentuk antisipasi risiko finansial, lengkapi asuransi kesehatan kamu dengan asuransi penyakit kritis.

Kesiapan finansial

Biaya pengobatan penyakit kritis tergolong sangat mahal yang bahkan bisa membangkrutkan keuangan seseorang. Bila kamu ingin mulai mempersiapkan kebutuhan finansial yang memadai untuk mengantisipasi risiko terserang penyakit kritis, cara paling mudah adalah dengan melengkapi kebutuhan proteksi dengan asuransi penyakit kritis.

Asuransi penyakit kritis akan memberikan penggantian biaya pengobatan ketika kamu tervonis penyakit berat tersebut. Untuk mendapatkan perlindungan tersebut, kamu cukup membayar premi sesuai ketentuan polis yang sudah disepakati dalam kontrak asuransi.

Bila kamu sudah memiliki asuransi kesehatan saat ini, kamu bisa menanyakan pada penyedia asuransi apakah bisa menambahkan rider berupa perlindungan critical illness. Bila tidak bisa, kamu bisa mempertimbangkan untuk memiliki asuransi penyakit kritis yang berdiri sendiri.

Memilih asuransi penyakit kritis yang tepat

Ada cukup banyak produk asuransi penyakit kritis yang mungkin sudah banyak ditawarkan pada kamu. Baik asuransi penyakit kritis yang berdiri sendiri ataupun yang muncul sebagai rider alias manfaat tambahan asuransi kesehatan. Bagaimana memilih asuransi penyakit kritis yang paling tepat sesuai kebutuhan? Yuk, simak beberapa pertimbangan penting berikut ini:

Jangkauan perlindungan

Sesuai namanya, asuransi penyakit kritis memberikan perlindungan terhadap penyakit-penyakit kritis. Tapi, sejauh mana perlindungan yang diberikan? Pastikan kamu memahami jangkauan perlindungan yang diberikan.

Termasuk di sini adalah, jenis-jenis penyakit kritis apa saja yang masuk dalam coverage perlindungan. Lalu, sejauh mana perlindungan diberikan: apakah perlindungannya diberikan sejak penyakit kritis di tahap awal atau ketika sudah memasuki tahap lanjut saja. Kemudian, seperti apa bentuk perlindungan yang diberikan: apakah berupa lump sum (santunan) atau penggantian biaya medis, dan sebagainya.

Yang pasti, kamu perlu ingat, semakin luas perlindungan penyakit kritis yang diberikan, premi yang dibebankan kemungkinan besar akan semakin mahal. Supaya tidak membebani keuangan pribadi, pilih asuransi penyakit kritis yang paling efektif melindungi.

Pilih perlindungan optimal

Asuransi penyakit kritis ada yang memberikan perlindungan hingga usia maksimal yaitu 100 tahun. Ada juga yang di bawah itu. Nah, walaupun kini semakin banyak kelompok usia produktif yang terserang penyakit kritis, bukan berarti kalangan berusia lanjut menanggung risiko lebih kecil. Justru, semakin tua usia, semakin tinggi pula risiko terkena penyakit kritis. Jadi, akan lebih optimal bila kamu memilih asuransi penyakit kritis dengan masa perlindungan maksimal.

Pahami aturan pengecualian

Setiap produk asuransi lazim memiliki aturan pengecualian. Untuk asuransi penyakit kritis, beberapa pasal perkecualian yang umum dicantumkan antara lain aturan survival period atau masa bertahan hidup si tertanggung sejak divonis penyakit kritis.

Ketika si tertanggung meninggal dunia akibat penyakit kritis sebelum masa survival period asuransi berakhir, polis asuransinya tidak bisa diklaim. Pilihlah asuransi penyakit kritis dengan masa survival period pendek sehingga perlindungan asuransi bisa segera berlaku.

 

Baca juga: Apa Saja, sih, yang Bisa Kamu Asuransikan? Simak di Sini

 

Cara bayar sesuai kondisi keuangan

Membeli asuransi penyakit kritis berarti kamu harus menyediakan anggaran khusus untuk membayar preminya. Ada asuransi yang memberikan opsi bayar bulanan, tiap triwulan, semester juga tahunan. Pastikan kamu memilih opsi pembayaran premi sesuai kondisi finansial supaya tidak memberatkan keuangan pribadi. 

Misalnya, bila pendapatan bulanan tidak memungkinkan untuk membayar premi bulanan, kamu bisa memilih opsi bayar tahunan dengan memanfaatkan pendapatan tahunan sebagai sumber dana. 

Dengan menimbang berbagai hal tersebut, risiko finansial akibat penyakit kritis bisa kamu antisipasi dan kelola dengan baik. Jadi, tunggu apa lagi?

Tentang penulis

Allianz Indonesia






Allianz Indonesia - Beranikan Diri

SmartLink New Flexi Account

Jaminan perlindungan jiwa seumur hidup, pasti dan maksimal. 

Selengkapnya

Explore Terkait

04 Juni 2018 15:13:31

Mana yang Lebih Baik, Asuransi Atas Nama Anak atau Orang Tua?

Tak jarang beberapa dari kita memilih untuk melindungi anak dengan membelikan polis asuransi atas nama anak. Lantas, apakah menjadikan anak sebagai Tertanggung atau Pemegang Polis adalah pilihan yang tepat?

13 Juli 2019 08:33:27

Jurus Mudah Mencari Asuransi yang Tepat untuk Orang Tua

04 Juni 2018 15:13:35

Apa itu Rider Critical Illness?