English
Halaman Utama
allianz.com
Download
Peta Situs
Catatan Legal
Cari

Follow Us  

Pandangan Investasi Indonesia 2012

 

 



DR. Bernd Gutting
Chief Investment Officer
Allianz Investment Management - Asia Pacific

Sebagian besar bursa saham dunia pada tahun 2011 ditutup lebih rendah, kecuali Amerika Serikat dan sebagian kecil Negara di Asia seperti Indonesia. Perekonomian Amerika Serikat terus menunjukkna tanda-tanda perbaikan, terlihat dari tingkat kepercayaan dan pengangguran yang lebih baik. Kami percaya bahwa momentum ini akan berlanjut di tahun 2012. Di sisi lain, krisis di zona Eropa semakin mengkhawatirkan, di mana isu-isu mengenai hutang anggota PIIGS serta rendahnya daya saing negara-negara Eropa selatan belum dapat ditangani dengan baik.

Sebagian besar bursa saham Asia menunjukkan return negatif pada 2011 yang disebabkan oleh tindakan penghindaran risiko besar-besaran secara global. Bursa-bursa Asia utara memiliki performa yang relatif lebih buruk daripada bursa negara-negara ASEAN. Bursa Asia utara lebih terkspos terhadap pengaruh dari sector-sektor siklis global yang terkena dampak krisis, dan juga perekonomian Cina, yang juga menunjukkan tanda-tanda penurunan performa pada paruh kedua 2011. Bursa saham Indonesia merupakan salah satu bursa dengan kinerja terbaik, di mana IHSG tumbuh sebesar 3,2%.

Indonesia menutup 2011 dengan dua berita penting. Pertama, peningkatan peringkat kredit yang diberikan oleh Fitch menjadi layak investasi, sebuah berita yang ditunggu-tunggu pasca krisis 1998. Bursa pendapatan tetap bereaksi positif, dengan turunnya imbal hasil dari SUN menjadi 6%, dua persen lebih rendah dari awal tahun. Kedua, disahkannya undang-undang baru mengenai pengadaan lahan oleh DPR, yang merupakan titik cerah bagi perkembangan proyek infrastruktur di Indonesia.

Prediksi bagi perekonomian Indonesia pada tahun 2012 tetap cerah, dengan pertumbuhan PDB diharapkan melebihi 6%, serta kepercayaan konsumen dan PMA yang baik. Kami sangat berharap UU pengadaan lahan akan membangkitkan siklus investasi dan belanja infrastruktur baru pada jangka menengah. Ini adalah hal yang sangat dibutuhkan melihat kondisi jalan-jalan yang sudah terlalu padat dengan kemacetan dan tingginya biaya berbisnis di Indonesia. Presiden Susilo bambang Yudhoyono mengerti pentingnya belanja infrastruktur dan telah menjadikan penerapan UU pengadaan lahan sebagai program yang akan dipercepat. Keberhasilan yang berkelanjutan pada bidang ini akan menjaga stabilitas perekonomian Indonesia untuk tetap berkembang dalam kondisi global yang kurang meyakinkan.

Bank Indonesia telah mulai melonggarkan kebijakan moneternya dengan menurunkan suku bunga Bank Indonesia sebanayak dua kali sejak November 2011. Kami percaya bahwa Bank Indonesia sudah siap untuk menurunkan suku bunga lebih rendah ketika kondisi makro ekonomi memburuk secara signifikan. Untuk inflasi, kami mengantisipasi adanya peningkatan harga konsumen pada paruh kedua 2012, sehubungan dengan rencana pemerintah untuk mencabut subsidi BBM bagi kendaraan pribadi pada April 2012. Implikasi dari kebijakan tersebut adalah meningkatnya tingkat inflasi secara tidak langsung akibat meningkatnya biaya transportasi dan logistik.

Untuk prospek investasi pada saham di tahun 2012, kami percaya bahwa investasi pada perusahaan-perusahaan konstruksi dan jalan bebas hambatan adalah langkah baik untuk memanfaatkan tingkat investasi yang lebih tinggi pada infrastruktur. Sektor lainnya yang kami anggap memiliki prospek baik adalah konsumsi domestik, media, otomotif, perindustrian, serta sektor lainnya yang diuntungkan oleh biaya pinjaman yang lebih rendah. Tapi kami tetap berhati-hati dengan ketidakpastian kondisi makro ekonomi dan penilaian terhadap bursa Indonesia yang sudah tidak begitu menarik dibandingkan dengan perkembangan luar biasa yang terjadi 3,5 tahun ke belakang. Dengan begitu, kami akan lebih berfokus pada saham-saham yang kurang aktif namun memiliki perbandingan risiko dengan return yang baik.

Kami akan berhati-hati dengan sektor energy dan batu bara pada jangka pendek mengingat lemahnya pertumbuhan ekonomi Cina dan negara-negara maju. Kami juga memprediksi akan terjadinya persaingan yang sengit antar bank, yang akan berdampak pada marjin bersih dan pendapatan operasional. Bank-bank besar, akan memiliki keunggulan dari bank kecil dengan persebaran cabang mereka yang lebih baik serta deposit yang lebih besar dan biaya pinjaman ynag lebih rendah.

Adapun untuk intstrumen dengan imbal hasil bunga, imbal hasil dari mata uang lokal sudah turun secara signifikan dan penurunan lebih lanjut dalam pandangan kami sangat kecil. Namun, mengingat imbal hasil yang relatif tinggi pada obligasi pemerintah serta  pembelian aktif oleh otoritas moneter indonesia,  kemungkinan terjadinya kenaikan harga yang tajam juga sulit untuk terjadi , khususnya untuk yang jatuh tempo lebih lama.

Rupiah bisa mengalami tekanan apabila investor asing kembali menjadi peka terhadap risiko. Kepemilikan asing dalam instrumen saham dan pendapatan tetap cukup tinggi dibandingkan dengan pengalaman sebelumnya. Imbal hasil obligasi bisa naik karena alasan yang sama. Kami akan melepas sedikit kepemilikan obligasi jangka pendek dan akan mengumpulkan obligasi pemerintah degnan jangka yang panjang untuk mengambil keuntungan dari kemungkinan terjadinya kenaikan harga. Kami memiliki pandangan positif terhadap obligasi “quasi-sovereign” dan korporasi yang berkualitas karena mereka masih menawarkan selisih keuntungan yang menarik dibandingkan dengan obligasi pemerintah.

 

 

Kontak Perusahaan

PT Asuransi Allianz Utama Indonesia
Allianz Tower
Jl. HR. Rasuna Said
Kawasan Kuningan
Persada Super Blok 2
Jakarta 12980
Indonesia
Tel: +6221-2926 8888
Fax: +6221-2926 9090
Email : Feedback@allianz.co.id

 

PT Asuransi Allianz
Life Indonesia
Allianz Tower
Jl. HR. Rasuna Said
Kawasan Kuningan
Persada Super Blok 2
Jakarta 12980
Tel: +6221-2926 8888
Fax: +6221-2926 8080
Email: 
Contactus@allianz.co.id