English
Halaman Utama
allianz.com
Download
Peta Situs
Cari

Follow Us  

Prospek Asia Setelah Krisis

Jakarta, 12 Mei 2010

 

Allianz menggelar konferensi pers di Jakarta hari ini dengan menghadirkan Chief Economist Allianz Group, Michael Heise, yang menyajikan studi baru tentang prospek ekonomi untuk Asia.

Negara pasar berkembang di Asia telah melewati krisis keuangan dan ekonomi jauh lebih baik daripada yang diprediksi setahun yang lalu, dan pada kenyataannya memainkan peran yang penting dalam menarik ekonomi dunia keluar dari krisis pada musim semi tahun lalu. Tahun 2009, pemulihan ekonomi secara bertahap menyebar ke seluruh wilayah. Data ekonomi pada kuartal IV/2009 menunjukkan dengan jelas bahwa pasar-pasar baru di Asia menutup tahun krisis 2009 dengan momentum ekonomi yang besar. Dan indikator ekonomi yang telah ditetapkan untuk kuartal I 2010 menunjukkan bahwa momentum itu terus berlanjut pada tahun ini. “Secara keseluruhan, kondisi umum untuk kelanjutan pembangunan ekonomi yang pesat akhir-akhir ini terlihat bagus,” ujar Michael Heise.

Pemulihan perdagangan dunia terus berlanjut cepat.   Setelah mengalami penurunan selama beberapa saat, persediaan barang memiliki kemungkinan meningkat lagi, memberikan dorongan baru bagi pertumbuhan. Selain itu,  berbagai paket stimulus pajak, yang akan berjalan sampai akhir 2010 di sebagian besar negara, akan terus memperkuat permintaan dalam negeri tahun ini. “Secara keseluruhan, kami mengharapkan pertumbuhan ekonomi riil 8,1% untuk seluruh wilayah di 2010. Tahun depan, pertumbuhan sebesar 7,3% mungkin akan kurang menonjol, terutama disebabkan karena paket stimulus yang telah dijalankan.”

Perihal kebijakan, tantangan yang dihadapi Asia tahun ini berkurang dibandingkan dengan tahun lalu. Pada tahun 2009, kebijakan ekonomi yang berfokus pada mengurangi dampak negatif dari krisis ekonomi dan keuangan global terhadap perekonomian Asia setiap negara. Pada tahun 2010 dan 2011, tantangannya adalah menyesuaikan kebijakan ekonomi negara-negara ini untuk mencerminkan lingkungan (global) baru. Yang pasti, ini akan dilakukan dengan menarik paket stimulus negara dan regulasi pendukung. Meski demikian, di sisi lain, struktur ekonomi harus disesuaikan sampai batas tertentu. Dengan penurunan ketidakseimbangan global sekarang, negara berkembang di Asia harus lebih fokus pada permintaan dalam negeri dan membatasi bidang ekspor jika mereka ingin terus  mencapai pertumbuhan yang kuat di masa mendatang. Tantangan-tantangan tersebut mendorong untuk lebih memperhatikan tidak hanya kebijakan moneter dan keuangan, tapi juga kebijakan nilai tukar.

Setelah paket stimulus telah melakukan tugasnya hingga akhir 2010, perekonomian Asia harus kembali ke kebijakan fiskal yang berkelanjutan yang mayoritas ditempuh oleh mereka untuk mengejar tahun-tahun sebelum krisis keuangan dan ekonomi.  Bagaimanapun, inilah disiplin fiskal yang memungkinkan pemerintah untuk mencapai respon yang cepat dan tegas dalam menghadapi depresi ekonomi dan mengatasi krisis dengan meningkatnya permintaan pemerintah terkait. Selain kembali ke disiplin fiskal, para pembuat kebijakan memiliki beberapa pilihan yang terbuka bagi mereka ketika tiba saatnya untuk menyesuaikan perekonomian yang mencerminkan lingkungan baru. Contohnya adalah untuk memperkuat stabilisator otomatis: perlindungan yang lebih baik untuk pengangguran bisa membantu menstabilkan perkembangan ekonomi dan memberikan kontribusi pada perbaikan struktur keamanan sosial tanpa mengorbankan keberlangsungan keuangan publik.

Meskipun kontroversial secara politik, kajian Allianz mengasumsikan fleksibilitas yang lebih dan yang menyebabkan apresiasi terhadap mata uang Asia. Untuk negara-negara yang bersangkutan, ini memang bisa membawa manfaat bagi perekonomian domestik. Pertama, terjadi peningkatan daya beli yang sejalan dengan apresiasi mata uang. Ini akan mendorong peningkatan konsumsi swasta dan juga permintaan domestik. Perekonomian di Asia juga akan mendapat manfaat dari penguatan mata uang mereka akibat penurunan tekanan inflasi karena hal ini dapat mengurangi harga barang impor dalam mata uang lokal. Dalam konteks keseluruhan dari perubahan yang dibutuhkan untuk model pertumbuhan Asia, sebuah fleksibilitas yang  bertahap dari nilai tukar akan menjadi kunci, dan yang paling penting, pelengkap efektif langkah lain untuk memperluas fundamental perekonomian Asia.

 

Indonesia

Diantara perekonomian negara-negara di Asia Tenggara, Indonesia, sejauh ini, adalah yang paling berhasil menangani krisis keuangan dan ekonomi. Selain kebijakan ekonominya yang terbuka, keberhasilan ini terutama berkat ketergantungan yang relatif rendah pada ekspor dan pasar domestik yang besar dan kokoh. Meskipun krisis, konsumsi swasta meningkat 5% tahun lalu, lebih dari setengah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan PDB 4,5% di 2009 hanya sekitar 1% lebih rendah daripada lima tahun sebelumnya. Selain konsumsi swasta, investasi cenderung memberikan momentum pertumbuhan yang cukup signifikan tahun ini di saat industri mengembangkan kapasitasnya untuk memenuhi pertumbuhan yang kuat dalam beberapa tahun terakhir. Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia cenderung meningkat sekitar 5,5% dalam arti riil pada 2010, sedikit melambat menjadi 4,7% tahun depan.

Kontak Pers

Agung Priambadha
Public Relations & Communications
Tel.: +62 21 52998848
Fax: +62 21 5253246
Email: Agung.Priambadha
@allianz.co.id